MANAGED BY:
KAMIS
02 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 01 Juli 2021 14:53
Daya Beli dan Gelombang Kedua Pandemi
Penulis: Armansyah

Jumlah kasus positif Covid-19 mencapai dua juta orang, bukan sekadar angka statistik. Ini alarm bahwa pandemi belum berakhir. Demi alasan kesehatan, berbagai desakan dilontarkan agar menarik rem darurat demi mencegah penyebaran Covid-19 lebih luas.

=====================
Oleh: Armansyah, ME
Statistisi Muda BPS Kalimantan Selatan
=====================

Konsekuensi dari pembatasan itu, menjaga daya beli ditengah pengangguran dan kemiskinan yang meningkat selama pandemi. Namun, beberapa kepala daerah menyatakan tidak mampu memenuhi kebutuhan warga jika terjadi lockdown.

Tak dapat di mungkiri, pandemi yang terjadi sejak tahun 2020, mengakibatkan penerimaan pemerintah pusat ataupun daerah turun tajam. Disisi lain, pengeluaran pemerintah melonjak untuk mengatasi pandemi sekaligus mengurangi dampaknya.

Hingga Mei 2021, realisasi penerimaan negara Rp 726,4 triliun, sedang realisasi belanja Rp 945,7 triliun. Upaya pemerintah meningkat penerimaan amat berat, apalagi 708 persen penerimaan Negara berasal dari pajak.

Ketika pandemi terjadi dan perekonomian menurun, potensi pajak juga mengalami penurunan. Sehingga untuk memenuhi pengeluaran dilakukan dengan menambah pembiayaan, baik melalui utang maupun penjualan surat berharga nasional.

Padahal dengan adanya gelombang kedua ini diperlukan perpanjangan bantuan sosial tunai dari semula yang dijadwalkan berakhir pada Juni ini. Daya beli penduduk harus terjaga agar tidak menambah jumlah penduduk miskin di Indonesia.

Pada pandemi gelombang pertama tahun 2020, jumlah penduduk miskin meningkat 2,76 juta orang sehingga totalnya 27,55 juta orang pada kondisi September 2020. Tidak hanya itu, kemiskinan di Indonesia semakin dalam dan parah.

Kemiskinan semakin dalam karena rata-rata pengeluaran penduduk miskin semakin jauh dari garis kemiskinan, dan kemiskinan semakin parah karena ketimpangan pengeluaran antarpenduduk miskin pun kian lebar. Dengan kenyataan ini, kemiskinan kian sulit dientaskan.

Pandemi juga membuat ketimpangan pengeluaran antarpenduduk semakin lebar. Rasio gini meningkatkan dari 0,380 pada September 2019 menjadi 0,385 pada September 2020. Penurunan proporsi pengeluaran terjadi pada kelompok 40 persen kelas menengah.

Sementara itu, proporsi pengeluaran kelompok 40 persen terbawah, naik lebih kecil daripada peningkatan proporsi pengeluaran kelompok 20 persen teratas. Di tengah pandemi penduduk kelompok atas masih menahan balanjanya, sedangkan kelompok 40 hingga 60 persen terbawah, membutuhkan perlindungan sosial sebagai bantalan hidup.

Pandami 2020 membuat 2,67 juta orang kehilangan pekerjaan sehingga total penganggur 9,77 juta orang dan setengah penganggur 13,09 juta orang (Agustus 2020). Diharapkan dampak gelombang kedua pandemi tahun ini tidak separah sebelumnya.

Tentu, kita tidak menginginkan tren pemulihan ekonomi pada awal 2021 kembali buyar akibat gelombang kedua pandemi. Harus diakui, berbagai program pemulihan ekonomi nasional pada 2020 berdampak cukup signifikan terhadap ekonomi.

Penyerapan tenaga kerja sudah mulai terjadi, ditandai dengan penambahan penduduk bekerja 2,61 juta orang dari Agustus 2020 - Februari 2021. Artinya, sebagian penduduk sudah mulai kembali bekerja dan memperoleh pendapatan.

Kenaikan permintaan barang juga ditunjukan dengan kenaikan purchasing manager index (PMI) manufaktur di Indonesia, Kinerja ekspor pun meningkat pada tahun ini.

Namun, gelombang kedua pandemi ini menimbulkan kekhawatiran, akankah tren pemulihan ekonomi sebelumnya tersebut berlanjut? Apabila, peningkatan kasus Covid-19 saat ini lebih cepat dibandingkan gelombang pertama tahun lalu.

Maka itu, tak heran jika menteri keuangan menurunkan target pertumbuhan ekonomi triwulan-II dari semua di proyeksi 8 persen. Ini menunjukan, optimisme pemulihan ekonomi pada triwulan II akan sedikit terhambat.

Syarat perekonomian kembali pulih adalah terkendalinya pandemi. Memacu vaksinasi terutama menyasar pekerja sangat diperlukan saat ini. Jadi kalaupun kegiatan ekonomi harus berjalan, diharapkan risiko tertular virus lebih kecil dan dampak kesehatannya tidak berat.

Vaksinasi ini tidak lupa untuk menyasar tenaga kerja informal dan diutamakan daerah dengan kasus tinggi. Tenaga kerja informal, selain jumlahnya sangat besar ( 59 persen ), didominasi kelompok penduduk 40 persen terbawah.

Ini penting untuk melindungi kelompok rentan ketika terpaksa harus bekerja demi memenuhi kebutuhan hidupnya. Kelompok rentan ini tidak memiliki kemewahan. Mereka tetap tinggal di rumah hanya dengan mengandalkan bantuan sosial yang jauh dari cukup.

Kebijakan asimetris diperlukan sesuai kondisi masing-masing wilayah. Sumber daya pemerintah yang terbatas bisa dialokasikan ke zona merah, bukan untuk diskriminasi antarwilayah, malainkan agar penyebaran Covid-19 dapat dikendalikan.

Demikian juga, kolaborasi antardaerah diperlukan untuk mengatasi pandemi dan dampaknya. Refocusing dan realokasi anggaran tentu dibutuhkan hingga akhir tahun nanti, untuk mengatasi pandemi beserta upaya pemulihannya.

Perekonomian dan penerimaan Negara akan kembali pulih jika pendami bisa dikedalikan. Berkaca pada Cina yang telah mampu mengendalikan pandemi, sehingga perekonomiannya bisa melesat tumbuh 18,3 persen pada triwulan I-2021. *


BACA JUGA

Kamis, 02 Desember 2021 09:44

Rp29 Ribu

Di dalam bilik ATM, saya berseru mengucap tahmid, alhamdulillah! Saldo…

Kamis, 25 November 2021 12:57

Gara-Gara Kaus

KITA tak perlu khawatir kehabisan hari penting atau hari besar…

Kamis, 25 November 2021 11:32

"The Real Study" dalam Perspektif Agama Islam

Study atau belajar merupakan suatu kebutuhan, kewajiban dan hak setiap…

Kamis, 18 November 2021 12:02

Revolusi Beliau

Alam tak bisa bercanda. Kalau bisa, berarti selera humornya memang…

Kamis, 11 November 2021 07:30

Semangat Bela Negara dari Timur Indonesia

Oleh : Steve Rick Elson Mara, S.H., M.Han (Kader Intelektual…

Rabu, 10 November 2021 14:44

Mengelola Transformasi Papua: Belajar dari Masa Lalu, Menatap Masa Depan

- Oleh: Dr. Velix V. Wanggai, SIP., MPA (Staf Ahli Menteri…

Kamis, 21 Oktober 2021 10:28

Merapatkan Saf

Oleh Muhammad Syarafuddin DUA pekan terakhir, saya berkesempatan salat Jumat…

Kamis, 07 Oktober 2021 14:26

Arba Mustamir

Oleh Muhammad Syarafuddin ORANG Banjar menamai Rabu terakhir di bulan…

Rabu, 29 September 2021 12:37

Jembatan Basit

Pemerintah boleh berencana menamai jembatan alalak itu apa saja, tapi…

Selasa, 28 September 2021 06:45
Opini

Menumbuhkan Kesadaran Bela Negara bagi Generasi Millennial di Era Society 5.0

  Rifani Agnes Eka Wahyuni, S.IP., M. Han Dunia sedang…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers