MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Jumat, 20 Mei 2016 15:04
Pasangan Tunanetra Ini Dimintai Tebusan Rp 50 Juta untuk Mengambil Anak Mereka Kembali
INGINKAN ANAK KEMBALi - Supian dan Marniah di rumah mereka.

Dua setengah tahun lalu, Marniah melahirkan Ahmad Fajri Al Firman, putranya melalui operasi caesar. Karena kelelahan dengan prosesi kelahiran dan keterbatasan inderanya, dia memberi pengasuhan anaknya kepada Mila. Dua setengah tahun kemudian, saat dia bersama suaminya akan mengambil Fajri kembali, permasalahnya sudah pelik. Rasa sayang sang pengasuh juga sudah tumbuh kepada anaknya.

=====================

Meski tak mampu melihat, tetapi pasangan tunanetra Supian, 48 dan Marniah, 28, merasakan derasnya kasih-sayang kepada Ahmad Fajri Al Firman, anak semata wayang mereka. Bekerja sebagai tukang pijit yang saling menopang dalam profesi, membuat mereka tak memungkinkan untuk mengasuh Ahmad Fajri di dua tahun awal pertumbuhannya.

Tetapi, rasa sayang itu tumbuh sedemikian besar. Rasa rindu kepada anak semata wayang yang kini diasuh orang lain tak tertahankan.

Karena itu, mereka kemudian bermaksud meminta kembali anak meraka yang diasuh Mila. Sang pengasuh menolak dan menginginkan dia tetap menjadi pengasuh. Dia beralasan, "anak kecil tidak baik diajak keliling untuk mencari pasien yang mau dipijat," kutip Uldani, adik dari Supian.

Selama penolakan itu, Supian dan Marniah hanya bisa menahan rindu. Puncaknya beberapa hari lalu saat pasangan itu ngotot ingin mengambil anaknya, akhirnya suami Mila, Talib, memberikan syarat harus ada uang tebusan sebesar Rp 50 juta.

"Tebusan itu untuk apa, padahal seluruh kebutuhan menggunakan uang kakak saya," ungkap Uldani.

Hanya bekerja sebagai tukang pijat keliling dan mendapatkan penghasilan tidak tetap, uang Rp50 juta dianggap terlalu besar oleh Supian dan Marniah. "Kami mendapatkan uang sebesar itu darimana? tiap hari kami belum tentu mendapatkan uang," kata Marniah, saat didatangi Radar Banjarmasin di rumah keluarganya di Kecamatan Sungai Tabuk.

Ia menuturkan, Mila selama ini selalu memeras mereka tanpa memperdulikan kondisi kehidupannya. Setiap hari Mila selalu minta jatah dengan alasan untuk kebutuhan anak mereka. "Karena anak kami diasuhnya, setiap hari kami selalu dimintai uang. Katanya anak kami minta mainan," ujarnya.

Lebih lanjut ia mengatakan, pemerasan dialaminya selama 2,5 tahun sejak Mila mengasuh anak mereka. Bukan hanya uang, Mila juga meminta kedua tunanetra tersebut membelikan ponsel. "Terhitung sudah empat HP kami belikan, katanya untuk anak kami," kata Marniah.

Marniah mengaku tak berani menolak permintaan Mila karena seringkali diancam bakal tidak dipertemukan lagi dengan anak mereka. "Kami juga tidak boleh melaporkan pemerasan tersebut kepada keluarga, ponsel kami sering diperiksanya untuk memastikan kami tidak menghubungi keluarga," ujarnya.

Selama ini mereka sangat menderita karena tak bisa hidup bersama anak. Bahkan saat ingin bertemu, Mila meminta mereka membayar terlebih dahulu. "Kalau mau ketemu anak, kami disuruh bayar Rp100 ribu. Yang namanya orang tua bayar berapa pun tak apa-apa asalkan bisa bertemu anak," ungkap Supian menambahkan.

Supian mengatakan, perlakuan Mila ke mereka sudah kelewat batas. Sehingga membuat mereka memberanikan diri membongkar kejahatan Mila yang sudah mereka pendam selama bertahun-tahun. "Selama ini kami takut, sekarang kami berani karena dia sudah kelewatan. Apalagi dengan meminta tebusan Rp50 juta," katanya.

Keluarga Mila sendiri gerah dan buru-buru mengklarifikasi. Mereka mengatakan tidak pernah melakukan pemerasan. "Kabar tersebut tidak benar, semua yang mereka katakan mengada-ada," kata Mila, kepada Radar Banjarmasin.

Kepolisian sendiri sangat hati-hati dalam menyikapi kasus ini. Kasatreskrim Polresta Banjarbaru AKP Abdul Mufid menuturkan kepolisian juga memerlukan alat bukti guna proses perkara. "Jadi kita tidak bisa menduga-duga, sebelum tahu bagaimana cerita sebenarnya," pungkasnya.

 Ketua RW 04 Komplek Palapa Yasir Arafat berharap agar permasalahan warganya tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan. "Jangan sampai masalah ini dibawa sampai ke ranah hukum, mari cari solusi dengan cara kekeluargaan," harapnya. (ris/by/ran)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 08:40

Menengok Pusat Produksi Rinjing di Nagara: Pernah Produksi Wajan Khusus untuk Haulan Guru Sekumpul

<p><em>Ibu rumah tangga pasti mengenal alat masak yang satu ini. Ya, wajan atau rinjing…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers