MANAGED BY:
SABTU
31 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Jumat, 12 Februari 2021 14:42
OPINI
Masihkah Menyalahkan Alam?
Penulis: Ferry Irawan Kartasasmita

Begitu rentankah banua kita kini? Apakah sudah renta kondisi hutan hujan tropis di Pegunungan Meratus? Apakah sudah kritis lahan gambut kita? Sehingga tidak mampu lagi menampung air hujan dan mengering tandas tak bersisa saat kemarau?

Kemarau panjang, bumi Banua diuji dengan kebakaran lahan. Menimbulkan kabut asap yang mengganggu jarak pandang dan kesehatan pernapasan masyarakat. Saat berbeda, ketika fenomena La Nina hadir, banjir merendam. Meninggalkan duka, rusaknya rumah dan barang berharga, memutuskan jembatan, hingga gugurnya korban jiwa.

Haruskah ini akan menjadi rentetan kejadian yang akan terus berulang? Kebakaran lahan dan banjir bandang silih berganti mengisi hari-hari rakyat Banua yang telah terbebani kondisi ekonomi.

Di awal tahun 2020 lalu, bencana banjir besar dialami wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Kita lihat bersama, kejadian banjir dan tanah longsor tak hanya tentang soal alam, tapi karena terjadinya krisis ekologi. Pembangunan di Pulau Jawa, terutama di wilayah Jabodetabek diketahui telah melampaui daya dukung lingkungan. Luas area hijau semakin berkurang, tergantikan beraneka ragam permukiman dan bangunan-bangunan menjulang. Luas daerah aliran sungai semakin menyempit. Kondisi hulu sungai seperti di kawasan Puncak dan Bogor terus bertumbuh menjadi area vila dan permukiman. Terus apa yang bisa kita harapkan dari langkah yang semakin menjauh dari alam tersebut?

Dan kita tak belajar dari ini semua. Satu tahun tak menjadi sarana introspeksi untuk memperbaiki kondisi lingkungan. Tepat di awal tahun 2021, giliran Kalsel yang menerima dampak. Banjir bandang yang tak pernah kita kira terjadi seluas ini. Banyak mata menyorot beralih fungsinya lahan ke pertambangan dan perkebunan menjadi sumber masalah dari banjir yang tejadi.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyatakan, hasil analisis penyebab banjir bandang di Kalsel menunjukkan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2010-2020), terjadi penurunan luas hutan primer sebesar 13.000 ha, hutan sekunder 116.000 ha, sawah dan semak belukar masing-masing 146.000 ha dan 47.000 ha. Sebaliknya, area perkebunan mengalami perluasan yang signifikan sebesar 219.000 ha.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 26 Juli 2021 11:48

PPKM dan Quote Einstein

Pada saat menulis ini, Kalsel di ambang pembatasan lagi. Seorang…

Kamis, 22 Juli 2021 14:32

Daging Sapi

SAYA menyukai daging sapi, pada waktu bersamaan juga membenci lemak…

Kamis, 15 Juli 2021 14:29

PTM Mikro Darurat

BIASANYA, sebelum menulis suatu isu, saya sudah tahu harus menyampaikan…

Kamis, 08 Juli 2021 13:06

Kaset Pita

GENERASI kami dibesarkan oleh kaset pita yang bisa jamuran dan…

Sabtu, 03 Juli 2021 11:00

Mencegah Invasi Varian Delta di Kalsel

Varian Delta B.1.617.2 pada saat ini menjadi pusat perhatian dunia.Virus…

Jumat, 02 Juli 2021 15:04

Delta Force

SAMA seperti Anda, saya juga bosan dengan liga corona ini.…

Jumat, 02 Juli 2021 09:20

SKPP sebagai Aktivitas Literasi Demokrasi Kaum Muda

Perhelatan Pemilu Tahun 2019 dan Pilkada Tahun 2020 menyisakan beberapa…

Kamis, 01 Juli 2021 14:53

Daya Beli dan Gelombang Kedua Pandemi

Jumlah kasus positif Covid-19 mencapai dua juta orang, bukan sekadar…

Selasa, 29 Juni 2021 08:48

Mengenal Program Sekolah Penggerak

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan…

Kamis, 24 Juni 2021 11:07

Darurat Ular

PADA 13 Maret 1931, Niuwe Tilburgsche Courant menurunkan headline, 'Banjarmasin…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers