MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 24 Mei 2021 15:15
Merawat Ingatan, Mengenang Jumat Kelabu
JUMAT KELABU: Aksi teatrikal peringatan kerusuhan 23 Mei 1997 dari aktivis Sanggar Titian Berantai Uniska, (23/5) sore di perempatan Jalan Lambung Mangkurat. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Ketika perbedaan pilihan politik, hoaks dan disinformasi mudah sekali memecah belah masyarakat, Jumat Kelabu bisa menjadi peringatan.

---

BANJARMASIN - Di bawah todongan senjata tumpul dan tajam, lelaki atau perempuan, yang mengenakan kaus kuning harus menanggalkannya.

Adegan nyata itu terjadi 24 tahun silam. Jumat, 23 Mei 1997, adalah putaran terakhir kampanye Golkar (sekarang Partai Golkar).

Karena hari itu jatah terakhir berkampanye, digelar konvoi besar-besaran. Massa dipustakan di Taman Kamboja, Banjarmasin Tengah.

Menuju lokasi, peserta pawai menggeber sepeda motornya sejak Jalan Pangeran Samudera. Raung knalpot rupanya mengganggu jemaah salat Jumat di Masjid Noor, kawasan Pasar Sudimampir.

Siapa yang menyangka ketersinggungan itu bakal berakhir dengan kerusuhan politik terbesar di Bumi Antasari?

Warga yang marah mengadang konvoi. Membubarkan mereka hingga membakar atribut partai.

Situasi kian memanas, dan entah dari mana tiba-tiba muncul massa yang bergerak ke arah pusat kota. Mereka menenteng senjata. Bahkan tak ragu merusak.

Kendaraan bermotor dan bangunan yang dilalui dibakar. Pada malam hari, pemadaman listrik kian menambah situasi mencekam.

Kenangan itulah yang diungkit dalam aksi teatrikal Sanggar Titian Berantai dari Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari (Uniska).

Sekitar 35 mahasiswa berjalan kaki dari Jalan Hasanuddin HM menuju Pasar Sudimampir dan berakhir di perempatan Jalan Lambung Mangkurat.

Di depan Hotel A, mahasiswa menggelar pertunjukan, orasi dan doa bersama. Berdandan seperti mayat hangus dengan tubuh dicat warna merah dan hitam, mereka berjalan lunglai mengikuti tabuhan gendang.

"Panas, panas!" teriaknya, "Tolong, tolong!"

Ketua Umum STB Uniska, Angga Triwahyudi mengatakan, tujuan aksi untuk merawat ingatan masyarakat. Pesannya, pentingnya persaudaraan di tengah perbedaan politik. Apalagi di tengah hiruk-pikuk pemilu seperti sekarang.

"Pesan ini juga kami sampaikan ke media sosial agar lebih luas," ujarnya.

Senada dengan mantan ketum tahun 2018, Liko Anshori yang menonton aksi tersebut. Menurutnya, aksi ini hadir pada momen yang tepat. Ketika warganet mudah sekali termakan atau terpancing isu.

"Kami tak ingin ada perpecahan. Tak ingin hal serupa (Jumat Kelabu) terulang," tegasnya.

Sementara itu, dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur menyayangkan, Jumat Kelabu yang dulu menarik perhatian media nasional dan internasional seakan terlupakan.

Akhirnya, tak ada pengusutan untuk menghukum para pelaku. Menurutnya, bisa terjadi lantaran Jumat Kelabu dianggap musibah biasa.

Keluarga korban takut melapor atau terpaksa merelakan. "Ada stigma bahwa yang hilang adalah perusuh, penjarah dan pencuri," jelasnya.

Mengipasi Api Reformasi

Tragedi Jumat Kelabu tak dibicarakan sesering kerusuhan Sampit, Poso, atau Mei 98 Jakarta. "Padahal dampaknya sangat buruk," kata sejarawan muda dari Universitas Lambung Mangkurat, Mansyur.

Berhitung kerusakan fisik saja, ada 21 mobil terbakar dan 12 mobil rusak. Sedangkan sepeda motor, tercatat 60 buah terbakar dan empat buah yang rusak.

Lalu ada kantor swasta, instansi pemerintah, dan bank yang selusin terbakar. Pertokoan dan tempat hiburan, 10 terbakar atau dirusak. Kemudian lima rumah ibadah, beberapa sekolah, panti jompo dan rumah penduduk.

"Ada sekitar 400 kepala keluarga yang kehilangan tempat berteduh dan sekitar 4.000 karyawan yang kehilangan pekerjaan," taksirnya.

Namun, yang terbesar adalah jatuhnya korban jiwa. Terdata 135 tewas, ditambah seratus korban luka. "Dan ada 164 orang dinyatakan hilang. Termasuk 304 ditahan," bebernya. Mengacu berbagai laporan, terdapat selisih yang besar terkait jumlah korban kerusuhan. "Sebagian besar yang meninggal dunia juga tak bisa dikenali karena hangus terbakar," tambahnya.

Dalam ingatan bersama, 23 Mei 1997 memiliki banyak nama. Dari kerusuhan Banjarmasin, amuk Banjarmasin, Banjarmasin membara, hingga Jumat membara. Tapi poin terpenting dari penjelasan Mansyur adalah, tragedi itu turut melemahkan rezim Orba.

Polanya hampir sama dengan kerusuhan 1998 di Jakarta yang melengserkan Soeharto. "Musababnya adalah ketidakpuasan rakyat terhadap penguasa," ujarnya.

Setahun kemudian, perubahan angin politik turut terasa di Banjarmasin. Di jalan raya dan kampus, spanduk-spanduk yang mendukung reformasi dipasang.

"Gejolak-gejolak di ibu kota diamati daerah dengan seksama, termasuk di sini," tambahnya. "Soeharto dinilai tak layak lagi memimpin bangsa yang sedang dilanda krisis," lanjutnya.

Ironisnya, reformasi pula yang mengalihkan perhatian publik dari Jumat Kelabu. "Fokus masyarakat teralih ke pentas nasional," tutupnya. (war/fud/ema)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 19:02

Misran, Pembakal Yang Jadi Pembicara Nasional

Berawal dari postingan video tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)…

Jumat, 17 September 2021 18:45

Sebentar Lagi Wisata Kampung Kuin Kacil Dibuka

Dulu Kuin Kacil cuma daerah terpencil di pinggiran kota. Sekarang…

Jumat, 17 September 2021 13:38

Shafa Nur Anisa, Putri Cilik Kalsel 2021 dari Tapin

Shafa Nur Anisa menorehkan prestasi membanggakan untuk Kabupaten Tapin. Ia…

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers