MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Kamis, 09 September 2021 12:13
Terdengar Fals

TANGGAL 3 September kemarin, Virgiawan Listanto genap berumur 60 tahun. Itu nama aslinya. Dan hampir seluruh rakyat Indonesia cuma mengenal nama panggungnya, Iwan Fals.

-- Oleh: Muhammad Syarafuddin, Editor di Radar Banjarmasin

Bahkan nama julukannya masih lebih terkenal, Penguasa Leuwinanggung dan Manusia Setengah Dewa.
Terhadapnya, setiap orang memiliki kenangannya masing-masing. Semasa sekolah, saya menabung untuk membeli kaset Belum Ada Judul (1992).

Walaupun, ujung-ujungnya cuma hits-nya saja yang diputar. Seperti Bento, Pesawat Tempur, Oemar Bakri dan Sarjana Muda.

Sempat juga mendengarkan Bunga. Bandnya Galang Rambu Anarki, putra Iwan Fals yang mati muda. Hanya karena Galang mirip sekali dengan Kurt Cobain dari Nirvana.

Sebenarnya, kolom ini ditulis seusai membaca berita peluncuran album Pun Kau untuk merayakan ulang tahun Iwan Fals.

Ada jarak delapan tahun dari album terakhirnya, Raya (2013) yang dipromosikan lewat tur keliling Indonesia.

Singgah ke Banjarmasin, Iwan Fals manggung di Stadion Lambung Mangkurat. Ditugaskan meliput, saya tak bisa lebih bahagia lagi.

Dalam agendanya, Iwan Fals akan menanam pohon di area stadion. Dilanjutkan dengan konferensi pers.

Saya menyiapkan spidol dan kaus bergambar wajahnya untuk ditanda tangani. Semata-mata untuk dipamerkan ke kawan-kawan.

Apesnya, Banjarmasin seharian diguyur hujan deras. Acara dibatalkan, tidak ada wawancara. Berdiri di luar stadion mengenakan jas hujan, saya tak bisa lebih sedih lagi.

Setidaknya saya terhibur, malam itu konser bakal digelar. Persetan dengan cuaca, mari bersenang-senang.

Menjelang pertunjukan, manajemen artis yang menaungi Iwan Fals, Tiga Rambu mengumpulkan wartawan.

Instruksinya, cuma boleh memotret di bibir panggung dari lagu pertama sampai ketiga, setelah itu enyahlah. Agak kaget, tapi ternyata standar konser musik di luar negeri juga begitu.

Tanpa lensa tele, artinya mesti habis-habisan memotret selama 15 menit pertama.

Toh, wartawan harus banyak akal. Masih bisa menyelinap, naik dari samping atau belakang panggung. Mencuri-curi kesempatan memotret dari jarak dekat.

Malam itu, Iwan Fals mengenakan kain Sasirangan sebagai ikat kepala. Dengan uban keperakan, ia bak pendekar tua dengan kharisma memancar.

Separuh konser berikutnya, kami cuma duduk di depan pagar yang membatasi penonton. Ikut bernyanyi sampai parau. Persetan dengan pekerjaan.

Hingga momen itu datang, ketika Iwan Fals menunjuk ke arah kami. Menceritakan pengalaman buruknya dengan media.

Bagaimana koran dan majalah hanya menulis tentang konsernya yang rusuh. Wartawan enggan atau tak bisa menulis ulasan yang bermutu untuk karya-karyanya.

Penonton pun serempak menyoraki kami. Saya tak bisa lebih malu lagi.

Apakah kami berhak untuk marah? Penggemar membeli tiket, rela mengeluarkan puluhan ribu rupiah.

Sedangkan kami, bermodal kartu pers bisa masuk dengan gratis plus mendapat posisi menonton terbaik.

Walaupun di dalam hati saya tetap menggerutu. Membalasnya, mencap seorang Iwan Fals pun melembek.

Tembangnya sudah cinta-cintaan.

Namun, bersikap kritis pada zaman Orba bukan lah perkara enteng. Keberanian saja tak cukup, harus disertai ketegaran.

Lain dengan era Reformasi, sekarang siapapun bisa tampil kritis, apalagi di medsos. Bedanya suara kita tak semerdu Iwan. Kritik kita terdengar fals. (*)


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers