MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Senin, 30 Agustus 2021 12:48
Rahasia Ventilasi

Amang Madi, penjaga malam di lingkungan kafe mendatangi saya malam itu dan berbagi cerita tentang pengalamannya. Dia baru saja pulih dari Covid-19 dan menyimpulkan sakitnya "ternyata seperti flu Hongkong."

========================
Oleh: RANDU ALAMSYAH
Editor Halaman Pertama Radar Banjarmasin
========================

Flu Hongkong, Anda tahu, pernah menjadi pandemi pada tahun 1968 dan memakan korban sekitar 1 juta orang di seluruh dunia. Korban meninggal didominasi oleh orang tua dengan usia lebih dari 65 tahun.

Virus H3N2 yang menjadi penyebab Flu Hongkong saat ini belum hilang. Datang hampir setiap tahun di musim flu. Versi mutasi H3N2 bahkan sempat menjadi penyebab sebagian besar flu yang terjadi di Amerika Serikat pada 2014 hingga 2015.

Saya yakin di suatu waktu mungkin pernah terjangkit Flu Hongkong, tapi untuk memastikan saya meminta rincian gejalanya. "Demam, Sakit tenggorokan, awak asa sakitan, susah napas," jawabnya.

Tentu itu tanda-tanda umum dari virus pernapasan. Tapi, Amang Madi, seorang tradisional, punya deskripsi yang menarik tentang situasinya. "Orang Banjar dulu mungkin menyebutnya seperti kena wisa, persis banar," katanya.

Wisa--racun di kalangan masyarakat Banjar dipercaya menjadi penyebab sakit tertentu. Ini sisa-sisa kepercayaan dulu yang sebenarnya juga ada di berbagai budaya. Dulu, sebelum ilmu kedokteran modern menemukan kuman dan bakteri, semua orang percaya penyakit disebabkan oleh "angin jahat".

Karena itulah, strategi kesehatan di masa lalu sangat memperhatikan pentingnya ventilasi. Tata letak fisik bangunan rumah sakit jadul memiliki jendela yang banyak dan memiliki paviliun-paviliun yang memungkinkan pasien tidak tertumpuk dan berbagi udara buruk. Bahkan ada sejenis menara yang didirikan untuk memindahkan udara yang terkontaminasi di dalam rumah sakit, ke luar ruangan.

Pelopor dari ide ini adalah Florence Nightingale, yang mempopulerkan desain dalam bukunya tahun 1859, Notes on Hospitals. Sebagai seorang perawat dalam Perang Krimea, dia melihat 10 kali lebih banyak tentara meninggal karena penyakit daripada luka pertempuran.

Nightingale kemudian memulai kampanye kebersihan besar-besaran di rumah sakit yang penuh sesak, dan dia mengumpulkan statistik, yang dia presentasikan dalam infografis perintis. Yang paling menjadi kekhawatirannya adalah udara. Dia bahkan mengatur proporsi yang tepat untuk paviliun 20 pasien agar ada 1.600 kaki kubik udara bersirkulasi per tempat tidur.

Saat ini, di tengah pandemi yang disebabkan oleh virus baru di udara, kearifan lama tentang ventilasi muncul kembali. Pertanyaannya seberapa sering kita memperhatikan ventilasi udara khususnya bagi yang sedang Isoman?

Tidak terlalu sering. Yang terjadi bisa sebaliknya, yang isoman mengurung diri dalam kamar. Mungkin bahkan dengan menutup jendela rumah karena takut virus akan menerobos ke luar.

Apakah ini menjadi penyebab banyak yang meninggal karena kehabisan udara segar? Amang punya kesimpulan yang jelas-jelas mengindikasikan itu. "Semua gejalanya sebenarnya tidak apa-apa," katanya. "Yang berbahaya cuma susah bernapas itu, makanya banyak orang rebutan tabung oksigen," katanya.

Amang sendiri akhirnya beralih ke alat bantu napas portable yang murah meriah. Dia membelinya di apotik. "Saya semprot setiap mau tidur, lumayan sangat membantu," katanya berbangga diri karena menemukan cara cerdik untuk menyiasati kelangkaan oksigen.

Sedikit berlebihan jika menganggap penting udara segar untuk mengatasi Covid-19. Tapi ini patogen yang menyebar di udara, sama dengan kepercayaan dulu. Orang-orang dulu biasanya punya rumah dengan jendela besar yang dibuka setiap pagi. Jendela besar berarti sirkulasi udara yang baik dan segar.

Sayangnya. saat ini hal itu tak lagi dianggap terlalu penting. Orang-orang berfokus pada patogen yang menempel. Karena itu mereka menyeka setiap permukaan, memasang penghalang kaca plexiglass, dan mengirim pasien kembali ke ruang tertutup di rumah. Pesan kesehatan masyarakat yang dikeluarkan pemerintah sama sekali gak menyinggung tentang pentingnya ventilasi.

Secara umum, kita mungkin telah kehilangan kearifan masyarakat tradisional dalam merespons penyakit. Ada nilai pengetahuan lama yang hilang. Saya membaca beberapa artikel dari para jurnalis sains setelah mendengar cerita dari Amang Madi. Menyadari bahwa beberapa metode ternyata masih relevan, meski ketinggalan zaman/

Nancy Tomes, seorang sejarawan sains di Universitas Stony Brook, punya cerita yang agak ironis tentang manusia modern dalam merespons pandemi. Bayangkan, sebuah film fiksi ilmiah tentang virus baru yang menakutkan. Anda mungkin akan membayangkan orang-orang melindungi diri mereka dengan "pakaian astronot" dan respirator. "Tidak ada yang pernah pergi untuk membuka jendela," katanya.

Siapa yang mengira bahwa kunci untuk memerangi virus corona baru ini sesederhana udara segar? Hebatnya, orang-orang dulu sudah tahu itu.()


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers