MANAGED BY:
JUMAT
17 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 23 April 2021 15:50
Menu Berbuka Legendaris: Menuang Bumbu Diiringi Salawat
MENGAWAH: Nurhayati dan Suma’atun mengaduk bubur sabilal di halaman rumah Ani Arini di Antasan Kecil Timur, kemarin siang. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Bubur sabilal dikerjakan turun-temurun oleh satu keluarga. Dari sang nenek, sang menantu dan kini sang anak.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

Diberi nama bubur sabilal karena inilah menu andalan untuk berbuka puasa jemaah Masjid Raya Sabilal Muhtadin.

Yang pertama kali memasaknya adalah Siti Badariyah. Konon, ia sudah membuatnya sejak masjid di Pulau Tatas itu rampung dibangun tahun 1979.

Sepeninggalnya, pembuatan bubur ditangani sang menantu, Hj Sabah. Ketika ia wafat tahun 2020 lalu, berlanjut kepada anak bungsunya, Ani Arini.

"Dari cerita ibu, dahulu nenek mengenal pengurus pertama masjid. Dari sana diminta membuatkan bubur khusus untuk berbuka puasa," tutur Arini.

"Sejatinya, dulu bubur sabilal hanya dimasak untuk Masjid Sabilal. Seiring waktu, permintaan juga datang dari masjid-masjid lain," tambahnya.

Ramadan ini merupakan tahun pertama Arini menyediakan bubur sabilal. Tahun 2020 lalu, absen lantaran acara berbuka bersama ditiadakan karena pandemi.

Dari generasi ke generasi, cita rasa bubur tetap terjaga. Itulah mengapa takmir masjid tetap mempercayai keluarga ini.

Ditanya apakah ada resep rahasia? Arini mengangguk mengiyakan.

Dikunjungi di rumahnya di kawasan Antasan Kecil Timur kemarin (22/4) siang, perempuan 34 tahun itu tengah asyik menuangkan bubur panas ke dalam termos nasi. Uap panas membumbung, aroma harum pun tercium.

Karena jemaah masjid dibatasi untuk penerapan protokol covid, maka jumlah pesanan bubur pun dikurangi.

Biasanya seribu porsi per hari, kini hanya 600 sampai 650 porsi saja. "Kecuali untuk hari Jumat, Sabtu dan Ahad. Porsinya bertambah, bisa sampai 750 porsi," bebernya.

Kesibukan di dapur dimulai sejak jam 8 pagi sampai jam 2 siang. Arini dibantu para tetangga. Ada yang bertugas mencacah sayur, daging, pengaduk bubur, hingga penjaga tungku.

Arena memasaknya dua, di dalam rumah dan di halaman rumah. Melirik keluar ada Siti Nurhayati dan Suma'atun yang mengaduk bubur di wajan besar. Sedangkan Syamsudin bertugas menjaga perapian.

Perkara api sangat penting. Jangan sampai membuat bubur gosong, apalagi membuat wajannya bolong.

"Kalau gosong, bukan bubur lagi namanya," ujar Nurhayati geli.

Memang tak serepot dulu yang memakai kayu bakar. Sekarang sudah pakai tabung gas. Bedanya, elpiji lebih boros.

"Untuk satu wajan besar butuh satu tabung. Artinya, kalau sehari menanak lima wajan, maka perlu 5 tabung (ukuran 3 kilogram)," timpal Syamsudin.

Kembali pada Arini, ditekankannya, sebenarnya bubur sabilal adalah bubur ayam biasa. Perbedaannya pada bumbu rahasia yang dipakainya.

Disebut rahasia sekalipun, Arini bersedia bebagi. Sebenarnya, ini bumbu sop biasa. Perbedaannya hanya lama pengeringan. "Dikeringkan selama satu bulan. Begitulah yang diajarkan almarhum ibu dan nenek," jelasnya.

Begitu sudah kental, baru bumbu, sayur dan potongan daging boleh dimasukkan.

"Pesan almarhumah ibu, saat mencampurkan bumbu jangan lupa membaca basmalah dan selawat," ungkapnya.

Bubur kemudian dicampur dengan minyak samin. "Pas disajikan ke piring baru ditaburi abon, daun sop, suwiran ayam dan telur. Selesai," tutupnya

Ditanya kendala, menurutnya mutu wajan di pasar yang semakin menurun. "Baru 10 hari puasa, sudah tiga wajan yang bocor. Wajan zaman sekarang tak awet," tutupnya.

Tradisi Warisan Pendahulu

Berbuka puasa di Masjid Raya Sabilal Muhtadin dengan menyantap bubur ayam, telah menjadi tradisi puluhan tahun.

Menurut ketua umum badan pengelola masjid, H Darul Quthni, banyak warga yang bersengaja berbuka di sana karena merindukan buburnya.

"Karena mendapat respons bagus dari umat, akhirnya menjadi lestari," ujarnya kemarin (22/4).

Diceritakannya, memilih bubur ayam sebagai menu utama merupakan warisan para pendahulu. Dia berharap, berganti generasi takmir pun, menu bubur sabilal takkan tergantikan.

"Selain rasa yang sudah cocok dengan lidah, kami juga ingin menjaga warisan ini," tambah Quthni.

Warga Banjarmasin Timur yang rajin berbuka puasa di sini, Fajriansyah mengaku pertama kali mendengar bubur sabilal dari teman indekosnya.

"Saya kan perantau asal Kapuas, Kalteng," ujarnya. Ketika dicoba, oh ternyata benar. Berbeda dengan bubur ayam kebanyakan. Bumbunya lebih berasa. Taburan abonnya juga menggugah selera," tambahnya. (war/fud/ema)


BACA JUGA

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…

Jumat, 03 September 2021 15:42

Kisah dari Tempat Pembuangan Akhir: Karena Tuhan Maha Adil

Gunungan sampah berarti gunungan rezeki. Hidung mereka sudah berhenti mengeluh.…

Selasa, 31 Agustus 2021 12:19

2.021 Nasi Bungkus Dimasak, PPKM yang Malah Disambut Gembira

PPKM yang satu ini memang beda. Singkatan dari Polisi, Pers…

Rabu, 18 Agustus 2021 08:26

Rayakan 17-an di Tengah PPKM, Remaja Kelayan: Tahun ini Lomba Bertahan Hidup

Kabar duka di tengah perayaan hari kemerdekaan. Data per tanggal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers