MANAGED BY:
SENIN
26 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Selasa, 01 September 2020 16:08
Bu Tejo dan Literasi Sosial
Haris Zaky Mubarak, MA, Sejarawan dan Direktur Jaringan Studi Indonesia

Fenomena Bu Tejo yang gampang bergosip ini menjadi kritik, sekaligus pengingat kita yang seringkali begitu mudah memberikan justifikasi dan penilaian dalam perspektif yang tak bijak terhadap setiap berita yang disajikan dan respons dalam berkomunikasi sosial. Dalam ruang analisa lebih jauh, ketidakbijaksanaan berkomunikasi sosial semacam ini dapat dipengaruhi karena adanya penggunaan media sosial yang salah dan lemahnya literasi sosial secara online.


Anomali Media Sosial

Menjadi hal yang tak dapat dibantah jika kecanggihan media sosial dan teknologi telekomunikasi sekarang telah mendorong kuat lahirnya perkembangan Post –truth (realitas pasca kebenaran) di tengah kehidupan masyarakat digital Indonesia. Post-truthatau realitas pasca-kebenaran telah menjadi isu popular sekarang ini. Hampir semua negara di dunia hari ini tengah antusias dalam membicarakan istilah ini terutama dalam komunikasi publik.

Dalam pengertiannya, post-truth didefinisikan sebagai situasi dikaburkannya publik dari beragam fakta-fakta objektif. Dengan demikian, Post - truthdapat dianggap sebagai kebenaran yang disamarkan. Dalam konteks sekarang ini, proses demokratisasi ruang publik dengan kemajuan media sosial telah memungkinkan semua orang leluasa berbicara kritis yang kemudian mendorong banyak perubahan fakta kebenaran. Sayang, melalui cara inilah kekaburan akan sebuah pemberitaan juga dapat dengan mudah terjadi.

Dalam analisa Fredal (2011), retorika dan omong kosong hadir untuk berbicara, tidak hanya membentuk dan memengaruhi komunikator, komunikan, kesepahaman, dan relasi keduanya, melainkan juga membangun elemen masing-masing secara berkelanjutan melalui negosiasi, dan menekankan sentralitas respons audiens.

Tidak adanya relasi dengan fakta, realitas, dan kebenaran di antara retorika menjadi ciri yang sangat berkarakter dari post truth. Hal inilah yang membuat orang dengan sangat mudah bergosip dan juga menggunjingkan kehidupan orang lain selayaknya karakter tokoh Bu Tejo. Gosip yang terlalu masif juga memungkinkan terjadinya destabilisasi fakta bahkan lebih jauh melahirkan kondisi delusional atau situasi yang seakan – akan sudah terjadi.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 26 Oktober 2020 14:50

Hilangnya Sentuhan Emosional Pembelajaran

Sejak ditetapkannya status pandemi Covid-19 hampir di seluruh negara di…

Senin, 26 Oktober 2020 14:47

Teknologi dan Manfaatnya

Arus globalisasi yang semakin maju dan ditopang derasnya informasi dan…

Kamis, 22 Oktober 2020 10:45

Johnny Digigit Hiu

"PANJANG umurlah para pendusta. Dan hiduplah kita dari bahaya." =========================Oleh: Muhammad…

Selasa, 20 Oktober 2020 15:44

Omnibus Law dan Kolonisasi Sejarah

Di tengah kelesuan ekonomi Indonesia akibat pandemi Covid-19, disahkannya Rancangan…

Senin, 19 Oktober 2020 16:23

Pentingnya Agens Hayati dalam Dunia Pertanian

Pestisida merupakan zat kimia yang digunkan untuk mengendalikan hama. Namun…

Jumat, 16 Oktober 2020 15:27

Konseling di Masa Pandemi Covid-19

Tentang kebijakan pelaksaan pendidikan di masa pandemi Covid-19, sebagai pandemi…

Kamis, 15 Oktober 2020 17:27

Upaya Penurunan Bebas Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pemilihan Pakan Ternak

Methan (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat…

Kamis, 15 Oktober 2020 17:25

Playlist Demonstran

SIANG ini (15/10), kabarnya aliansi BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) kembali…

Selasa, 13 Oktober 2020 13:27

Politik Uang dan Obral Janji Pelayanan Publik

Menjelang Pilkada serentak biasanya para politisi kita akan sibuk menyusun…

Selasa, 13 Oktober 2020 13:25

Mengukur Kekuatan Dewan Menolak Omnibuslaw

Omnibuslaw atau RUU Cipta Kerja sudah disahkan dan selangkah lagi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers