MANAGED BY:
MINGGU
24 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Senin, 20 September 2021 16:30
Melihat Pembuatan Rinjing Ala Nagara di Daha Utara

Ukuran Tidak Berubah, Hanya Lebih Bervariasi

TUNJUKKAN: M Taher menunjukkan rinjing buatannya. Dia sudah membuat rinjing sejak tahun 1975 silam. | FOTO: SALAHUDIN/RADAR BANJARMASIN

Jika Anda ke dapur, Anda kemungkinan akan menemukan rinjing atau wajan ala Nagara. Di Kecamatan Daha, Hulu Sungai Selatan, kerajinan ini masih bertahan dari generasi ke generasi.

-- Oleh: SALAHUDIN, Kandangan

PENGRAJIN rinjing Nagara tersebar di beberapa desa di Kecamatan Daha. Salah satu paling lama yang pernah membuatnya adalah keluarga Murni dan Jamilah di Desa Pakapuran Kecil, Daha Utara. Keluarga ini membuat rinjing sejak tahun 1975. Saat ini usaha diteruskan generasi kedua oleh menantunya yaitu M Taher (43). 

Saat mengunjungi usaha cor logam akhir pekan tadi sekilas terlihat aktivitas apapun di rumah. Begitu memasuki bagian belakang rumah, terlihat empat pekerja terdiri dari dua orang pria dan dua orang wanita sedang bekerja menghaluskan atau membubut dan mengikir rinjing yang sudah dibikin.

Tak seperti dulu, pembuatan rinjing tidak lagi dilakukan setiap hari. Seminggu sekarang hanya satu kali saja. Kalau pesanan banyak, baru lebih satu kali. “Sekarang pembuatan rinjing hanya setiap hari Kamis saja lagi,” ujar Taher.

Diceritakannya, usaha cor logam rumahan ini berawal di sekitar tahun 1975 silam saat mertuanya Murni mendapatkan pengetahuan pembuatan rinjing dari seorang warga Nagara yang sempat merantau ke Pulau Jawa. Cara pembuatan rinjing didapatkan dari Pulau Jawa ditiru dan dipraktikkan di Nagara.

Pembuatan rinjing pertama membuat cetakan atau tuangannya yang terbuat dari pasir, tanah liat dan abu dari gabah yang sudah dibakar. Setelah selesai, baru limbah alumunium yang dibeli dari pengumpul dicairkan dalam tungku sekitar satu jam.“Kalau alumunium mendidih sudah merata, dimasukkan ke cetakan yang sudah disediakan. Sekitar satu menit rinjing sudah jadi,” ujarnya.

Rinjing yang sudah jadi kemudian dikikir dan permukaan bagian dalamnya dihaluskan dengan cara dibubut.“Selesai semuanya rinjing diberi cap ayam dan siap dijual,” ucapnya.

Dalam setiap pembuatan rinjing, M Taher mempekerjakan sekitar 16 orang untuk mencetak rinjing dari berbagai ukuran dibantu empat orang pekerja mengikir dan membubut. “Jam kerjanya mulai dari jam 8 pagi sampai jam 3 sore atau sebelum salat Ashar,” ucap ayah empat orang anak ini.

Sekali pembuatan, para pekerja dapat melebur alumunium dari 700 kilogram sampai satu ton untuk dijadikan ribuan rinjing dari berbagai ukuran.

“Minimal satu kali pembuatan rinjing dalam seminggunya sekitar lima kodi,” sebut taher.

Dari dulu, ukuran pembuatan rinjing tidak ada perubahan. Hanya besarnya kini sudah bervariasi. Sekarang dari ukuran 11 cm sampai 36. Dulunya tidak ada ukuran ini,” sebutnya. 

Rinjing dengan cap ayam milik Taher dijual dari harga Rp 9 ribu sampai Rp 200 ribu. Rinjing ini sudah dipasarkan ke berbagai wilayah Kalsel sampai Kalteng. “Pemasarannya ke Banjarmasin, Martapura, Sampit, Ampah, Buntok, sampai Palangkaraya,” tuturnya.

Selama pandemi Covid-19, omset penjualan rinjing berdampak. Karena pembelinya tidak sebanyak sebelumnya. “Pembelinya sekarang berkurang karena Covid-19,” ucap Taher.

Selain membuat rinjing, usaha cor logam milik M Taher dalam beberapa tahun terakhir juga membuat panci ala Nagara dengan berbagai ukuran.

“Pancinya untuk satu liter sampai empat liter,” katanya.

Yunus (32), seorang pekerja di tempat pembuatan rinjing milik M Taher mengatakan dirinya membuat rinjing mulai tahun 2012 dari melihat cara pengolahannya dan mempraktikkanya langsung. “Alhamdulillah setelah melihat dan mencoba akhirnya bisa,” ujarnya. 

Dirinya bekerja setiap hari, dari membuat sampai membubut rinjing. “Gajinya per hari dari Rp 85 ribu sampai seratus ribu lebih,” kata warga Desa Banua Hanyar, Kecamatan Daha Selatan ini.

Sedangkan Hamidah (50) warga Desa Pakapuran Kecil mengatakan dirinya bekerja mengikir rinjing sejak tahun 2018. “Dalam sehari dapat mengikir rinjing sampai 13 kodi. Tergantung ukuran rinjingnya,” katanya.(ran/ema)


BACA JUGA

Jumat, 22 Oktober 2021 17:21

Cerita Jarkuni si Penarik Becak, Wong Cilik dengan Pesan Besar

Sebagai penarik becak, kehidupan Jarkuni memang serba sulit. Tapi bukan…

Sabtu, 16 Oktober 2021 15:26

Dari Banjar Mural Festival 2021; Menggantung Harapan di Dinding Beton

Di depan penonton, sosok seniman perempuan itu tampil mengumbar senyum.…

Rabu, 13 Oktober 2021 16:13

Noer Arief, Imam Masjid yang Sukses Bisnis Budidaya Lebah Kelulut

Selalu ada jalan untuk usaha apapun. Intinya kegigihan dan ketelatenan.…

Rabu, 13 Oktober 2021 15:56

Baru Kulit, Belum Menyentuh Isi

Parang Bungkul dan Lais adalah nama senjata tajam yang populer…

Selasa, 12 Oktober 2021 14:52

Si Pencabut 40 Nyawa

Parang tua itu tampak berkarat dimakan usia. Dipajang tanpa gagang…

Jumat, 08 Oktober 2021 15:16

Dulu Kandang Itik, Sekarang Tempat Lahirnya Hafiz Quran

Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiyaul Ulum berdiri tahun 2019. Di lokasi…

Jumat, 08 Oktober 2021 13:56

Beda Anak Dulu dan Sekarang

Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji.…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:37

Nasib Guru Pendidikan Agama Islam yang Terancam Tak Diperpanjang Kontraknya

Memakai seragam hitam putih dan peci hitam, Fahriadi berjalan pelan…

Kamis, 30 September 2021 09:59

Kala Ilung Tutup Semua Rawa di Paminggir, Penumpang Sampai Terpaksa Bermalam di Kapal

Kecamatan Paminggir hanya bisa diakses dengan angkutan sungai. Nah bagaimana…

Rabu, 29 September 2021 12:48

Berpenghasilan Rp600ribu Perbulan Untuk Biaya Sekolah

Mungkin Nurman bisa menjadi inspirasi pelajar lain. Memanfaatkan lingkungan sekitar,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers