MANAGED BY:
SELASA
22 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Senin, 14 September 2020 14:00
Efek Pilkada untuk Daerah
Haris Zaky Mubarak, MA, Sejarawan dan Direktur Eksekutif Jaringan Studi Indonesia

PROKAL.CO,

IKA melihat PDB (Produk Domestik Bruto) kita pada kuartal II (Q2) yang mengalami minus sebesar 5,32%, maka ekonomi Indonesia terus menunjukkan lesunya pertumbuhan, sejalan perekonomian dunia yang juga turut terkontraksi cukup dalam. Sejak kemunculan pandemi Covid-19 pada awal 2020, perekonomian sudah sangat terimbas keras akibat dampak besar. Terjadi gangguan terhadap pasar output dan pasar input, dimana banyak industri mengalami gangguan karena pasar jual beli dunia juga mendadak sepi.

=========================
Oleh: Haris Zaky Mubarak, MA
Sejarawan
Direktur Eksekutif Jaringan Studi Indonesia
=========================

Tantangan pandemi belum usai, tapi ketahanan ekonomi nasional juga perlu dijaga. Masih ada peluang ekonomi tumbuh; meski dengan catatan bahwa setiap realisasi dari berbagai program dan belanja pemerintah harus berjalan secara efektif dan sesuai rencana. Kebersamaan dan kerja pemerintah secara luas baik pusat dan daerah harus menjadi kunci keberhasilan program pemulihan ekonomi agar Indonesia dapat terhindar dari jurang resesi dan juga krisis ekonomi.

Sejalan dengan upaya pemulihan ekonomi Indonesia secara nasional, terhitung sejak hari Jumat (4/9), Komisi Pemilihan Umum ( KPU) telah menggelar tahapan pendaftaran calon kontestan Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada). Hadirnya kontestasi Pilkada di tengah pandemi Covid-19 dan pemulihan ekonomi Indonesia memberikan pertanyaan analitis untuk dijawab secara seksama. Apakah kontestasi Pilkada 2020 ini dapat memberi efek dan pengaruh yang penting terhadap perbaikan dan pemulihan ekonomi Indonesia akibat pandemi?


Kebijakan Politik

Secara sederhana dapat saja kita analisa bagaimana eratnya hubungan politik dalam ruang rasional perubahan ekonomi masyarakat. Dalam perspektif Perotti (1996) & Benabou (1996) yang pernah melakukan penelitian intens terkait banalitas politik dan perubahan ekonomi. Hasil yang diperoleh telah membuktikan bahwa faktor politik merupakan variabel kompeten menjelaskan pertumbuhan ekonomi. Adanya ketidakstabilan politik yang diukur melalui ukuran ketimpangan, nyatanya memiliki pengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi negara secara luas.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 07 September 2020 11:46

Menata Kembali Lembaga Independen

Pasca runtuhnya rezim Orde Baru tepatnya 22 tahun yang lalu,…

Sabtu, 05 September 2020 10:39

Subsidi Kuota Bukan Solusi Tunggal

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia telah berdampak secara signifikan pada…

Kamis, 03 September 2020 11:34

Geliat Maskapai Penerbangan Pasca-PSBB

PASCA berakhirnya aturan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) di sejumlah…

Kamis, 03 September 2020 11:33

Pilkada Banjarbaru: Antara Nama dan Kalkulasi Politik

POLITIK sepertinya tak memberi kesempatan untuk tanah di pusara Walikota…

Kamis, 03 September 2020 11:31

Merangsang Harapan

STIMULUS dan resesi menjadi istilah ekonomi yang paling sering disebut…

Selasa, 01 September 2020 16:08

Bu Tejo dan Literasi Sosial

Tokoh Bu Tejo dalam film pendek “Tilik” menjadi begitu fenomenal dalam…

Senin, 31 Agustus 2020 11:56

Menyoal Perwali Penegakan Hukum Protokol Kesehatan

Kota Banjarmasin merupakan salah satu daerah penyebaran Covid-19 yang cukup…

Jumat, 28 Agustus 2020 11:28

Antara Calon Tunggal dan Kotak Kosong

KEMELUT soal pencalonan kepala daerah selalu menjadi topik hangat di…

Jumat, 28 Agustus 2020 11:25

Sensus Penduduk September

KALIMANTAN SELATAN termasuk sebagai provinsi di Indonesia yang capaian Sensus…

Kamis, 27 Agustus 2020 11:52

Poros Sesat

BILA murid salah, guru akan meluruskan. Jika wartawan keliru, pembaca…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers