MANAGED BY:
RABU
27 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Sabtu, 31 Oktober 2020 07:06
Antara Interaksi, Miskonsepsi, dan Dilema Tugas Mandiri
Penulis: Hafiz Anshari S.Si, S.Pd

Penulis yang merupakan guru di sekolah menengah atas, melihat rekan-rekan guru membentuk komunitas sosial digital dengan para siswa, saling bertukar informasi tentang moda pembelajaran online dengan sesama guru, dan meneruskannya kepada para siswa. Namun sisanya, pihak yang belum bersentuhan dengan ini (bisa jadi karena keterbatasan sarana dan fasilitas, atau hingga keterampilan TIK yang kurang), mengemukakan hambatan yang mereka hadapi.

Ditemukan fakta bahwa beberapa pengajar mengeluhkan kondisi jaringan yang kurang memadai, belum didapatkannya pelatihan terkait penggunaan unsur TIK dalam pembelajaran, materi yang dirasa sulit untuk diajarkan tanpa pertemuan tatap muka seperti biasa, hingga persepsi karakteristik usia siswa yang tidak semua cocok untuk penggunaaan TIK yang kompleks. Dari sisi siswa, terdapat keluhan akan keterbatasan fasilitas gadget, kuota internet, hingga motivasi belajar mandiri yang lebih rendah dibanding pembelajaran konvensional.

Salah satu permasalahan muncul ketika adanya keluhan yang beredar di media sosial dari kalangan siswa, orang tua, hingga pemerintah daerah sendiri. Fenomena seorang siswa yang gantung diri diduga karena mengalami stress akibat banyaknya tugas sekolah daring, menyita perhatian masyarakat.
Bisa jadi, kejadian ini hanyalah puncak gunung es dari tekanan psikis yang dirasakan para siswa yang mengikuti pembelajaran online di Indonesia. Melihat kasus ini, penulis setuju dengan pernyataan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo (jpnn.com/22 Maret 2020); “murid-murid jangan dibebani dengan tugas-tugas yang rata-rata, mereka komplain ke saya, bukan justru belajar metode daring, tapi guru memberi tugas-tugas yang banyak dengan “deadline yang mepet””.

Pernyataan itu bisa jadi muncul karena fakta di lapangan, banyak siswa terkejut dengan perubahan moda pembelajaran tatap muka yang berbeda dengan pembelajaran online. Atau bisa jadi muncul karena miskonsepsi tentang definisi pembelajaran online itu sendiri di kalangan pendidik. Miskonsepsi ini pun dapat mengarah pada instruksi yang rancu di kalangan stakeholder, sehingga tujuan pelaksanaan pembelajaran yang baik, justru menjadi masalah baru di masa darurat ini.

Penulis telah melakukan mini-survey tentang persepsi terkait pembelajaran online yang telah berlangsung beberapa hari sejak masa peliburan sekolah di Kalsel. Senada dengan pernyataan Gubernur Ganjar, mayoritas siswa menganggap pembelajaran online yang mereka jalankan tidak menyenangkan dengan banyaknya tugas mandiri. Beberapa guru yang diwawancara pun menjelaskan bahwa “pembelajaran online” yang mereka laksanakan adalah berbentuk pembagian tautan atau berkas berisi materi pembelajaran yang harus dipelajari secara mandiri oleh siswa dan dilanjutkan dengan pemberian tugas dengan tenggat waktu, yang semuanya dilaksanakan melalui Learning Management System (LMS) umum seperti Google Classroom, Edmodo, atau sekedar lewat Whatsapp Group bersama siswa. Mayoritas siswa tidak mendapat balikan tentang pekerjaan mereka tersebut, dan merasa tidak bersemangat untuk mengerjakan tugas-tugas online berikutnya.

Dari hasil ini penulis menyimpulkan bahwa kegiatan pembelajaran online yang diterapkan oleh sebagian responden pada masa darurat Covid-19 ini bukan merupakan pembelajaran online sebagaimana mestinya. Persepsi yang didapatkan oleh siswa justru pembelajaran online adalah rangkaian dari tugas-tugas mandiri, mempelajari materi yang belum mereka pahami secara mandiri, dan dikerjakan melalui moda online dan internet.

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers