MANAGED BY:
KAMIS
23 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Selasa, 13 April 2021 12:32
Ngamar di Siang Bolong, Muda-mudi Digaruk; Pengamen dan Pengemis juga Tak Ketinggalan
DIDATA DAN DIBINA: Puluhan orang dewasa dan remaja yang terjaring razia pekat Satpol PP kemarin (12/4) siang dikumpulkan di mako Jalan KS Tubun. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

BANJARMASIN - Di luar kebiasaan, Senin (12/4) Satpol PP menggelar operasi penyakit masyarakat (pekat) di tengah siang bolong.

Ternyata, meski bukan tengah malam, belasan pasangan bukan suami istri terjaring di hotel-hotel kelas melati.

Total, 25 orang terjaring. Kebanyakan dewasa, adapula yang masih remaja. Mereka terjaring di Hotel Pelangi di Jalan Sutoyo S, Hotel Melayu di Jalan Kampung Melayu Darat, Hotel Rajawali di Jalan Kol Sugiono dan Filips Homestay di Jalan Kemiri.

Ada yang memang ngamar dan bukan muhrim. Ada yang baru bertunangan. Ada yang mengaku sekadar asyik-asyik. Adapula yang berdalih untuk menemui teman lama.

"Saya tadi cuma mau mengantarkan makanan," kata ML yang terjaring.

Ketika dikonfirmasi, Plt Kepala Dinas Satpol PP dan Damkar Banjarmasin, Ahmad Muzaiyyin mengaku hanya coba-coba menggelar razia pekat di siang hari.

Di luar dugaan, ternyata malah panen tangkapan. "Banyak yang tak bisa menunjukkan KTP atau bukti sebagai pasangan resmi. Pengawasan ke hotel dan losmen akan kami perketat lagi," ujarnya.

Soal sanksi, Kasi Bimbingan Penyuluhan Satpol PP, Rosmiati menambahkan, pasangan-pasangan ini didata. Diminta meneken surat perjanjian untuk tak mengulangi perbuatan serupa. Plus dipanggil orang tua atau kerabatnya sebelum diizinkan pulang.

"Agar keluarga yang bersangkutan mengetahui. Biar mereka menjadi jera," ujarnya.


Ditahan di Rumah Singgah Dinsos

Sebelum menyasar hotel dan losmen, paginya, Satpol PP sudah menangkap delapan orang. Dewasa dan anak kecil, pengamen dan pengemis.

Mereka diuber di kawasan Jembatan Merdeka, perempatan Jalan Lambung Mangkurat, lampu merah Pelabuhan Martapura Lama dan sudut-sudut Jalan Ahmad Yani.

Tidak ada perlawanan. Semuanya pasrah ketika dinaikkan petugas ke atas mobil patroli.

Seusai didata di mako Satpol PP di Jalan KS Tubun, mereka diantar ke Rumah Singgah Dinsos di Jalan Gubernur Subarjo untuk dibina.

Salah satu yang terjaring adalah HA. Ia kerap menawarkan lembaran fotokopi berisi doa-doa kepada pengendara. HA mengaku mengetahui bahwa itu dilarang pemko, tapi ia tak memiliki banyak pilihan. "Saya pernah melamar sebagai tukang cuci piring di rumah-rumah makan, tidak ada yang mau menerima," tuturnya.

Senada dengan AA yang mengamen bersama anaknya. Sebelumnya, ia bekerja menjaga warung di Lingkar Selatan. "Warungnya sudah ditutup bos. Saya tinggal berdua sama anak ini, jadi harus mencari nafkah," kisahnya.

Baik HA maupun AA baru kali ini merasakan terjaring razia Satpol PP. (war/fud/ema)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 08:40

Menengok Pusat Produksi Rinjing di Nagara: Pernah Produksi Wajan Khusus untuk Haulan Guru Sekumpul

<p><em>Ibu rumah tangga pasti mengenal alat masak yang satu ini. Ya, wajan atau rinjing…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers