MANAGED BY:
RABU
29 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE
Sabtu, 11 September 2021 22:50
Yang Keliru dari Pesan Pandemi Kita

Yang paling rawan dalam penanganan pandemi di Indonesia adalah kemalasan pemerintah untuk menavigasi pengetahuan masyarakat sesuai dengan ilmu pengetahuan yang berkembang tentang virus corona.

Ini membuat semua kampanye tentang protokol kesehatan bukan saja sia-sia, tetapi malah membahayakan-- karena dalam satu dan lain hal, penularan virus bekerja berlawanan dari hal-hal yang telah dijadikan pedoman.

Misalnya anjuran untuk berada " di rumah saja". Kampanye "di rumah saja" ini masih terus kita dengar meski banyak penelitian ilmiah menunjukkan kebanyakan penularan virus corona justru terjadi di dalam rumah.

Satu penelitian awal tahun ini menemukan bahwa orang yang sakit 18,7 kali lebih mungkin menyebarkan virus corona di lingkungan tertutup daripada di ruangan terbuka.

Harusnya pemerintah mengubah kampanyenya menjadi "di luar saja". Meski konyol tetapi itulah pedoman yang minim risiko. Tetapi tidak,pemerintah justru membatasi orang bersosialisasi di luar rumah.

Pantai-pantai dan tempat wisata, kafe-kafe dengan tempat makan outdoor, lucunya, berusaha ditutup. Seringkali tindakan pelarangan ini dilakukan secara represif. Ini membuat orang tidak menemukan pilihan selain kembali ke rumah dan menghadapi risiko penularan sekali lagi.

Yang juga tidak berubah adalah kampanye kebersihan. Cerita lama yang praktiknya bisa kita lihat sampai sekarang adalah orang-orang saling bersalaman dengan genggaman tangan.

Mereka khawatir jika melakukan kontak dengan tangan orang lain atau permukaan yang disentuh orang sakit, dan kemudian menyentuh mata atau bibir, bisa menginfeksi diri sendiri.

Para ilmuwan telah lama menolak itu. Virus corona menyebar melalui udara, bukan melalui permukaan. Sejak akhir tahun 2020 lalu, ilmuwan telah mendesak CDC, Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat untuk meluruskan itu.

Awal Juli tadi akhirnya CDC melakukannya. Mereka mengumumkan "Berdasarkan data epidemiologi yang tersedia dan studi tentang faktor transmisi lingkungan, transmisi permukaan bukanlah rute utama penyebaran SARS-CoV-2, dan risikonya dianggap rendah.”

Sayangnya pesan yang terlanjur menyebar tidak bisa dengan mudah ditarik. Tukang semprot disinfektan masih sering Anda lihat menghukum setiap kursi, setiap pintu, lantai. Bahkan masih ada mobil tangki besar yang keliling di jalan raya menyemprot aspal dan bahkan setiap atap rumah.

Sekolah-sekolah dan tempat publik juga masih melakukannya. Mereka menutup gedung atau kelas jika ditemukan ada kasus baru. Alih-alih, memeriksa ventilasi tertutup yang menjadi penyebab udara tidak bersirkulasi dengan baik.

Kalau kita mengatakan seperti ini, mungkin ada yang menjawab: Emang apa salahnya dengan mencuci tangan? Bukankah itu baik?

Memang benar. Tetapi penekanan terhadap aspek kebersihan itu bisa mengalihkan orang-orang dari masalah yang sebenarnnya.

Misalnya jika Anda memberi tahu orang-orang, “Penyakit ini ada menempel di permukaan, di pakaian Anda, di tangan Anda, di wajah Anda, dan juga di udara,” mereka akan bereaksi dengan cara yang berlebihan.

Tetapi jika Anda memberi tahu orang-orang yang sebenarnya—virus ini tidak terlalu menular di permukaan, jadi Anda harus fokus pada penyebaran udara—-mereka dapat melindungi diri dan lebih memperhatikan hal-hal seperti ventilasi yang buruk.

Masker adalah satu-satunya hal yang benar. Tetapi dorongan eksesif untuk memakainya seringkali memicu kesalahan praktik.

Banyak orang memakai masker justru ketika hendak ke luar ruangan, dan ketika sampai di dalam restoran atau ruangan tertutup lain, masker dilepas.

Padahal panduan ilmiah justru lebih tepat sebaliknya. Anda tak perlu memakai masker di udara terbuka, dan lebih penting memakainya di ruangan tertutup.

Dalam seminar, seringkali kita melihat pembicara melepas masker saat akan berpidato dan para audiens dihadapanya memakai masker mendengarkannya.

Padahal yang benar sekali lagi justru sebaliknya: pembicara yang harus memakai masker, pendengar tak perlu selama mereka tidak membuka mulut untuk berbicara.

Hal-hal semacam ini membutuhkan sebuah sistem yang gesit dan bekerja berdasarkan panduan sains. Krisis mendasar bagi lembaga-lembaga pemerintah kita adalah mereka berfokus pada ikhtiar dan kinerjanya daripada mengkaji tindakan yang benar-benar efektif.

Yang lebih sedih, adalah semua upaya ini menyita banyak sumber daya. Semuanya diarahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak merupakan ancaman yang nyata. Triliunan anggaran negara telah dipakai, sementara hasilnya tidak seberapa atau mungkin tidak ada bedanya.

Atau mungkin memang itu tujuannya. Tak penting sains dan panduannya-- kata seorang teman saya, yang penting semua institusi punya proyek bancakan anggaran.

"Gak perlu menulis macam-macam teori, ini sudah jelas," katanya, "yang miskin akan dibatasi bahkan sekadar mencari penghidupan, sementara yang kaya dan berkuasana akan mengambil keuntungan. Ini kesempatan bagi mereka."


BACA JUGA

Jumat, 09 Oktober 2015 08:29

Target Fornas Sepuluh Besar

<p style="text-align: justify;"><strong>BANJARMASIN</strong> - Hari ini…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers