MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

HUKUM & PERISTIWA

Jumat, 09 Juli 2021 15:38
Didemo karena Konflik Pengurus Makam Sultan Tak Kunjung Usai, Doyo: Harusnya Mereka yang Intropeksi
MENDADAK DEMO: Salah satu kubu yang mengklaim pengelolaan Makam Sultan Suriansyah di Kampung Kuin berunjuk rasa di seberang kantor wali kota, kemarin (8/7). | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

BANJARMASIN - Bukannya mendekati titik temu, sengketa pengelolaan kompleks makam Sultan Suriansyah di Jalan Kuin Utara justru semakin kusut.

Kemarin (8/7) pagi, salah satu kubu pengurus yang mengklaim berhak mengurusi makam Raja Banjar tersebut, berunjuk rasa di Siring RE Martadinata. Persis di seberang kantor Wali Kota Banjarmasin.

Puluhan pendemo itu menuntut mediator dari Pemko Banjarmasin, yakni Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Setdako Banjarmasin, Doyo Pudjadi untuk diganti.

Massa dikomando Haji Maulana. Ia menilai, penyelesaian konflik berjalan lamban. Konflik sudah memanas sejak sebelum pandemi.

Baginya, persoalannya sungguh sepele. Tinggal membentuk kepengurusan yang mewakili ketiga kubu yang saling klaim, menampung aspirasi mereka, lalu pemko mengambil keputusan.

"Cukup lambat. Walaupun kami bisa memaklumi, pemko juga harus menghadapi masalah banjir dan covid," ujarnya.

Ditekankannya, jika saling klaim kepengurusan itu menyoal tentang zuriah (garis keturunan), maka tinggal dibuktikan saja. Persoalannya, baginya pembuktikan zuriah takkan menyelesaikan masalah.

Maulana lebih sreg untuk mengelola makam itu bersama-sama secara kekeluargaan. Tanpa ada kubu yang dikalahkan.

Pengunjuk rasa kemudian diterima Wakil Wali Kota Banjarmasin, Arifin Noor di Aula Kayuh Baimbai, Balai Kota.

Arifin hanya mengisyaratkan menampung aspirasi mereka tanpa menjanjikan apapun. "Kami menghormati upaya mereka, demi pembangunan kota juga," ujarnya.

Dikonfirmasi terpisah, sebagai ketua mediasi, Doyo tampak tak tertarik untuk membela diri.

"Mereka meminta saya dicopot. Tak apa-apa, silakan saja. Tapi keputusan itu ada di tangan wali kota," tegas Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum Banjarmasin tersebut.

Jika ditanya mengapa tak kunjung tuntas, menurutnya, justru ketiga kubu yang harus introspeksi. Ia melihat, masing-masing berkeras ingin menguasai sendiri situs bersejarah tersebut.

"Jadi, saya doakan mereka (pendemo) untuk selalu diberikan kesehatan. Semoga segera mendapatkan solusi terbaik yang cepat," sindirnya.

Pada 15 Juni lalu, ketiga kubu bersepakat untuk membentuk tim formatur. Tugasnya menyusun kepengurusan yang mewakili semua pihak yang berpolemik.

Sayangnya, pada pertemuan berikutnya 30 Juni, saat diminta usulan dan saran, ketiga kubu malah bungkam. Rapat tak menghasilkan apa-apa, buntu.

Terakhir, dalam rapat 7 Juli yang difasilitasi Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, ketiga kubu menyatakan menunggu saja keputusan dari pemko.

"Saya melihat sendiri, masing-maisng kubu yang hadir membubuhkan tanda tangan. Eh, tiba-tiba malah berdemo. Saya jadi bingung," keluhnya.

Jika pemko dituding lamban, Doyo menuding balik, mengapa mereka begitu keras kepala. "Saya rasa, siapapun yang memediasi, pasti kesulitan menanganinya," tutupnya. (war/at/fud)


BACA JUGA

Kamis, 03 September 2015 08:40

Menengok Pusat Produksi Rinjing di Nagara: Pernah Produksi Wajan Khusus untuk Haulan Guru Sekumpul

<p><em>Ibu rumah tangga pasti mengenal alat masak yang satu ini. Ya, wajan atau rinjing…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers