MANAGED BY:
JUMAT
17 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 09 November 2020 11:27
Jamas Pusaka di Haul Raja, Melihat Maturi Dahar dari Dekat
MOMEN LANGKA: Beragam pusaka Kerajaan Banjar yang disimpan zuriat, dibersihkan dalam ritual di Makam Sultan Suriansyah, Kampung Kuin. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Maturi Dahar bukan sekadar ritual mengenang jasa leluhur. Di sini, para pencinta tosan aji dari berbagai daerah berkumpul. Bersilaturahmi sembari menjamas pusaka.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

KOMPLEKS makam Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara, Sabtu (7/11) malam, dirubung warga yang merapal zikir dan selawat.

Di hadapan mereka, tersaji berbagai penganan. Jumlahnya persis 41 macam. Di sudut lain, beralas kain putih, ada tungku berisi kemenyan.

Mengasapi puluhan pusaka yang berjejer rapi. Dari tombak, parang, badik hingga keris.

Seusai doa bersama, 41 penganan itu disantap bersama-sama. Pertanda acara itu telah tuntas.

Ketua Yayasan Restu Sultan Suriansyah, Syarifudin Nur menjelaskan, Maturi Dahar adalah syukuran atau selametan. Atas karunia iman sejak zaman Raja Banjar pertama, Sultan Suriansyah (memerintah tahun 1500 sampai 1540).

"Maturi Dahar juga media silaturahmi yang sakral antar zuriat dan masyarakat. Mengenang jasa leluhur atau pendahulu. Hingga pelestarian adat istiadat," jelasnya.

Maturi Dahar juga memiliki arti lain. Yaitu "memberi makan leluhur". Jauh sebelum Islam menyebar di tanah Banjar, ritual ini dahulu juga sarana tolak bala.

"Agar hidup masyarakat tenteram. Dahulu penganan ini disebut sesaji. Biasanya dilarung ke sungai atau laut," tuturnya.

Ritual itu kemudian disesuaikan dengan ajaran Islam. Diisi zikir, selawat dan doa. Penganan juga dinikmati bersama. "Menghindari mubazir hingga perbuatan syirik," tambahnya.

Malam itu, juga diperingati mangkatnya Sultan Suriansyah. Lewat jamas (pembersihan, pencucian) pusaka.

Dijamas dengan air kembang. Diolesi minyak khusus agar tak berkarat. Dan dikeringkan dengan diangin-anginkan melalui kepulan asap dupa.

Ritual itu menjadi tontonan masyarakat sekitar. Tapi bagi pencinta tosan aji di Kalsel, kegiatan ini sangat dinantikan.

Sejumlah pusaka kerajaan yang umurnya ratusan tahun, yang selama ini disimpan para keturunan, kini ditampilkan di depan publik.

"Saya baru pertama kali melihat yang seperti ini. Padahal, saya sudah puluhan tahun tinggal di Banjarmasin," ucap Ridhani, warga Jalan Sultan Adam.

Kembali pada Syarifudin Nur, Maturi Dahar biasanya digelar bergiliran dari rumah ke rumah zuriat. Khusus tahun ini dipusatkan di Kampung Kuin. "Insyaallah tahun berikutnya lebih meriah," tambahnya.

Adapun jumlah pusaka yang ditampilkan malam itu lebih dari seratus bilah. Tak hanya pusaka peninggalan kerajaan, tapi juga koleksi anggota komunitas Wasaka (Wasi Pusaka Banua) Kalsel.

Melihat gelaran itu, tersirat harapan. Nur berharap, seiring perkembangan zaman, warga tak melupakan sejarah dan budayanya.

"Tidak hanya mengenal Maturi Dahar sebatas ajang kumpul-kumpul. Karena ini momen memperingati sejarah. Apa saja yang dilakukan orang tua kita terdahulu," tutupnya.

 

Hapus Stigma Negatif dengan Cinta

 

Maturi Dahar bukan sekadar tontonan unik. Ada pesan yang ingin disampaikan kepada khalayak.

 

Komunitas Wasi Pusaka Banua (Wasaka) Kalsel yang turut berpartisipasi dalam ritual ini menginginkan, agar masyarakat memandang pusaka sebagai sebuah karya seni yang memiliki nilai sejarah.

 

"Bukan buat jago-jagoan," kata Yudhi, yang menjabat sebagai koordinator komunitas wilayah Banjarbaru dan Martapura.

 

Bahkan, komunitas ini juga bukan sekadar wadah kumpul-kumpul pencinta tosan aji. Ada misi, yakni sebagai penggerak pelestarian senjata atau pusaka Banua.

 

Salah satu tujuannya, agar para pemilik benda-benda pusaka berupa senjata tradisi tak lagi dipandang negatif.

 

Maklum, sejauh yang ia ketahui, ada banyak anggapan bahwa orang yang membawa senjata pusaka atau senjata tradisi, disebut jagoan alias gemar berkelahi.

 

Sejak 2009 silam, komunitas ini kerap menggelar pameran. Hingga memegang akta notaris dan resmi menjadi organisasi masyarakat pada 2014 lalu.

 

Wasaka juga membantu menyediakan informasi dan rujukan bagi warga yang tertarik memahami senjata tradisi.

 

Kesempatan bekerja sama dari museum coba dimanfaatkan. "Kalau masyarakat sudah cinta sama senjata tradisinya, stigma negatif pun menghilang," harapnya.

 

Dalam ranah ekonomi, komunitas ini membantu pengusaha tempa besi atau perajin sarung dan gagang senjata mendapat pesanan.

 

Salah satunya M Amin, orang datang ke tempatnya untuk dibuatkan senjata tradisi, contoh keris.

 

"Alhamdulillah, keberadaan komunitas juga membawa berkah tersendiri bagi orang-orang seperti saya," kata pria yang mendapat gelar kehormatan Empu Tosan aji Saradipa Kastadiraja dari Kesultanan Banjar itu. (war/fud/ema)

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…

Jumat, 03 September 2021 15:42

Kisah dari Tempat Pembuangan Akhir: Karena Tuhan Maha Adil

Gunungan sampah berarti gunungan rezeki. Hidung mereka sudah berhenti mengeluh.…

Selasa, 31 Agustus 2021 12:19

2.021 Nasi Bungkus Dimasak, PPKM yang Malah Disambut Gembira

PPKM yang satu ini memang beda. Singkatan dari Polisi, Pers…

Rabu, 18 Agustus 2021 08:26

Rayakan 17-an di Tengah PPKM, Remaja Kelayan: Tahun ini Lomba Bertahan Hidup

Kabar duka di tengah perayaan hari kemerdekaan. Data per tanggal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers