MANAGED BY:
RABU
03 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 16 Mei 2020 09:27
Bahan Menumpuk, Puluhan Baju Tak Diambil Pemesan
MENJAHIT: Mama Wahyu (45) melakukan kegiatan menjahit di rumahnya, kemarin. | Foto Karyono/Radar Banjarmasin

PROKAL.CO, Pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Hingga kemarin, wabah penyakit mematikan ini terus menjangkiti banyak orang. Kasusnya terus mengalami peningkatan setiap hari.

-- Oleh: Karyono, Batulicin --

Wabah Covid-19 memberikan dampak negatif bagi masyarakat. Pengangguran bertambah, penghasilan juga berkurang. Salah satu yang merasakan dampak pandemi Covid-19 adalah Wahyu Tailor yang beralamat di Kompleks Perumahan Bumi Datarlaga Blok T No 10 RT 12 Desa Kampung Baru Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Tanbu.

Sejak wabah corona mulai melanda Kabupaten Tanah Bumbu, Mama Wahyu (45) panggilan pemilik Wahyu Tailor mengaku mengalami penurunan pendapatan hingga 75 persen. 

“Kalau sebelum corona dalam satu bulan saya bisa saja mendapat penghasilan bersih Rp2 juta sudah dipotong modal,” ujarnya, kepada Radar Banjarmasin, kemarin. 

Jumlah pelanggan Wahyu Tailor sekitar 40-an orang. Hanya saja, rata-rata mereka menjahit lebih dari satu baju. Namun sejak 2 bulan terakhir usahanya macet. Puluhan baju yang sudah dijahit tidak diambil pemiliknya. Bahkan kain orang yang mau menjahit juga menumpuk.

“Alasan mereka nanti-nanti saja ngambilnya. Disini kain yang sudah berbentuk baju kantoran ada sekitar 20 lembar,” katanya. 

Selain itu, gara-gara wabah corona sudah sangat jarang sekali orang yang mau menjahit, apalagi warga kompleks menutup jalan masuk dengan portal.

“Banyak orang berduit yang menjahit ke tempat saya tidak mau masuk kompleks dengan alasan ada portal tadi,” jelasnya.

Akibatnya, selama 2 bulan terakhir pendapatannya turun sekali.

“Paling cuma Rp500 ribu sebulan. Saya tiap hari kerja menjahit baju tapi tidak banyak mendapat pemasukan,” sebutnya.

“Kadang-kadang mereka yang menjahit memang sengaja tidak mengambil baju walaupun ada uangnya. Mereka beralasan bajunya tidak dipakai juga karena masih bekerja di rumah. Sementara ada juga pelanggan yang mengerti dan membayar jahitan. Mereka datang untuk membayar dengan alasan kasihan sama saya sudah capek-capek menjahit,” papar Mama Wahyu.

Untungnya, kata Mama Wahyu suaminya bernama Fahim (49) bekerja sehingga bisa membantu kebutuhan hidup sehari-hari. 

“Penghasilan suami saya pakai dulu untuk modal usaha dan makan. Sementara saya juga harus membayar angsuran rumah, BPJS dan lain-lain,” terangnya.

Disebutkannya, modal usaha tidak bisa ditentukan, maksimal Rp2 juta, bahkan bisa sampai Rp3 juta. 

“Sebenarnya tergantung  modal dan kondisi fisik saya. Kalau modal banyak ya banyak juga bahan yang bisa dibeli,” ucapnya.

Wanita kelahiran Jember, Jawa Timur tahun 1975 ini mengaku sudah menjahit sejak umur 14 tahun. Setelah lulus Sekolah Dasar (SD), Mama Wahyu sempat ikut kursus menjahit selama 1 bulan. 

“Sejak lulus dari SD, saya tidak melanjutkan sekolah lagi. Saya ikut kursus menjahit selama satu bulan setelah itu membuka usaha sendiri di rumah. Awalnya coba-coba saja, eh ternyata langsung laris,” ujarnya.

Dari Jember, tahun 2013 merantau ke Tanah Bumbu dan mengontrak bersama suami dan anaknya di kompleks tersebut. Dia kembali membuka usaha menjahit.

“Allhamdulillah langsung banyak pelanggannya. Baru seminggu sudah banyak kenalan. Di Kalimantan orangnya baik-baik dan mudah bergaul. Saya baru menetap di rumah yang sekarang sejak tahun 2015 sampai sekarang,” paparnya.

Mama Wahyu berharap wabah corona cepat berakhir sehingga pekerjaannya bisa lancar lagi. (ram/ema)

loading...
BERITA TERKAIT

BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers