MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 24 Juni 2021 11:07
Darurat Ular

PADA 13 Maret 1931, Niuwe Tilburgsche Courant menurunkan headline, 'Banjarmasin Darurat Buaya'.

===========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Halamanan Metropolis Radar Banjarmasin
===========================

Diberitakan, di Kampung Benoea Anjar (Banua Anyar), perahu yang dikayuh dua nelayan muda terbalik akibat kibasan ekor buaya.

Seorang selamat, berenang dan mencapai tepi sungai. Seorang lagi diterkam buaya, dua hari kemudian mayatnya ditemukan.

Itu bukan insiden pertama. Serangan crocodylus raninus di pesisir Sungai Barito dan Sungai Martapura kian meresahkan sejak tahun 1926.

Sampai-sampai, pemerintah Hindia Belanda menggelar sayembara berhadiah kepada siapapun yang berhasil menangkap buaya.

Perburuan pun dimulai. Ada yang motivasinya uang, adapula yang semata-mata untuk membalas dendam.

Cerita itu disadur dari buku 'Bandjarmasin Tempo Doeloe' karya Mansyur, dosen sejarah Universitas Lambung Mangkurat.

Teringat buku itu seusai mengedit berita yang diterbitkan di halaman Metropolis pada edisi 14 Juni lalu.

Diwartakan, antara April sampai Juni, Tim Animal Rescue di bawah BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) Banjarmasin sudah menangkap 62 ekor ular.

Dari piton sampai kobra. Yang muncul di pagar kantor kelurahan hingga halaman parkir hotel berbintang.

Jumlahnya belum terhitung yang diamankan warga tanpa bantuan BPBD.

Bagi ular yang ditangkap BPBD, nasibnya lebih beruntung. Karena akan dilepasliarkan ke Taman Hutan Raya (Tahura) Sultan Adam.

Sedangkan yang ditangkap warga, wallahua'lam. Mungkin digorok. Mungkin pula dijual ke tukang samak kulit dan menjadi sampul dompet Anda.

Pastinya, puluhan ekor dalam kurun tiga bulan tak bisa disebut sedikit. Tangan saya sampai gatal, ingin sekali menulis headline tandingan, 'Banjarmasin Darurat Ular'.

Tapi diurungkan karena menyadari perbedaan skala kengeriannya. Seabad silam, rentetan serangan buaya menuntut nyawa, minimal korban luka.

Sementara dalam kasus para ular, alhamdulillah, belum ada yang dilaporkan dililit atau digigit.

Namun, ada satu kesamaan antara tahun 1931 dan 2021. Reptil mengganggu permukiman manusia karena habitatnya dirusak.

Ular tak bisa menulis petisi atau berdemo. Maka protes disampaikan dengan cara muncul di plafon untuk menciptakan trauma bagi penghuni rumah.

Kita juga terlambat menyadari. Sungai dan rawa terlanjur dicemari sampah dan limbah. Perumahan tumbuh pesat, daerah resapan menyempit.

Maka saat manusia dan hewan bertemu, jarang sekali muncul percakapan yang ramah. Salah satu pihak harus tergusur.

Contoh bekantan. Sekarang warga Banjarmasin hanya bisa melihat bekantan di siring (itu patung) atau saluran National Geographic (itu asli).

Saya bukan aktivis konservasi atau pencinta satwa. Melihat ular sudah pasti lari. Memiara kucing pun enggan.

Tapi ke-62 ekor itu merupakan peringatan. Bahwa cara kita menangani lingkungan memang buruk sampai level darurat.

Siapa peduli? Di zaman corona begini, mengurusi masalah masyarakat ular terdengar amat sepele. Lain kali saja. (*)

 


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers