MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 02 September 2021 17:06
Jam Malam

Jam malam membuat Banjarmasin pada pukul 10 sudah seperti lewat tengah malam.

-- Oleh: Muhammad Syarafuddin

Saban pulang bekerja, saya harus berkendara dengan mata terbuka lebar. Kalau cuma melindas lubang jalan, tak masalah.

Yang celaka kalau menyerempet pejalan kaki atau pesepeda yang kebetulan berpakaian serba hitam.

Secara teori, saya tak boleh mengeluh. Itulah gunanya lampu depan diciptakan.

Tapi secara praktek, untuk motor bebek yang berumur dua dekade, fungsi lampu depan lebih sebagai hiasan. Ia menyala tapi tak menerangi.

Pengalaman itu kian sempurna ketika hujan turun. Sudah gelap, jalannya licin pula.

Mengenakan jas hujan transparan seharga Rp10 ribu yang lebih mirip kantong plastik belanja berukuran jumbo, seorang redaktur koran tampak berkibar-kibar.

Jadi, apakah sekarang menentang PPKM? Tegasnya, saya menentang jam malam yang absurd.

Saya ragu pagebluk bisa dihalau dengan mematikan lampu jalan. Tapi cukup yakin kurangnya penerangan bisa menambah angka kecelakaan lalu lintas.

Intinya, kalau ditanya satu-satu, setiap orang tampaknya memiliki alasan untuk membenci PPKM. Dan jam malam adalah alasan yang paling remeh.

Tak bisa dibandingkan dengan siswa yang sedang sakit hati. Baru kembali ke sekolah, malah disuruh belajar daring lagi.

Atau seorang pengusaha mal yang terpaksa merumahkan, bahkan memecat ratusan karyawannya.

Atau pasangan muda yang menunda resepsinya. Padahal musim hujan adalah musim kawin terbaik.

Atau pedagang mi ayam yang biasanya pulang ke rumah pada jam 9 malam. Sekarang masih menunggui gerobaknya hingga jam 11 malam.

Mereka yang tak tahan akhirnya melawan balik. Baik dengan cara yang benar atau salah.

Yang berjiwa seni akan melukis mural. Sepedas apapun kritiknya, senakal apapun sindirannya, selama muralnya keren, maka caranya sudah benar.

Sedangkan yang berjiwa nekat, sengaja tak memakai masker saat melintas di depan pos PPKM. Menantang petugas sekaligus mengundang penyakit. Ini memang salah.

Maka ketika Dinas Kesehatan Banjarmasin mengusulkan penurunan level plus pembukaan sekolah, masyarakat lega mendengarnya.

Rupanya, di kota ini PPKM telah menjadi singkatan yang paling tidak populer.

Jadi apakah pemerintah harus diam saja ketika penularan dan angka kematian menggila? Ya jangan merajuk dong.

Tapi berharap hasil berbeda dari mengulang ikhtiar yang sama hingga berjilid-jilid, juga merupakan sebuah kemubaziran. (*)


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers