MANAGED BY:
MINGGU
09 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Rabu, 15 Juli 2020 17:22
Tekan Pengangguran, Investasi Perlu Didorong
DISKUSI VIRTUAL: Peserta diskusi Media Brief PWI Kalsel yang diikuti jurnalis dan pimpinan media di Kalsel secara daring, kemarin. Tema yang dibahas adalah RUU Omnimbus Law Cipta Kerja sebagai peluang terciptanya lapangan kerja baru. | Foto: PWI Kalsel for Radar Banjarmasin

PROKAL.CO,

Tekan Pengangguran, Investasi Perlu Didorong

BANJARMASIN - Ada pendapat menarik dari Guru Besar Ekonomi Bisnis Universitas Lambung Mangkurat Prof. Handry Imansyah. Ia menilai produktivitas pekerja dan buruh di Indonesia yang kalah saing dibanding negara tetangga, membuat pemerintah harus mendorong investasi baru. Salah satunya melalui RUU Cipta Kerja.

"Pertumbuhan ekonomi Indonesia jelas melambat dengan adanya pandemi Covid. Untuk memastikan pertumbuhan ekonomi terjaga ada dua cara, yakni dengan mendorong investasi baru secara kapital atau meningkatkan produktivitas pekerja. Kondisi saat ini, produktivitas pekerja dan buruh kita ini bermasalah. Jangankan di tingkat Asia, di tingkat Asean saja kita kalah saing," kata Handry yang menjadi narasumber dalam diskusi virtual yang digelar PWI Kalimantan Selatan, Rabu (15/7).

Menurut Handry, pertumbuhan produktivitas Indonesia sangat lambat hampir semua sektor usaha, sementara negara-negara lain justru unggul. Dari tahun 2010-2014, bahkan hanya beberapa sektor, seperti garmen, karet, dan plastik yang produktivitasnya bisa bersaing.

"Dari data pertengahan dekade ini, pertumbuhan produktivitas kita hanya dapat skor 0,4. Ini tertinggal dibandingkan Filipina (0,7), Malaysia (1,0), dan Singapura (1,3). Bahkan tren lima tahun terakhir Vietnam dan Kamboja sudah lebih superior produktivitas buruhnya dibanding Indonesia," kata Handry.

Guru besar ekonomi asal Kalsel ini juga menekankan bahwa dalam persaingan global ekonomi saat ini, para pekerja juga perlu melihat negara-negara tetangga dan saingan untuk menetapkan tuntutan. "Kalau kita hanya melihat kondisi di dalam negeri saja, ini seperti katak dalam tempurung. Kenyataannya, investor pasti akan masuk di negara yang produktivitasnya tinggi. Di Indonesia saat ini produktivitasnya rendah, upah pekerjanya juga lebih tinggi," kata Handry.

Halaman:

BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers