MANAGED BY:
SENIN
18 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 17 Juni 2016 19:26
Ekspedisi Islam Pesisir: 'Menyumpit Belanda sampai Raja Jin'
PAHLAWAN - Makam Datu Timang di samping Masjid Nurul Huda.

PROKAL.CO,

Nama adalah doa. Dan Jorong berarti tempat padi. Datu Timang memilih nama Jorong karena ia mendoakan kampung itu melimpah rejeki bagi penduduknya di masa mendatang.

============================================

JORONG berjarak sekitar 40 kilometer dari Pelaihari. Sebelum memasuki Kampung Jorong, kita akan disambut gerbang tua bertuliskan makam keramat Datu Timang. Gerbang itu sudah karatan dengan banyak huruf cetak yang tanggal.

Mencari makam Datu Timang terbilang gampang. Dari gerbang, cukup mengikuti jalan besar sampai tiba di Masjid Nurul Huda. Masjid yang dominan warna hijau muda ini peninggalan Datu Timang. Di samping masjid, berdiri kubah kecil tempat Datu Timang dimakamkan.

Tiba mendekati puncak siang hari, saya bergegas mengambil wudu untuk ikut salat Jumat berjamaah. Tentu sembari mencari-cari tokoh masyarakat yang bisa dijadikan narasumber. Usai salat saya bertemu Paidi, 46 tahun. Ia ketua pengurus masjid dan masih keturunan Datu Timang.

Iseng, saya menyinggung kondisi gerbang kampung yang tidak terurus. Ia menceritakan, sudah berkali-kali warga mengusulkan penggantian gerbang. Tapi belum juga ada tanggapan dari pemerintah. Melihat kondisinya warga khawatir gerbang itu sewaktu-waktu roboh dan meminta korban.

"Umurnya sudah lumayan, 10 tahun lebih. Kalau warga mengganti sendiri, khawatir jadi masalah. Yang bikin gerbang itu dulu Dinas Pariwisata setempat," ujar Paidi.

Beranjak pada pokok wawancara, Timang adalah potongan dari nama lengkapnya, Timanggung. Ia anak Dabung Dayu dari Suku Dayak Kenyah, lahir menjelang akhir abad ke-18. Sebagian Suku Dayak Kenyah di Kalimantan Timur memang sudah memeluk Islam setelah pertemuan dengan pedagang Arab pada abad ke-15.

Datu Timang lalu merantau dan bermukim di Tanah Laut. Sebelum menjadi perkampungan, Jorong dulunya adalah hutan lebat yang dihuni beruang, babi, dan menjangan. Penduduknya kebanyakan berasal dari Suku Dayak Biaju yang masih menganut kepercayaan animisme.

Kuburan penduduk awal ini masih ada di tepian sungai, sekitar 500 meter dari pemukiman warga. Tapi karena terkikis arus sungai, banyak diantaranya yang sudah hilang terseret arus atau tenggelam.

Dengan pembawaan yang senang bergaul dan mudah akrab, penduduk memberi mandat pada Timang untuk mencarikan nama bagi kampung baru tersebut. Di dalam hatinya, terbersit nama Jorong. Setelah berdoa, ia merasa mantap memilih nama tersebut.

"Jorong artinya tempat padi, tempat hasil alam yang melimpah. Baik dari tanah, sungai dan laut. Tempat orang mencari rejeki. Tempat tinggal penduduk yang banyak di masa mendatang," jelasnya.

Khalilullah, 51 tahun, warga yang sedari tadi asik mendengarkan memilih ikut nimbrung. "Sering dipanggil Datu Timang karena senang menimang anak kecil. Beliau sangat suka dengan anak-anak," ujarnya. Ia menuturkan, selain pendiri Kampung Jorong, Timang juga dikenal sebagai ulama yang gencar berdakwah.  

Mengingat pesatnya perkembangan Islam di Jorong, Timang mengajak masyarakat untuk membangun masjid. Diceritakan, tiang guru masjid itu dicari dan dipikul Timang seorang diri. Diberi nama Nurul Huda, masjid itu sudah berkali-kali dipugar. Arsitektur aslinya sudah hilang dan tampak seperti masjid kebanyakan.

"Konon, sewaktu pembangunan Masjid Sultan Suriansyah, Datu ikut membantu dengan memikul batangan ulin ke Kampung Kuin," tambah Paidi.

Melihat penjajah Belanda, Timang ikut berjuang. Senjata favoritnya adalah sumpit. Senjata berburu tradisional Dayak itu ringan, panjangnya antara 150 sampai 225 sentimeter. Didalamnya dimasukkan tamiang atau lamiang. Batang bambu kecil yang sudah ditajamkan dan direndam racun.

Namun, Timang tak berjuang sendiri. Ia berbagi daerah pertahanan dengan saudaranya. "Daerah pertahanan ini dihuni dua saudara beliau, Nyai Kembang dan Datu Ambawang. Serta sepupunya Datu Sujimat dan Datu Surip," rincinya.

Kependekaran Timang rupanya tak hanya mengundang lawan dari negeri seberang, tapi juga dari alam seberang. Dalam cerita rakyat, dituturkan Timang berjumpa dengan Warajin. Raja jin ini datang dari Sebangau melalui Margasari dengan membawa bibit purun (rotan). Timang meminta bibit itu untuk ditanam di Jorong. Warajin menolak, pertarungan pun tidak terelakkan.

"Kalah bertarung, Warajin menyerahkan semua bibitnya. Datu bersama penduduk lalu menanam bibit itu di daerah Murung Tahu dan Banyu Habang," tuntasnya. Warga Jorong percaya, inilah awal mula bibit rotan menyebar ke daerah-daerah di sekitar Jorong.

Dianugerahi umur panjang, Datu Timang wafat pada 10 Zulhijah 1331 Hijriyah atau tahun 1910. Makamnya tak pernah sepi dari peziarah. (war/fud)


BACA JUGA

Senin, 30 November 2020 11:18

Kota Tua Berjiwa Muda, Ketika Sarang Preman Disulap jadi Tongkrongan

Ini cerita orang-orang yang menyulap tempat sunyi menjadi ramai. Di…

Sabtu, 28 November 2020 12:47
Dari Pernikahan Wagub Kalsel Rudy Resnawan dengan Risnia Puspitasari

Risnia Sempat Dibawa Kunjungan Kerja ke Hulu Sungai

Sekitar dua tahun menduda, Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, Rudy Resnawan…

Rabu, 25 November 2020 11:56

Persembahan untuk Maestro, dari Pameran Membaca Misbach Tamrin

Dalam pameran bertajuk Membaca Misbach, dipajang 23 lukisan di Sanggar…

Sabtu, 21 November 2020 10:17

Pembaca Kartu Tarot di Banjarmasin: Hapus Stigma Negatif, Kerap Dicap Dukun

Membaca diri melalui kartu tarot tak ubahnya seperti sesi curhat.…

Sabtu, 21 November 2020 10:08

Sibuk Berkampanye, Ketemu Wakil Hanya Saat Debat

Pasangan Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Banjarmasin Hj…

Kamis, 19 November 2020 15:04

Terkulai Setelah Sumpitan Kedua, Monyet Liar ini Dievakuasi dari Pemukiman

Ketika jarum bius pertama mengenai pahanya, si monyet liar hanya…

Selasa, 17 November 2020 11:05

Hari Pertama Simulasi Pembukaan SMP: Antara Senang dan Khawatir

Tak ada tanda silang di bangku siswa, thermo gun telat…

Senin, 16 November 2020 11:17

Viral Dulu, Maaf Kemudian: Perayaan Hari Kesehatan Nasional yang Kebablasan

Puncak perayaan Hari Kesehatan Nasional menuai protes warganet. Kepala Dinas…

Jumat, 13 November 2020 11:41

Bernilai Ekonomis dan Ada Hal Mistis, Melihat Koleksi Bambu Unik Warga Desa Antasari

Bambu bisa digunakan untuk berbagai keperluan. Mulai dari membuat rangka…

Kamis, 12 November 2020 11:05

Kepala Badut Dipinjam Ngelem, Fenomena Badut Jalanan di Banjarmasin

Badut jalanan semakin marak di jalan-jalan kota. Memprihatinkan karena ada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers