MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 09 September 2021 12:27
Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas
ERA SENJA: Haji Abdul Syukur bersama tumpukan koran bekasnya. Agennya berada di Jalan Pangeran Samudera Gang Penatu, Banjarmasin Tengah. | FOTO: ENDANG SYARIFUDDIN/RADAR BANJARMASIN

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin yang lebih memilih berdagang koran bekas. Namanya Haji Abdul Syukur. Inilah ceritanya.

-- Oleh: ENDANG S, Banjarmasin

SELESAI salat zuhur, pria 73 tahun itu langsung menuju teras rumahnya di Jalan Pangeran Samudera. Di situ menumpuk koran bekas. Tak hanya dari media yang terbit di Kalsel, tapi juga dari Kalteng.

Haji Syukur termasuk agen koran dan majalah paling senior di Banjarmasin. Menggeluti bisnis ini sejak tahun 70-an dari Gang Penatu yang tersohor itu.

Sebelum menjadi agen, kakek lima buyut ini dulunya meloper koran. Bertahun-tahun mengasong, ia mencoba peruntungannya.

Usahanya berhasil. Media-media mempercayai dan menyuplai produk kepadanya. Seperti Jawa Pos, Tempo, Nova, Bobo dan banyak lagi.

Usahanya maju pesat. Bukan hanya memasok ke kantor-kantor pemerintahan, lapak-lapak pengecer juga mengambil koran dan majalah dari tempatnya.

Meski sudah dibantu anak-anaknya, Haji Syukur tetap saja kewalahan. Ia kemudian merekut puluhan karyawan. Masa-masa indah ini berlangsung antara awal 80-an sampai awal 2000-an.

Ketika internet tiba, perlahan pembelinya terus menurun. Ia melihat pelanggannya ramai-ramai beralih ke media-media daring.

Haji Syukur terpaksa mengurangi karyawannya, satu demi satu sampai habis. Kelima anaknya sendiri sudah memiliki pekerjaan.

Hanya tersisa ia seorang yang bertahan di agen itu. “Paling terasa berat adalah tiga tahun terakhir, apalagi ada pandemi,” ujarnya lirih, Selasa (7/9).

Dahulu, ia mampu menjual puluhan ribu eksemplar per hari. Sekarang terjual ribuan pun sudah bagus. “Dulu bisa dapat Rp3 juta sehari,” kenangnya.

Sebelum dibagikan kepada pengecer dan peloper, koran dan majalah baru dengan bau tinta cetak, memenuhi rumahnya yang berukuran 7x7 meter tersebut.

Sekarang, digantikan oleh tumpukan koran bekas yang menguning dan berbau apak.

Dia banting setir ke penjualan koran bekas karena laba yang lebih baik. Sebagai gambaran, satu eksemplar koran baru dijual Rp2 ribu sampai Rp3 ribu. Tapi perputarannya lambat dan berisiko tak laku.

Sedangkan koran bekas dulu cuma dihargai Rp2 ribu per kilogram. Sekarang laku dijual Rp10 ribu.

Setiap hari, ada saja pedagang nasi bungkus yang datang mencari koran bekas. Lumayan untuk bertahan hidup. “Satu bulan, omzetnya sekitar Rp7,5 juta,” sebutnya.

Haji Syukur mendapatkan tumpukan koran bekas itu dari para pengepul. Dari provinsi tetangga pun dibelinya. “Tapi saya membelinya dari orang ketiga. Enggak tahu mereka dapatnya dari mana,” tutupnya. (fud/ema)


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers