MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 08 Juli 2021 13:06
Kaset Pita

GENERASI kami dibesarkan oleh kaset pita yang bisa jamuran dan kusut.

-- Oleh: Muhammad Syarafuddin --

Suatu hari, paman dengan menggebu-gebu menceritakan penemuan terbesar abad ini: MP3.

Mengutip sebuah artikel, beliau coba meyakinkan saya, era memutar kaset dengan pensil akan segera berakhir.

Bahwa dalam sebuah perangkat mini, kita bisa menyimpan ribuan album favorit.

Dalam imajinasi siswa madrasah ibtidaiyah, cerita itu terdengar seperti igauan. Tak terbayangkan.

Beranjak tsanawiyah, saya mulai menabung dan membeli kaset sendiri. Terpaksa, karena tak bisa meminjam kepada teman sekelas.

Bukan karena mereka pelit. Tapi lantaran selera musik yang sedikit berseberangan.

Cakram padat memang dijual, tapi harga kaset pita lebih terjangkau untuk standar uang jajan pelajar. Lagian di rumah hanya ada tape recorder.

Koleksi awal itu berisi Rage Againts The Machine, Green Day dan Metallica. Mama menyebutnya musik kafir. Tak apa-apa sedikit berseberangan.

Soal referensi, ada tiga sumber: rekomendasi kawan, ulasan majalah dan radio. Saban Jumat sore, kami menantikan Rock Friday! mengudara di stasiun lokal.

Maka, ketika satu demi satu toko kaset di Banjarmasin tutup, saya baru menyadari bualan tentang MP3 itu benar adanya. Zaman berubah.

Naik angkot mendatangi toko kaset, mengobrol dengan penjaga toko tentang band baru yang pantas disimak... Semua tinggal kenangan.

Di aliyah, komputer memang sudah dikenalkan. Tapi kotak berlayar biru itu terasa kaku. Pengoperasiannya juga rumit, harus menghafal kode-kode perintah.

Jadi perkenalan pertama saya dengan dunia digital adalah lewat MP3, bukan internet itu sendiri.

Beranjak kuliah, seorang kawan menghadiahkan modem. Kuotanya diisi lewat registrasi SMS.

Kecepatannya 40 kbps pada malam hari dan 20 kbps pada siang hari. Dihadapkan pada 5G, seperti siput berlari.

Untuk mengunduh satu album bajakan berisi 12 lagu, harus menunggu sejak tengah malam sampai subuh. Sejak itu, saya berhenti membeli kaset.

Apa pesan dari nostalgia ini? Kehidupan digital tidak memiliki tombol backspace.

Begitu Anda membuat akun medsos dan menyerahkan identitas kepada Big Data, tak ada titik untuk kembali.

Tentu yang analog melawan. Buktinya, kaset pita dan piringan hitam kembali dirilis dan laku.

Mungkin cuma hobi mahal, mungkin pula upaya bertahan. Agar dunia nyata tak disedot seluruhnya oleh dunia maya.

Dan pandemi datang, mempercepat peralihan tersebut. Sekarang, apa-apa dibikin daring (terkecuali pilkada).

Siswa sekolah belajar dengan gawai di rumah. Rembuk keluarga digantikan grup WhatsApp. Majelis taklim disiarkan streaming. Rapat perusahaan lewat video conference. Belanja ke pasar digantikan penelusuran marketplace.

Apa boleh buat, ketimbang masuk rumah sakit dan memakai ventilator.

Saya tak bermaksud mengajak berjalan mundur. Faktanya GPS sangat membantu. WWW membuat jurnalisme semakin murah. Dan perancangan AI begitu menggoda.

Namun, kita makhluk sosial yang butuh silaturahmi. Bukan e-Silaturahmi.

Pandemi ternyata membawa hikmah. Menyadarkan kita betapa berharganya bisa berjalan keluar rumah, bertatap muka, mengobrol dan menyentuh orang lain. (*)


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers