MANAGED BY:
JUMAT
24 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 09 Juni 2021 15:43
KPK The EndGame, Bukan Saatnya untuk Pesimis
DISKUSI: Aktivis anti korupsi BIP, Rahmad Hidayat dan akademisi hukum dari Universitas Lambung Mangkurat, Deddy Fahmadie menjadi pembicara dalam nonbar tersebut.

The EndGame merekam kesaksian sejumlah pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang tak lulus tes wawancara kebangsaan (TWK). Banjarmasin menjadi salah satu kota tempat pemutaran film dokumenter tersebut.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin --

Pemutaran film garapan Watchdoc itu digelar di pendopo Banjar Public Initiative (BIP), Jalan Kayutangi 2 Jalur IV, Banjarmasin Utara.

Diinisiasi rekan-rekan jurnalis yang tergabung dalam Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Balikpapan biro Banjarmasin.

Film berdurasi 1 jam 59 menit itu dibuka dengan panorama Bundaran Hotel Indonesia (HI) dari atas udara. Selanjutnya, cuplikan kasus demi kasus yang pernah ditangani, komplet dengan para wajah tersangka. Hingga memasuki inti cerita, konflik di tubuh lembaga anti rasuah tersebut.

Tak hanya menggelelar nonton bareng, panitia juga menggelar diskusi. Dua narasumber didatangkan.

Ada aktivis anti korupsi BIP, Rahmad Hidayat dan akademisi hukum dari Universitas Lambung Mangkurat, Deddy Fahmadie.

Ditemani kudapan pasar, puluhan penonton tampak santai menikmati pemutaran film itu. Ada yang sambil menyeruput kopi, ada pula yang mengepulkan asap tembakau.

Sesekali, penonton tampak tertawa. Sesekali tampak menepuk jidat.

Salah satunya, saat salah seorang pegawai KPK memaparkan pengalamannya ketika menjalani wawancara TWK.

"Salah seorang penguji bertanya, apakah sudah punya pacar? Berapa lama pacaran? Apa saja yang saya lakukan ketika pacaran?" ucap Ita Khoiriah, pegawai bagian humas KPK.

Tentu pertanyaan itu tak ada korelasinya sama sekali dengan pemberantasan korupsi.

Termasuk ketika ada penguji yang menuduh pegawai KPK terlibat gerakan Taliban. Dalam tayangan itu, salah seorang pegawai KPK, Andre Dedy Nainggolan pun menjawab tudingan tersebut.

"Saya jawab, saya bukan seorang Taliban. Tapi Saliban. Akhirnya saya bawa bercanda saja," ucap penyidik tersebut.

Perlu diketahui, TWK menjadi syarat peralihan status pegawai KPK sebagai ASN. Menjadi polemik karena daftar pertanyaannya rata-rata ngawur.

Alhasil, dalam TWK itu, 75 pegawai terpental. Diduga, sedari awal mereka sudah masuk daftar incaran pimpinan KPK, Firli Bahuri. Nah, dalam film ini, ada 15 pegawai KPK yang buka-bukaan.

Sebenarnya, KPK sudah mulai dilemahkan sejak undang-undang pemberantasan korupsi direvisi pemerintah.

"Sejak itu, kalau pun ada operasi tangkap tangan (OTT) yang dilakukan seusai revisi undang undang, saya rasa itu adalah rahmat Tuhan yang tersisa," jelasnya.

Film kemudian ditutup dengan cuplikan dramatis. Pegawai KPK yang lulus TWK dan dilantik sebagai ASN. Sementara yang tersingkir, hanya bisa menonton secara daring lewat gawai atau laptop.

Dari pandangan Deddy Fahmadie, sebenarnya peralihan status ASN itu sudah pantas dipertanyakan. "Karena sektor-sektor layanan publik yang basah dipegang ASN, contoh lahan perizinan," ujarnya.

Deddy menyukai film ini, tapi baginya sudah terlambat. Karena momen penayangan yang kurang pas, justru mengajak penonton untuk pesimis menghadapi agenda pemberantasan korupsi.

"Masih ada secercah harapan. Gaung reformasi harus diteruskan, jangan mandek," pesannya.

Senada dengan pandangan Rahmad Hidayat. Baginya, film ini seolah ucapan perpisahan dari KPK. Sebuah institusi yang lahir dari ketidakpercayaan masyarakat terhadap kepolisian dan kejaksaan.

"Konten film ini sebenarnya kumpulan curahan hati. Indikasi bahwa negara kita sedang tak baik-baik saja," ujarnya.

Dia memandang, TWK hanya puncak dari kejahatan yang sudah lama diorganisir. "Mengapa kejahatan bisa menang? Karena terorganisir. Sementara di pihak kebaikan, justru malah sibuk berseteru satu sama lainnya," bebernya.

Lalu, apa solusinya? Deddy meminta komunitas-komunitas untuk diperkuat. Karena berharap ke pemerintah semakin sulit. "Membangun jaringan, contoh lewat gerakan mahasiswa. Dan jangan pernah ragu atau malu untuk mengatakan kebenaran," tutupnya. (fud/ema) 


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers