MANAGED BY:
JUMAT
17 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 03 September 2021 15:42
Kisah dari Tempat Pembuangan Akhir: Karena Tuhan Maha Adil
MAIN AYUNAN: Beberapa pemulung di sini juga membawa anaknya ke TPA. Di tengah gunungan sampah, mereka tetap bermain. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Gunungan sampah berarti gunungan rezeki. Hidung mereka sudah berhenti mengeluh. Bahkan sakit pun jarang, tapi bukan berarti aman.

-- Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Diana baru selesai memilah botol plastik dan kaleng bekas. Dikumpulkan dalam karung sebelum ditimbang dan disetor ke pengepul.

Keringat masih mengucur di wajah perempuan 46 tahun itu. Dengan santai ia mengambil botol minum dari keranjang dan meminumnya.

Diana adalah satu di antara sejumlah pemulung yang mencari nafkah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Basirih milik pemko di Jalan Gubernur Subarjo, Banjarmasin Selatan.

Sudah lima tahun ia memulung bersama sang suami. Dalam sepekan, Diana biasa menghabiskan empat hari hanya untuk memulung.

Hasilnya memang tak bisa disebut banyak, tapi cukup. "Alhamdulillah. Ada rezekinya," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, kemarin (2/9) siang.

Tiap hari berkutat dengan gunungan sampah, tentu Diana rentan terpapar penyakit.

Tapi jawaban Diana sangat percaya diri. "Terus terang. Saya, bahkan kami di sini, jarang sekali jatuh sakit," akunya tergelak.

Kalau toh bisa dikatakan sakit, ia kerap dehidrasi karena seharian dijerang terik matahari.

Paling parah ya darah tinggi. “Kalau sudah begitu, cukup beristirahat sebentar. Minum, lalu lanjut bekerja," jelas perempuan asal Handil Palung itu.

Senada dengan Halidah. Bertahun-tahun memulung, perempuan asal Handil Bujur itu mengaku tak pernah sakit dalam waktu yang lama.

"Cuma sakit mag karena sering terlambat makan," sebutnya.

Sebelum memutuskan untuk memulung, ia mengakui juga dibayang-bayangi ketakutan serupa.

"Tapi setelah dijalani, ternyata malah jarang sakit. Kalau soal bau tak sedap, sudah pasti. Bahkan, saya pernah tak bisa makan selama sehari karena terus teringat baunya. Setelah itu, ya terbiasa saja," kisahnya.

Di TPA seluas 40 hektare itu, sekalipun bau dan anyir, mereka menanggapinya dengan suka cita.

Sebagai tempat rehat atau mengepak sampah yang dikumpulkan, di sekitar gunungan sampah, mereka mendirikan gubuk-gubuk darurat.

Di situ pula mereka biasa makan dan minum. Tapi sudah biasa pula mereka harus makan di atas gunungan sampah.

Sisi lain, TPA Basirih tak hanya diisi pemulung. Ada pula pedagang makanan keliling. Salah satunya Masran. Ia pedagang pentol dan minuman dingin asal Pasir Mas, Banjarmasin Barat.

Masran pun sempat waswas terjangkit penyakit. Tapi di sana, dagangannya laris manis. Favorit para pemulung adalah tahu rebus dan minuman dingin.

“Awal-awalnya ya sama. Mau makan pun sulit sambil mencium aromanya. Tapi setelah itu biasa saja. Malah senang berjualan kemari,” tambahnya.

Seusai berbincang dengan Masran, penulis bertemu Hakmah, ia pemulung senior di sini. Dia sudah memulung di sana sejak TPA dibuka. Umurnya kini 62 tahun.

“Tuhan memang maha adil. Mungkin karena pekerjaan kami begini, dikasih rezeki dengan jarang sakit,” ujarnya yakin.

Sampah Medis Bahayakan Pemulung

LIMBAH medis seperti masker masih menjadi masalah di Banjarmasin.

Tergolong bahan berbahaya dan beracun (B3), masker kerap tercampur dengan sampah rumah tangga.
Dibuang warga ke tempat pembuangan sementara (TPS) dan tiba di TPA Basirih. Ini terjadi akibat tak adanya pemilahan sebelum dibuang.

Pantauan Radar Banjarmasin di TPA di Banjarmasin Selatan tersebut, banyak masker bekas yang berserakan.
Ini menambah risiko pekerjaan memulung. Contoh Aluh, ia mengaku kerap tak sengaja memegang masker-masker bekas tersebut.

"Terkadang masih terbungkus, banyak pula yang berserakan. Biasanya langsung kami sisihkan saja," ujarnya.
Koordinator lapangan TPA Basirih, Rustam mengharapkan kesadaran masyarakat untuk memisahkan bungkusan sampah rumah tangga dan limbah medis sebelum dibuang ke TPS.

"Kami sangat berharap agar kedua jenis sampah ini jangan dicampur. Terserah masker-masker bekas itu mau dikubur atau dibakar. Asal jangan digabung dengan sampah non medis," harapnya.

Terpisah, Kepala Bidang Kebersihan dan Pengelolaan Sampah di Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Banjarmasin, Marzuki juga membenarkan kenyataan itu.

Karena imbauan saja tak cukup, DLH sudah mengeluarkan edaran ke semua puskesmas.

“Puskesmas sudah memiliki angkutan resmi untuk mengumpulkan sampah medis. Untuk kemudian dimusnahkan secara aman,” jelasnya.

Ia khawatir, bila masker bekas itu berasal dari warga yang sedang isolasi mandiri, maka sampah itu menjadi media penularan baru.

Apalagi jika ada yang memungutnya, dibersihkan sekadarnya dan dipakai ulang.

Pada akhirnya, yang terpenting adalah pemilahan sebelum dibuang. “Karena kalau sudah sampai ke TPA, sudah tak ada perlakuan khusus. Pasti tercampur baur dengan sampah lain. Petugas kami mengangkut dari TPS ke TPA, langsung timbun saja," tekannya.

Dia mengajak warga untuk memikirkan keselamatan para pemulung ini. "Para pemulung, sedikit banyak berkontribusi mengurangi sampah di bumi. Maka sudah semestinya kita menghargai pekerjaan mereka dengan tidak membuang sampah medis sembarangan," tegasnya.

Perihal klaim pemulung di TPA yang jarang sakit, ia agak sangsi. Menurutnya, mereka tetap wajib mencuci tangan dengan sabun sebelum makan.

“Sepulang bekerja, langsung mandi dan bersihkan diri,” pesan Marzuki. (war/fud/ema)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…

Jumat, 03 September 2021 15:42

Kisah dari Tempat Pembuangan Akhir: Karena Tuhan Maha Adil

Gunungan sampah berarti gunungan rezeki. Hidung mereka sudah berhenti mengeluh.…

Selasa, 31 Agustus 2021 12:19

2.021 Nasi Bungkus Dimasak, PPKM yang Malah Disambut Gembira

PPKM yang satu ini memang beda. Singkatan dari Polisi, Pers…

Rabu, 18 Agustus 2021 08:26

Rayakan 17-an di Tengah PPKM, Remaja Kelayan: Tahun ini Lomba Bertahan Hidup

Kabar duka di tengah perayaan hari kemerdekaan. Data per tanggal…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers