MANAGED BY:
SABTU
25 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 27 Mei 2021 16:23
Dari Peringatan Waisak di Banjarmasin, Pandita: Lalai Mengundang Musibah
MEDITASI: Umat Buddha di Banjarmasin mengikuti puja bakti Waisak dengan menerapkan protokol pencegahan COVID-19. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Mencintai sesama untuk membangun bangsa. Menghilangkan sifat-sifat yang tidak bermanfaat.

---

BANJARMASIN - Itulah pesan dari Kepala Vihara Dhammasoka, Saddhaviro Mahathera kepada seluruh umat Buddha di Banjarmasin.

Kemarin (26/5), vihara di Jalan Pierre Tendean itu memperingati Hari Raya Waisak 2565 BE secara sederhana.

Tahun lalu, Waisak diperingati secara daring. Tahun ini diberi kelonggaran, ada daring dan luring.

Agar mudah menjaga jarak, ruang ibadah hanya diisi 30 persen dari kapasitasnya.

Sebelum memasuki ruangan, diwajibkan mencuci tangan, kemudian menyemprotkan hand sanitizer. Selama beribadah, dilarang melepas masker.

Salah seorang yang hadir di vihara, Linda mengatakan, pandemi membuat suasana Waisak jauh berbeda. "Tapi tak mengurangi rasa khidmat," ujarnya.

Sementara itu, Pandita di Vihara Dhammasoka, Sarwadharma menjelaskan, ada tiga sesi ibadah.

Yakni sesi pagi untuk anak-anak. Sesi siang untuk remaja dan sesi sore (hingga puncak acara) untuk orang dewasa.

"Keseluruhan ibadah puja bakti Waisak dipimpin biksu Saddhaviro Mahathera. Pendampingnya adalah biksu muda Samanera Viriyaviro," sebutnya.

Meski dibolehkan, yang datang ke vihara bisa dihitung dengan jari. Sarwadharma mengatakan, pihaknya memang tak menyarankan umat untuk datang langsung.

Waisak bukan alasan untuk tak menjaga diri dan keluarga dari ancaman wabah.

"Menghadapi pandemi, sangat diperlukan kedisiplinan. Bukan hanya buat diri sendiri, tapi juga demi orang lain. Apabila lalai, musibah bisa menghampiri," jelasnya.

Perihal kesemarakan yang kurang, ia tak berkeberatan. "Yang penting, inti pesan Waisak tersampaikan. Pada dasarnya, Waisak bukan pesta dan keramaian, melainkan renungan," tambah Sarwadharma.

Dalam ibadah puja bakti, umat Buddha bermeditasi hingga detik-detik menuju Waisak.

Sebelumnya, ada pradaksina. Yakni berjalan mengitari patung Buddha sebanyak tiga kali dengan membawa bunga, dupa dan lilin.

Jika Waisak kebetulan berbarengan dengan fenomena alam gerhana bulan merah super, Sarwadharma merasa tak ada yang spesial.

"Kejadian itu merupakan bagian dari hukum dharma," tutupnya seraya tersenyum. (war/fud/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers