MANAGED BY:
RABU
27 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Sabtu, 31 Oktober 2020 07:01
Pandemi dan Ketahanan Ekonomi Indonesia
Penulis: Haris Zaky Mubarak, MA

Pada masa ini harga barang ekspor Hindia Belanda mengalami penurunan drastis. Tak ada negara di dunia yang mau membeli barang ekspor dari Hindia Belanda. Sebab negara dunia juga terbelit masalah ekonomi serupa. Barang-barang komoditas menumpuk yang mengakibatkan banyak pabrik dan perusahaan nasional Hindia Belanda merugi. Banyak masyarakat yang kehilangan pekerjaan tetapnya di kota dan kemudian lebih memilih untuk pergi pulang kampung ke desa.

Sejak terjadi resesi ekonomi 1929, pemasukan Hindia Belanda ikut berkurang. Untuk menghemat pengeluaran, pemerintah kolonial terpaksa memotong gaji pegawainya. Akibat dari resesi ini, pengangguran dan gelandangan di kota terus meningkat. Di desa-desa petani kelimpungan karena mereka harus menampung banyaknya para transmigrasi yang ingin bertahan hidup dan mencari pekerjaan barunya di desa.

Sebagai solusi menghadapi resesi ekonomi akibat perang dunia pertama dan wabah pandemi, dalam catatan Verslag Handel en Nijverheid (1930) pemerintah Hindia Belanda akhirnya mengeluarkan kebijakan taktis melalui perubahan banyak skenario dari sistem kelola ekonomi nasional. Kebijakan taktis tersebut dilakukan dalam bentuk pengurangan pajak, membuka banyak kursus keterampilan, menyalurkan berbagai bantuan tunai dan kredit, serta mendorong lahirnya kedermawanan sosial (filantropi) masyarakat secara swadaya. Resesi ekonomi yang terjadi di Hindia Belanda sebagai akibat dari berbagai wabah pandemi baru berangsur hilang pada 1937 setelah melewati banyak program stimulus pemulihan ekonomi secara besar.

Mengutamakan Desa

Berkaca dari resesi ekonomi Hindia Belanda, dampak panjang dari sebuah wabah faktanya berpengaruh besar bagi rapuhnya sendi-sendi kehidupan ekonomi masyarakat. Kuatnya wabah Covid–19 pada situasi sekarang begitu mengganggu pemenuhan ekonomi masyarakat. Selama berlangsungnya wabah Covid-19 tak sedikit kalangan masyarakat yang akhirnya tak dapat bekerja dan menjadi korban pemutusan hubungan kerja atau PHK.

Pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19 ini sudah diprediksi oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah sedini mungkin mendeteksi kemungkinan adanya kelesuan ekonomi di tengah pandemi Covid-19, karena terjadi perlambatan sisi belanja masyarakat, investasi, dan perdagangan. Tapi sekalipun sudah dideteksi, pemerintah masih abai dalam menata lintas sektoral dari ekonomi nasional. Kita dapat lihat bagaimana selama masa pandemi,tak ada kebijakan strategis yang dilakukan pemerintah terhadap penguatan ekonomi desa.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers