MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Jumat, 04 Juni 2021 14:40
Penembak Adalah Oknum Tentara, Tiga Orang Diamankan Polisi Militer
KONTROVERSIAL: Satpol PP menurunkan spanduk “Ambil Duitnya Jangan Cucuk Urangnya” yang ada di kawasan Kecamatan Banjarmasin Selatan. | FOTO: M OSCAR FRABY/RADAR BANJARMASIN

BATULICIN - Warung biliar Mama Aulia yang biasa ramai, kini sunyi. Garis polisi di depan warung, jadi saksi bisu penembakan sadis di sana.

Suasana Pal 7 Desa Sarigadung Kecamatan Simpang Empat kemarin masih menceka. Pun begitu, warga sediktinya dapat melepas kelegaan. Pelaku diduga penembak sudah berhasil diamankan tim Sub Denpom VI Batulicin.

Mengapa Detesemen Polisi Militer turun tangan? Kapolres Tanah Bumbu AKBP Himawan Saragih melalui Humas AKP H I Made Rasa mengatakan, melalui pemeriksaan mendalam, ditemukan petunjuk pelaku penembakan adalah oknum TNI.

Dan ternyata, Rabu (2/6) sore tadi, polisi militer sudah mengamankan tiga orang pria. Satu diduga pelaku penembakan. Informasi dihimpun, pelaku berasal dari Kompi B Yonif 623 Batulicin.

Kapolres menyerahkan langsung kasus tersebut ke TNI di Tanah Bumbu malam harinya. Berikut semua barang bukti. "Untuk informasi lain, silakan konfir ke Sub Denpom," kata Made.

Dikonfirmasi, Dansub Denpom VI Kapten Hartono mengatakan, dia sedang dalam perjalanan ke Banjarmasin. Wartawan ia sarankan meminta informasi ke Kodim 1022 Tanah Bumbu.

Dandim 1022 Letkol Cpn Rahmat Trianto melalui Pasi Intel Lettu Kuat Didik Suryono membenarkan. Adanya oknum TNI melalukan penembakan di warung biliar, Rabu (2/6) dini hari tadi.

"Sudah dibawa ke Banjarmasin," ujarnya.

Sayang Didik enggan membeberkan lebih detail. Dia hanya menekankan, ulah tidak terpuji itu perbuatan oknum. "Pelaku akan diproses. Kami pastikan itu," tegasnya.

Ditanya proses penangkapan, Didik mengatakan, pelaku diamankan di rumah. Tanpa perlawanan.

Hingga kini belum diketahui identitas pribadi pelaku. Informan Radar Banjarmasin mengatakan, senjata yang digunakan pelaku bukan rakitan. Alias resmi milik negara. Peluru kaliber 5,56 merupakan timah umum yang biasa digunakan TNI dan Brimob.

Sulitnya mengungkap identitas pelaku, salah satunya karena merupakan anggota Kompi. Satuan ini biasa terdiri dari anggota-anggota junior. Berbeda dengan anggota di Kodim, yang lebih senior dan aktif bermasyarakat.

Beberapa penjaga warung biliar juga enggan mengungkap identitas pelaku. Namun ada dari mereka membeber, bahwa sekali dua terlihat oknum anggota ke sana main biliar sambil membawa senjata. Masih muda orangnya.

Bagaimana miras jadi hal biasa di warung biliar? Seorang pemilik warung mengatakan, memang ada yang jualan barang haram itu. "Tapi tidak semua. Tapi ada memang yang jual," katanya.

Cekcok karana pengaruh miras pun acap kali terjadi. Biasanya cekcok itu antar pengunjung. Mulai masalah berat sampai hal sepele seperti: lirikan mata yang tajam. Bisa berujung baku hantam.

Warung-warung biliar di Tanah Bumbu lumayan banyak. Mereka berada di tepi jalan poros yang ramai lalu lintasnya. Kehadiran warung ini, sebenarnya membantu para pengendara yang kelelahan malam hari. Melepas lelah dan minum kopi. Namun fungsinya kemudian berubah jadi tempat hiburan, ada biliar dan ada yang punya room karaoke.

Karaoke di warung pinggir jalan itu jadi alternatif mereka yang enggan hiburan di pusat kota. Selain juga harga sewa ruang nyanyinya yang jauh lebih murah.

Selain arah ke Kandangan, warung-warung sejenis juga tersebar di jalan provinsi arah ke Kotabaru dan Kaltim. Kabar cekcok juga acap terjadi di warung kabupaten tetangga, sajam hal biasa diperlihatkan pemuda yang naik pitam.

Bisnis yang begitu rawan karena berada di daerah sepi itu tetap ramai pekerja. Rahasianya ada di penghasilan mereka yang besar. Satu pekerja sebulan bisa mengantongi hingga Rp3 juta ke atas. Itu bersih, karena makan dan tidur dijamin pemilik warung.

Kehadiran para pekerja yang biasanya wanita belia itu menjadi magnet tersendiri. Semakin cantik penjaganya, semakin ramai warungnya. Pesona itu membuat para pria rebutan cari perhatian. Nah, marah-marah dan sok jagoan adalah salah satu alat cari perhatian.

Seperi diberitakan sebelumnya, Hendri Jaya (24) tewas ditembak peluru saat berusaha membela istrinya yang disiram miras oleh pengunjung. Istrinya yang menjadi penjaga warung biliar menegur tiga orang pemuda yang asik berpesta miras hingga pukul 03.00. Namun mereka menolak untuk pulang.

Saat subuh sudah hampir tiba. Warung-warung lain sudah hampir semua tutup. Tapi seorang pemuda menolak untuk pulang. Dia marah. Dan meminta lagi sebuah teko, untuk mengoplos miras.

Raudah menolak. Pemuda makin marah, dan menyiram air miras dari gelas yang dia pegang ke tubuh Raudah. Melihat itu, Hendri yang sudah menunggu Raudah di luar jengkel akhirnya naik pitam. Dia marah. Dan terjadilah perkelahian di dalam warung.

Bak buk bak, entah siapa memukul siapa. Yang jelas tibalah kejadian di luar nalar itu. Cepat tanpa diduga. Seorang pemuda lainnya mengambil senjata laras panjang, menembakkannya ke tubuh Hendri.

Pemuda malang yang bekerja jadi buruh harian itu mencoba kabur. Tapi di luar warung, di pinggir jalan dia kembali ditembak. Warga mendengar ada lima kali ledakan memekakkan telinga terdengar.

Raudah menangis dan menjerit. Bersama warga dia membawa tubuh bersimbah darah Hendri ke Mapolsek Simpang Empat. Sampai di Mapolsek Simpang Empat, polisi yang piket segera melarikan korban ke RS milik pemerintah Andi Abdurrahman Noor, lebih jauh jaraknya daripada RS swasta Marina Permata. Sampai di Andi Abdurrahman, Hendri dinyatakan meninggal.(zal/ran/ema)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 08:40

Menengok Pusat Produksi Rinjing di Nagara: Pernah Produksi Wajan Khusus untuk Haulan Guru Sekumpul

<p><em>Ibu rumah tangga pasti mengenal alat masak yang satu ini. Ya, wajan atau rinjing…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers