MANAGED BY:
KAMIS
09 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 15 Oktober 2020 17:27
Upaya Penurunan Bebas Emisi Gas Rumah Kaca Melalui Pemilihan Pakan Ternak
Penulis, Prof Dr Ir H Danang Biyatmoko, M.Si

Methan (CH4) merupakan salah satu gas rumah kaca yang dapat menyerap radiasi infra merah yang berkontribusi terhadap pemanasan global (Wihardjaka, 2011). Pemerintah melalui Perpres No 61 Tahun 2011 menargetkan penurunan gas rumah kaca (GRK) sebesar 0,008 gigaton tahun 2020 untuk sektor pertanian (Manggar etal.,2016).

=================================
Oleh: Prof Dr Ir H Danang Biyatmoko, M.Si
Guru Besar dan Dosen Pengajar Program Magister (S2) Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan ULM
=================================

Sektor pertanian menghasilkan GRK yang cukup tinggi, berupa gas CO2, CH4, dan N2O yang bertanggung jawab terhadap pemanasan global dan perusakan ozon. Kontribusinya dalam penambahan GRK nasional menempati urutan ketiga setelah sektor kehutanan dan sektor energi. Di antara produksi GRK gas methan paling besar diemisi sektor pertanian (Ernitha et al., 2015).

Pada sektor pertanian ini, sub sektor peternakan menduduki urutan kedua penyumbang emisi GRK setelah sawah dan yang terakhir adalah pembakaran sisa tanaman hasil panen (Boer, 2002). Menurut penelitian, sektor pertanian menyumbang 10-12% dari total GRK antropogenik terdiri dari gas N2O dan CH4. Sedangkan peternakan menyumbang 18-51% GRK antropogenik sebagian besar terdiri gas methan. Diprediksi emisi GRK terus bertambah di masa mendatang karena meningkatnya kebutuhan pangan sumber protein hewani dan penggunaan lahan marjinal.

Pada sub sektor peternakan, gas methan pada budidaya ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba, kambing) dihasilkan jauh lebih tinggi mencapai 91% dibandingkan gas methan pada unggas (ayam, itik, entog, puyuh, angsa) dan babi. Emisi gas methan terbesar ternak ruminansia berasal dari hasil fermentasi saluran pencernaan (enteric fermentation) dan sebagian kecil dari kotoran (manure). Gas methan yang diproduksi selama proses fermentasi dikeluarkan melalui eruktasi (sendawa) dan sebagian lainnya lewat pernafasan.

Produksi gas methan ternak ruminansia dipengaruhi oleh kualitas pakan. Laju konversi methan lebih besar apabila kualitas pakan hijauan semakin rendah. Pakan berkualitas tinggi menghasilkan gas methan lebih rendah dibandingkan pakan berkualitas rendah. Menurut Adam (2000), pada sistem pemeliharaan ternak ruminansia sistem pastura (penggembalaan) menyumbang 600 liter gas methan/ekor/hari, dan menghasilkan 540 liter gas methan/ekor/hari bila dipelihara secara intensif.

Saat ini industri peternakan budidaya, khususnya peternakan ruminansia baik sapi, kerbau, kambing dan domba sudah mulai mengintroduksi konsep pemberian pakan hijauan berdasarkan pilihan hijauan yang rendah gas methannya. Walaupun belum banyak tapi praktik konsep ini pada industri ternak mulai menggembirakan. Pemilihan jenis pakan ternak sangat menentukan besar kecilnya gas methan yang dihasilkan ternak untuk mengurangi emisi GRK.

Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian telah melakukan upaya edukasi agar peternak menggunakan hijauan rendah emisi gas (SariAgri.id, 2020). Tanaman pakan ternak seperti gliricidia, leucaena, kaliandra dan hijauan yang mengandung tannin dan saponin adalah jenis pakan yang rendah emisi methannya. Upaya ini selain bertujuan mengurangi gas methan, juga mengurangi karbondioksida.

Saat ini laboratorium Biokimia Nutrisi Fakultas Peternakan UGM juga mengenalkan teknologi Natural Methane Reducing dari pakan dedaunan yang mengandung tanin. Tanin merupakan zat aktif pada tanaman berfungsi menghambat produksi methan yang terdapat pada tanaman daun jati (Tectona grandis), kaliandra (Calliandra calothyrsus), dan mahoni (Swietenia mahagoni). Supaya mudah digunakan pada ternak maka dilakukan dengan proses pengolahan. Bahan kimia sintetis seperti antibiotik, terkadang digunakan untuk meningkatkan efisiensi konversi pakan pada sapi, namun penggunaan aditif ini tidak dianjurkan karena dampak negatif pada kesehatan manusia pengkonsumsi daging ternak tersebut.

Teknologi yang sama juga telah dikembangkan banyak negara produsen ternak, seperti Australia. Sejumlah bahan aditif dan suplemen pakan yang dapat menghambat methanogen dalam rumen digunakan berupa bahan kimia sintetis, suplemen dan senyawa alami seperti tanin dan rumput laut serta lemak dan minyak.

Pemberian rumput laut dalam pakan terbukti mengurangi emisi methan ternak hingga 80%. Di sisi lain lemak dan minyak cukup banyak digunakan pada sistem peternakan, dan telah menunjukkan pengurangan emisi methan sebesar 15-20%. Alternatif lain adalah dengan memberikan campuran nitrat pada pakan sapi potong. Namun penggunaan nitrat harus didampingi orang yang ahli karena dapat menyebabkan keracunan. Suplemen pakan efektif pengurang methan yang aplikatif dan banyak keberadaannya di tingkat peternak adalah biji-bijian, jerami, atau silase ditambahkan ke dalam makanan. Cara ini di Indonesia paling mudah untuk segera diintroduksi dan diadopsi oleh peternak tradisional dan semi intensif.

Melalui cara dan upaya di atas, maka selain sukses dalam budidaya ternak ruminansia dalam memproduksi daging sumber protein hewani bagi masyarakat, sub sektor peternakan mampu memberikan kontribusi positif dalam mengurangi emisi GRK utamanya gas methan. Dengan demikian di masa mendatang peternakan diarahkan menuju sistem usaha dan industri yang ramah lingkungan dengan tetap memperhatikan konsep kelestarian alam dan mendukung pengurangan GRK terkait pemanasan global. (*)


BACA JUGA

Sabtu, 04 Desember 2021 07:58

2022, Be Good To Us

Siap atau tidak, hanya beberapa pekan lagi kita akan memasuki…

Kamis, 02 Desember 2021 09:44

Rp29 Ribu

Di dalam bilik ATM, saya berseru mengucap tahmid, alhamdulillah! Saldo…

Kamis, 25 November 2021 12:57

Gara-Gara Kaus

KITA tak perlu khawatir kehabisan hari penting atau hari besar…

Kamis, 25 November 2021 11:32

"The Real Study" dalam Perspektif Agama Islam

Study atau belajar merupakan suatu kebutuhan, kewajiban dan hak setiap…

Kamis, 18 November 2021 12:02

Revolusi Beliau

Alam tak bisa bercanda. Kalau bisa, berarti selera humornya memang…

Kamis, 11 November 2021 07:30

Semangat Bela Negara dari Timur Indonesia

Oleh : Steve Rick Elson Mara, S.H., M.Han (Kader Intelektual…

Rabu, 10 November 2021 14:44

Mengelola Transformasi Papua: Belajar dari Masa Lalu, Menatap Masa Depan

- Oleh: Dr. Velix V. Wanggai, SIP., MPA (Staf Ahli Menteri…

Kamis, 21 Oktober 2021 10:28

Merapatkan Saf

Oleh Muhammad Syarafuddin DUA pekan terakhir, saya berkesempatan salat Jumat…

Kamis, 07 Oktober 2021 14:26

Arba Mustamir

Oleh Muhammad Syarafuddin ORANG Banjar menamai Rabu terakhir di bulan…

Rabu, 29 September 2021 12:37

Jembatan Basit

Pemerintah boleh berencana menamai jembatan alalak itu apa saja, tapi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers