MANAGED BY:
KAMIS
23 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 10 September 2020 12:07
Hancurnya Negeri Karena Ketidakadilan, Bukan Karena Radikalisme (Catatan untuk Persidangan Despianoor)
Abdul Hafiz, Pengasuh Pesantren Al-Quran Darul Inqilabi Karang Intan Martapura

Jika kita saksikan kondisi masyarakat akhir-akhir ini, maka penyebab berbagai kisruh yang terjadi adalah karena hilangnya rasa keadilan, suap dan korupsi, bukan karena agama, syari’ah atau hal lain yang sering dipropagandakan sebagai radikalisme.

===================
Oleh: Abdul Hafiz
Pengasuh Pesantren Al-Quran Darul Inqilabi Karang Intan Martapura
===================

Rasulullah SAW pernah mengutus Abdullah bin Rawahah r.a. ke Khaibar untuk menaksir pembagian hasil panen kebun antara umat Islam dan Yahudi. Orang-orang Yahudi segera mengumpulkan berbagai macam perhiasan dari istri-istri mereka, lalu mereka mau menyerahkannya sebagai ‘hadiah’ (suap).

Mereka berkata kepada Abdullah bin Rawahah: ”Semua perhiasan ini untuk kamu, ringankanlah kami dan berilah tambahan pada bagian kami."

Abdullah bin Rawahah menjawab: "Wahai kaum Yahudi! Demi Allah, kalian adalah makhluk ciptaan Allah yang paling aku benci, meski demikian, kebencianku tidak akan membuatku berbuat lalim kepada kalian. Adapun semua perhiasan yang kalian berikan kepadaku sebagai suap, itu semua adalah haram, dan kami tidak memakannya." Mereka menjawab: "Dengan (keadilan) seperti ini, tegaklah langit dan bumi." (HR. Imam Malik).

Imam Bukhari juga meriwayatkan bahwa seorang perempuan telah mencuri setelah futuh Makkah. Kemudian kaumnya minta tolong kepada Usamah ibn Zaid r.a. untuk melobi Rasulullah agar membatalkan hukuman kepada wanita tersebut. Ketika Usamah r.a. menyampaikan maksudnya, berubahlah wajah Rasulullah karena marah, lalu Beliau pun bersabda: “Apakah kamu mengajakku berkompromi dalam satu hukum di antara hukum-hukum Allah?. Usamah pun menyesal dan berkata: “Mohonkan ampun untukku wahai Rasulullah.”

Kemudian Rasulullah SAW berpaling, lalu berdiri dan berkhutbah dengan memuji Allah kemudian bersabda: Amma ba’du, sesungguhnya hancurnya manusia sebelum kalian karena apabila ada yang mencuri dari kalangan bangsawan mereka, mereka membiarkannya, dan apabila yang mencuri dari kalangan lemah, mereka menegakkan hukum atas orang tersebut. Demi dzat yang diri Muhammad di tangan-Nya seandainya Fathimah anaknya Muhammad mencuri pasti aku potong tangannya.”

Jika hidup saat ini, mungkin Abdullah bin Rawahah akan digelari radikal, karena sikapnya kepada Yahudi: “Demi Allah, kalian adalah makhluk ciptaan Allah yang paling aku benci”, namun keadilan beliau menjadikan orang-orang Yahudi pun rela. Rasulullah pun mungkin akan dicap radikal, garis keras, tidak bisa diajak kompromi, hingga tetap bersikeras memotong tangan wanita tersebut.

Namun, keadilan lah yang menjadikan tatanan masyarakat menjadi baik, hingga orang-orang Yahudi memujinya. Keadilan akan terjadi jika terpenuhi dua hal: Pertama, memposisikan siapa saja sejajar di hadapan hukum, baik orang tersebut dicintainya atau dibencinya, anaknya sendiri ataupun anak musuhnya, menguntungkan dirinya ataupun merugikan dirinya. Kedua, hukum yang dijalankan adalah hukum Allah Ta’ala.

Jika ingin menyelamatkan bangsa ini dari kehancuran, maka keadilan inilah yang harus diperhatikan. Dan jika kita perhatikan dua hal terkait keadilan di atas, jika mau jujur kita akan jumpai bahwa kedua-duanya dalam kondisi bermasalah. Lihatlah kasus yang menimpa Despianoor, seorang guru honorer, ‘wong cilik’ di ujung Kalimantan Selatan ini dijerat dengan UU ITE, dituduh menyebar kebencian, padahal setelah saya cari dan lihat akun FB nya (https://web.facebook.com/despii.despii.77 dan https://web.facebook.com/despiiiiii) yang disampaikannya hanyalah tentang dakwah seputar khilafah dan syari’ah. Despi sudah ditahan, dan sedang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Kotabaru. Penulis sendiri hadir pada sidang ke-3 pada Rabu, 2 September 2020 (https://mediaumat.news/jadi-majelis-istigasah-puluhan-ulama-doakan-kebebasan-despi-di-halaman-pn-kotabaru).

Sementara lihatlah unggahan-unggahan Deny Siregar, Ade Armando, Abu Janda dll, sudah dilaporkan masyarakat namun ‘tidak ada’ tindakan yang berarti.

Lihat juga kasus Novel Baswedan dan kasus penyiraman air keras yang lainnya, maka siapapun yang masih bisa berfikir normal akan berkesimpulan bahwa saat ini ‘kesetaraan di depan hukum’ sedang bermasalah.

Adapun terkait hal kedua, yakni hukum itu sendiri, maka adil itu jika hukum yang dipakai adalah hukum Allah Ta’ala. Dalam Ibânat al-Ahkâm Syarh Bulûgh al-Marâm dijelaskan: ”Imam atau pemimpin yang adil adalah penguasa umum yang mengikuti perintah-perintah Allah Ta’ala, hingga ia menempatkan segala sesuatu di tempatnya tanpa kelebihan dan tanpa kekurangan.”

Jika dikaitkan dengan hal ini, maka postingan-postingan Despianoor justru sedang berupaya menyelamatkan bangsa ini, yakni dengan menyuarakan keadilan dalam hal yang kedua ini. Jika tidak ada yang menyerukan, dan penguasa dibiarkan memilih hukum selain hukum Allah Ta’ala, maka kerusakanlah yang akan senantiasa terjadi. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “… Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara mereka." (HR. Ibnu Majah dengan sanad Hasan).

Namun, dua hal yang akan mewujudkan keadilan hakiki tersebut bisa jadi akan menjadikan orang yang mengusahakannya dicap sebagai radikal, setidaknya oleh Rand Corporation, ‘The full imposition of shari’a creates a good and just society’ merupakan ciri-ciri radikal kata mereka [Cheryl Benard, Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies (Santa Monica, CA: RAND, National Security Research Division, 2003), h. 8.]. (*)


BACA JUGA

Kamis, 16 September 2021 15:58

Mitigasi

DI SETIAP persimpangan lampu merah di Banjarmasin, ada saja yang…

Sabtu, 11 September 2021 22:50

Yang Keliru dari Pesan Pandemi Kita

Yang paling rawan dalam penanganan pandemi di Indonesia adalah kemalasan…

Kamis, 09 September 2021 12:13

Terdengar Fals

TANGGAL 3 September kemarin, Virgiawan Listanto genap berumur 60 tahun.…

Selasa, 07 September 2021 13:25

Militer dalam Pandemi

Dari semua aspek terkait pandemi, keterlibatan polisi dan tentara dalam…

Kamis, 02 September 2021 17:06

Jam Malam

Jam malam membuat Banjarmasin pada pukul 10 sudah seperti lewat…

Senin, 30 Agustus 2021 12:48

Rahasia Ventilasi

Amang Madi, penjaga malam di lingkungan kafe mendatangi saya malam…

Sabtu, 28 Agustus 2021 11:12
The PPKM Story

Kuliah Online Bikin Bosan

Saya Ari Aditya Aryadi. Warga Banjarmasin yang kini sedang menempuh…

Sabtu, 28 Agustus 2021 09:23

Bukan Tukang Bubur

SEKITAR tahun 2015, Jawa Pos menurunkan rubrik anyar: Indonesia di…

Jumat, 27 Agustus 2021 17:34
PPKM STORY

Kecewa Tak Bisa Masuk Mall

Saya Sri Suhartini. Rabu Sore kemarin, saya ke mall sekeluarga.…

Rabu, 25 Agustus 2021 13:39
PPKM STORY

Bikin Spot Wisata Pribadi Selama PPKM

Nama saya Narwanto. Selain sebagai pedagang produk eceran di Banjarbaru,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers