MANAGED BY:
JUMAT
17 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 05 Agustus 2021 10:44
Dua Lapis

Jangankan diperpanjang sampai akhir Agustus, dinaikkan menjadi level 5 pun kita siap.

==========================
Oleh: Muhammad Syarafuddin
Editor Hal Metropolis Radar Banjarmasin
==========================

Karena ada atau tiada PPKM, perbedaannya hanya sekolah ditutup atau dibuka. Masyarakat Banjarmasin pun lebih santai menghadapinya.

Mikro, darurat, level 4... Ternyata cuma perbedaan istilah.

Bandingkan dengan keadaan di Jawa. Di sana, saking ketatnya masyarakat sudah memohon agar PPKM disudahi. Presiden menjawab dengan kebolehan makan di warteg selama 20 menit.

Namun, dibilang santai pun, keadaan memang sudah gawat melintir.

Rumah sakit dipenuhi pasien dan menghadapi krisis oksigen. Ambulans lalu lalang di jalan raya, bahkan keluar masuk gang. Dan saban hari masjid serta musala mengumumkan salat jenazah.

Saya tak bermaksud menuduh semuanya wafat karena covid. Sebab, selama tes masih berbayar, sulit bagi warga untuk memastikan dirinya tertular atau tidak.

Tes ratusan ribu rupiah itu kini digantikan warga lewat pengujian sederhana: tes indra pencecap dan penciuman. Kalau rasa dan baunya hilang, artinya dilarang berkeluyuran.

Penulis tak bermaksud menggiring opini pembaca bahwa PPKM tak berfaedah dan mubazir. Tapi kita boleh bersepakat, PPKM adalah barang mahal.

Pemko sedikitnya menyisihkan Rp34 miliar dari APBD. Belum terhitung penyaluran bansos dari APBN.

Berapa yang terpakai dan apakah sepadan dengan hasilnya, kita mesti menunggu PPKM kelar dulu.

Laporan awal, dari razia PPKM antara 26 Juli sampai 2 Agustus, terjaring 686 pelanggar prokes. Kebanyakan karena tak mengenakan masker.

Satgas pun mendakwa, pagebluk tak terkendali gara-gara masyarakat mudah termakan hoaks dan lalai dalam melindungi dirinya sendiri.

Awalnya, saya juga membenarkan tuduhan itu. Tapi seorang kawan mengubah pendapat saya.

Sebagai buruh pasar yang diupah harian, ia korban yang berada di garda terdepan.

Dia membeberkan hitung-hitungannya. Sekotak masker medis dijual Rp59 ribu dan sebotol hand sanitizer Rp17 ribu. Tambahkan vitamin, hampir Rp100 ribu.

Nominalnya sama dengan penghasilannya selepas membanting tulang dan memeras keringat seharian.

Secara teori, tak masalah bila perut keluarganya seperti ban motor. Di tempat tambal ban, sekali isi angin masih Rp2 ribu.

Maka, ia membela warga yang mengenakan masker kain tak standar. Atau memaksakan masker medis yang sudah kucel dan bau.

Dia pula yang menertawakan imbauan pemerintah untuk mengenakan masker dua lapis.

Kesimpulan yang dibuatnya memang terdengar kejam, bahwa prokes hanya milik kelas menengah dan atas.

Nah, mengingat masih ada miliaran bahkan triliunan rupiah di rekening negara, mengapa tak dibelanjakan untuk yang pasti-pasti saja.

Seperti membagikan masker standar dan hand sanitizer. Mengirimkan makanan dan vitamin buat yang sedang isoman. Lalu membuat tes usap menjadi gratis, minimal harganya terjangkau.

Hingga merekrut dan melatih sebanyak-banyaknya vaksinator agar vaksinasi bisa mengetuk pintu demi pintu rumah warga (dengan asumsi stok vaksinnya ada).

Mumpung anggarannya belum dihabiskan. Mumpung masih bisa ngutang. (*)


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers