MANAGED BY:
SABTU
18 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Rabu, 13 Juli 2016 12:39
Catatan Liputan di Balik Ekspedisi Islam Pesisir: Diadang Medan Berat, Minim Informasi Sejarah
DI PESISIR - Penulis bersama All New Honda Supra GTR 150 ketika berada di kawasan Pantai Angsana, Tanah Bumbu. Salah satu kerajaan yang cukup masyhur dulunya pernah berdiri di wilayah ini, namanya Kerajaan Sebamban yang didirikan oleh Pangeran Syarif Ali Al Idrus.

PROKAL.CO, Menempuh jarak hampir dua ribu kilometer selama 31 hari, Ekspedisi Islam Pesisir menghasilkan 28 seri liputan. Tulisan berikut ini bukan seri ke-29, tapi cerita-cerita kecil dibalik layar ekspedisi.

---------------------------------------------------------------------------

SYARAFUDDIN &WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

---------------------------------------------------------------------------

DIMULAI sepekan sebelum Ramadan, persiapan ekspedisi kami buat seringkas mungkin. Ransel diisi pakaian ganti yang dalam kondisi normal hanya cukup untuk tiga hari. Tapi dalam kondisi ekstrem bisa dipaksakan untuk dua sampai tiga pekan.

Untuk peralatan liputan kami menjejalkan satu laptop, dua bodi SLR, lensa normal 50 mm dan lensa lebar 11 mm, ditambah tenda lipat. Selebihnya, makanan darurat seperti roti tawar dan air mineral. Alasannya sederhana, kami ogah tergopoh-gopoh menjinjing terlalu banyak tas selama liputan.

Dibanding ekspedisi pertama, Ekspedisi Islam Banua pada Ramadan 2015 yang mengelilingi 13 kabupaten dan kota, ekspedisi kali ini hanya melintasi empat kabupaten. Barito Kuala, Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kotabaru. Tapi salah besar mengira ekspedisi kedua lebih mudah.

Penyebab pertama, banyak lokasi bersejarah yang kurang masyhur di daerah pesisir Kalsel. Mengandalkan internet untuk mencari informasi terbukti tak banyak berguna. Kami banyak terbantu dari informasi kawan-kawan wartawan yang sudah lama ngepos di empat kabupaten tersebut.

Kedua, medannya sungguh edan. Pada awal ekspedisi di Batola, belum apa-apa kami sudah disambut terjalnya medan. Saat menuju situs bumi hangus Patih Muhur, kami menerobos jalan sawah dan menyisir Sungai Barito yang sunyi selama satu jam. Treknya merupakan ujian berat bagi pantat.

Di Kotabaru, perpindahan dari satu lokasi ke lokasi liputan lain bisa memakan waktu belasan jam! Jalan rusak berat di pedalaman Kalimantan bukan kisah baru. Karena lamanya perjalanan tak jarang harus menginap di rumah penduduk, masjid, hingga tidur di alam terbuka seperti pantai.

Beruntung, sponsor ekspedisi Trio Motor Honda meminjamkan New Honda Supra GTR 150. Sepeda motor bebek dengan spesifikasi touring. Turunan-tanjakan, jalan pasir, berbatu dan tanah liat bisa dilibas dengan mudah.

Sponsor lain, Telkomsel juga terbukti juara. Pada beberapa lokasi, sinyal internet kembang-kempis. Tapi dengan paket data Telkomsel, foto dan tulisan ekspedisi bisa dikirim dengan selamat memenuhi deadline ke meja editor di Banjarmasin.

Namun, dari semua itu, kami meyakini bantuan terbesar datang dari Allah. Sebelum memulai ekspedisi, banyak yang memperingatkan agar kami meluruskan niat. Ekspedisi bukan ajang untuk pongah-pongahan. Tapi menyajikan liputan yang bermanfaat untuk pembaca.

Di titik terakhir dan terjauh ekspedisi, Tanjung Mangkok di Pulau Sebuku, belum terbayang siapa narasumber yang harus ditemui. Tak disangka, selagi berbuka puasa di warung dekat dermaga feri penyeberangan, Wahyu bertemu dua keturunan Andi Pelle, pendiri perguruan Elang Samudera.

---------- SPLIT TEXT ----------

Namanya Hj Rusdiana dan Ahmad Lamo. Selain menjadi narasumber, Lamo menyediakan tempat menumpang tidur. Ini hanyalah satu contoh. Kejutan kemudahan serupa terus terulang sepanjang ekspedisi. Kami yakin ini bukan keberuntungan atau kebetulan belaka.

Selain perkara niat, kami juga diingatkan soal adab. Dalam petuah Banjar dinyatakan, "Tuha adab pada ilmu." Artinya, kecerdasan menjadi sia-sia karena diiringi perilaku buruk. Contoh, ketika menziarahi satu makam, jangan ujug-ujug menyalakan kamera atau memberondong narasumber dengan pertanyaan.

Saat menjejakkan kaki di makam alangkah baiknya mengucapkan salam, "Assalamualaika Ya Ahlil Qubur." Sebagai doa atas mereka yang telah meninggal dunia. Lalu menghadiahkan Surah Alfatihah. Jika perlu membersihkan makam dari sampah dan daun kering.

Tiba di masjid bersejarah begitu pula. Sebelum mencari narasumber, ada baiknya berwudu dan menunaikan salat sunah tahiyatul masjid. Meski tampak remeh, adab inilah yang justru banyak menolong kami.

Ini terjadi di lokasi pertama ekspedisi, Kampung Belandean di Batola. Lokasi pelarian Sultan Suriansyah semasa kecil. Situs ini ditandai makam Jaya Arya, tokoh yang berjasa melindungi Sultan Suriansyah selagi bersembunyi di Belandean.

Warga yang mengantar ke lokasi makam tak yakin kami bisa memotret situs tersebut. Dari ceritanya, sudah banyak peziarah yang coba memotret makam tersebut. Anehnya, sepulang dari situ file fotonya selalu terhapus. Seolah-olah situs itu menolak dipublikasikan.

Antara percaya dan tidak, kami coba menebalkan niat di dalam hati dan menjaga sopan santun selama di makam. Sepulang dari Belandean, saya dan Wahyu buru-buru menghidupkan kamera. Penasaran dengan keselamatan foto tersebut. Alhamdulillah, foto-foto itu akhirnya bisa terbit di halaman Radar Banjarmasin.

Sebagai wartawan yang terbiasa berhadapan dengan fakta konkret. Kisah mistis, gaib, supranatural, atau apalah istilahnya acapkali kami anggap angin lalu. Namun, kejadian di luar nalar memang benar-benar terjadi. Tepatnya saat ekspedisi tiba di Makam Lima, Kotabaru.

Selagi memotret, dari jendela bidik kamera tampak dua gepok uang pecahan seratus ribu di samping makam. Wahyu sempat memastikan dengan memegang dan membolak-balik uang jutaan rupiah tersebut. Pemandu ekspedisi, seorang pemuda dari desa tetangga menatap uang itu dengan muka pucat pasi.

Khawatir uang itu milik peziarah yang tercecer, Wahyu meninggalkannya begitu saja. Kepada ahli waris makam dikabarkan soal uang tersebut. Tanggapannya datar saja, seolah-olah itu bukan kejadian wah. Lebih mengagetkan, setelah dicek foto uang itu sudah raib. Sedangkan foto makam dari sudut berbeda masih ada.

Secara teknis, dalam pengaturan kamera, foto-foto sudah diamankan dengan fitur lock (dikunci). Menghindari penghapusan tak sengaja karena keliru memencet tombol. Kalaupun terjadi kerusakan kartu memori, bukan hanya satu-dua foto yang hilang, melainkan semuanya. Wallahualam.

Terlepas dari semua itu, yang paling memberati benak adalah nasib sejarah kita. Kita harus insaf, orang Banjar lemah dalam tradisi tulisan. Hampir seluruh laporan dalam ekspedisi ini mengandalkan ingatan narasumber semata. Kisah-kisah yang diwariskan turun-temurun secara lisan. Dalam kurun waktu sekian ratusan tahun, sejarah menjadi rentan dikurang-kurangi atau ditambah-tambahi.

Tak jarang, kami terhenyak karena mendapati begitu dangkal informasi yang bisa digali. Jangankan memperoleh kisah yang panjang dan menarik, data primer seperti tanggal lahir dan wafat sang tokoh yang diliput pun sering tak tercatat. 

Kita rupanya lebih peduli dengan pencarian berkah di balik ziarah. Merapal doa dan Surah Yasin, lantas beranjak pulang. Tanpa peduli kisah di balik makam tersebut. Dari sikap ini yang kasihan adalah generasi anak dan cucu kita. Membiarkan mereka hidup dalam kondisi miskin sejarah. Akhir kata, kami mengucapkan terima kasih pada narasumber, sponsor, dan rekan-rekan wartawan yang bersedia memandu ekspedisi. (war/fud) 

Halaman:

BACA JUGA

Jumat, 17 Januari 2020 14:46

Demi Akses Transportasi Sungai, Jembatan Melengkung Tatah Bangkal Percontohan

BANJARMASIN – Pembangunan Jembatan Tatah Bangkal baru saja diselesaikan Dinas…

Jumat, 17 Januari 2020 11:45

Mangkrak, Akhirnya Rumah Sakit di Kotabaru ini Jadi Sarang Hantu

KOTABARU - Tiga anak muda berlarian. Memburu bayangan putih. Gagal.…

Jumat, 17 Januari 2020 11:31

Pondoknya Dirobohkan, Alfaruk Bantah Bangunannya Masuk Kawasan Hutan Lindung, Tiap Tahun ia Sudah Bayar Pajak

BANJARBARU - Alfaruk (50), warga Liang Anggang, Banjarbaru, hanya bisa…

Jumat, 17 Januari 2020 11:26

Gara-gara Pemekaran, PPK Sigam Belum Bisa Dibentuk

BANJARMASIN - Hingga saat ini KPU belum bisa memutuskan nasib…

Jumat, 17 Januari 2020 11:05

Butuh Dana Besar, Dinkes Diharap Tidak Asal Salurkan Jaminan Kesehatan

BANJARMASIN - Komisi IV DPRD Banjarmasin mengingatkan Dinas Kesehatan (Dinkes).…

Jumat, 17 Januari 2020 10:59

Jembatan Pulau Bromo Tunggu Lelang

BANJARMASIN - Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin…

Jumat, 17 Januari 2020 10:56

Dewan Perwakilan Mahasiswa Belajar ke Dewan

BANJARMASIN – Gedung DPRD Kalsel didatangi 50 mahasiswa. Mereka berasal…

Jumat, 17 Januari 2020 10:19

BAPPEDA: Banjir Berkaitan Dengan Kawasan Kumuh Cempaka

BANJARBARU - Di tahun ini, kawasan Cempaka jadi prioritas perencanaan…

Jumat, 17 Januari 2020 09:59

Aset Pelabuhan Masih Diperebutkan, Apakah Milik Pemprov atau Pemkab

BANJARMASIN - Banyaknya aset bidang perikanan dan kelautan yang masih…

Jumat, 17 Januari 2020 09:56

Mengeluh, Kelompok Tani Landasan Ulin Datangi DPRD

BANJARMASIN - Puluhan warga Landasan Ulin Timur dan Barat, serta…

Demi Akses Transportasi Sungai, Jembatan Melengkung Tatah Bangkal Percontohan

Jarang Razia di Pertigaan Tower, Banyak Pengendara yang Santai Melanggar

Heboh Mobil Sport Lamborghini Hurican di Jalanan Barabai

Mangkrak, Akhirnya Rumah Sakit di Kotabaru ini Jadi Sarang Hantu

Maraknya Serangan Peretas ke Situs Pemerintah, Pakar: Jangan Rilis Website Terburu-Buru

Pondoknya Dirobohkan, Alfaruk Bantah Bangunannya Masuk Kawasan Hutan Lindung, Tiap Tahun ia Sudah Bayar Pajak

Gara-gara Pemekaran, PPK Sigam Belum Bisa Dibentuk

Butuh Dana Besar, Dinkes Diharap Tidak Asal Salurkan Jaminan Kesehatan

Jembatan Pulau Bromo Tunggu Lelang

Dewan Perwakilan Mahasiswa Belajar ke Dewan
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers