MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Selasa, 07 September 2021 13:25
Militer dalam Pandemi

Dari semua aspek terkait pandemi, keterlibatan polisi dan tentara dalam mendorong kedisiplinan adalah hal yang saya kira paling kontra-produktif.

-- Oleh: RANDU ALAMSYAH

Menyerahkan kekuasaan darurat kepada badan-badan keamanan tanpa pengawasan sipil yang efektif dapat memberikan pukulan telak bagi perjuangan kebebasan sipil yang telah berjalan selama dua dekade di Indonesia.

Kampanye semacam "Pakai Masker Harga Mati, Tidak Pakai Masker Bisa Mati" Adalah narasi-narasi khas militer yang meneror psikososial masyarakat yang sejatinya telah tertekan sejak awal pembatasan.

Tekanan ini semakin memburuk saat PPKM darurat berbagai level diberlakukan. Meski sejak awal aparat menjanjikan pendekatan humanis, tapi Anda tahu, hal-hal tidak selalu berjalan baik di lapangan.

Melibatkan polisi dan tentara memang bukan hal baru dalam politik di Indonesia. Ini terjadi di semua rezim. Tapi di kabinet pemerintahan Joko Widodo--konsentrasi perwira perwira militer terbesar sejak orde Baru-- keterlibatan militer mempengaruhi jalan dan kebijakan pemerintahan.

Jokowi sangat tergantung dengan militer dalam mengatur negara dan mengelola urusan sipil. Dua pejabat kabinet yang paling menonjol adalah Menko Maritim dan Investasi Jenderal TNI (purn) Luhut Binsar Panjaitan dan Menteri Dalam Negeri Jenderal Tito Karnavian.

PPKM misalnya merupakan kebijakan yang diformulasikan oleh Presiden Jokowi dan Luhut sebagai koordinator lapangannya serta instruksi teknis kerapkali diumumkan oleh Tito Karnavian.

Karenanya mudah memahami bahwa penanganan pandemi kita sangat terpengaruh oleh pendekatan militer yang menekankan kesempurnaan dan nol toleransi. Saat seorang tentara ditugaskan untuk sebuah operasi misalnya, mereka diwajibkan untuk berhasil--apapun taruhannya.

Hal ini tidak akan berjalan baik dalam penanganan pandemi. Wabah merupakan problem yang rumit karena penangannya membutuhkan pertimbangan lintas bidang: budaya, sosial, kesehatan, ekonomi, dll. Karena itu dibutuhkan panduan yang bernuansa yang mencerminkan pertukaran disiplin ilmu.


Sayangnya panduan yang bernuansa tidak kita dengar akhir-akhir ini. Kita hanya disuguhi solusi absolut khas militer: jika persoalan belum selesai, maka operasi juga tak akan selesai.


Luhut misalnya mengatakan PPKM akan tetap ada selama pandemi masih ada. Pernyataan ini menggambarkan minimnya wawasan dan nasihat ilmiah tentang bagaimana cara virus ini menular dan bereplikasi.


Dominasi dan narasi-narasi militer dalam penanganan krisis kesehatan di Indonesia telah menghasilkan kombinasi antara kekacauan dan represi yang keras, alih-alih penyeimbangan semua pertimbangan yang berbasis fakta ilmiah.

Tapi fakta dan temuan -temuan baru ilmu pengetahuan akan penularan Covid-19 bukan hal yang benar-benar penting dalam penanganan pandemi di Indonesia yang sangat militeristik.

Sebagai seorang pekerja kafe part-time, saya mengalami sendiri bagaimana susahnya berargumen dengan mereka yang tidak memiliki pertimbangan lain selain "menjalankan perintah dari komandan."

Celakanya, karena PPKM telah berlangsung lama, rutinitas patroli dan operasi yustisi ini membuat para aparat keamanan menjadi demikian frustrasi oleh ketidakpatuhan publik. Banyak yang akhirnya menumpahkan kekesalannya kepada pengusaha kecil, para pedagang yang hanya sekadar bertahan mencari makan untuk satu dua hari.

Saya tak bisa membayangkan kita akan memasuki sebuah masa saat mereka yang berusaha mencari nafkah halal diperlakukan tak lebih baik dari penjual narkoba. Dibentak-bentak karena melakukan pelanggaran yang sebenarnya masih perlu diperdebatkan.

Penanganan krisis kita sudah terlalu jauh melenceng dari tujuan awalnya. Alih-alih mengendalikan virus, pemerintah kita seolah terobsesi untuk mengontrol dan mengendalikan rakyat negara. Keterlibatan militer yang sangat kental ini bisa saja akan mempengaruhi jalan politik Indonesia di masa depan. (*)


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers