MANAGED BY:
SELASA
26 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 22 September 2021 14:14
Masuk 1000 Wanita Terbaik Dunia yang Diusulkan untuk Nobel Perdamaian

Harmawati, Perempuan dari Pulau Burung yang Bangun Sekolah Nelayan

INSPIRATIF: Harmawati menjahit kain sasirangan di Pulau Burung, Kotabaru. Dia menjadi tokoh penggerak pendidikan di pulaunya.

Resah dengan mayoritas remaja di pulau tempatnya lahir buta huruf, Harmawati mendirikan sekolah pulau 25 tahun yang lalu. Kini ia menikmati masa tuanya dengan banyak penghargaan, beberapa berskala dunia.

-- Oleh: ZALYAN SHODIQIN ABDI, Batulicin

Pulau itu dekat dengan Tanah Bumbu. Namanya Pulau Burung. Kecil ukurannya. Jaraknya sekitar 20 menit pakai perahu mesin dari dermaga pusat kota. Pulau itu bisa dikelilingi jalan kaki tiga jam.

Mayoritas warganya nelayan. Tanaman buah banyak tumbuh di sana. Saat ini sedang panen durian. Tahun 90, jumlah rumah di pulau masih bisa dihitung jari. Harmawati tinggal bersama suaminya, Cunding. Tepat di tengah-tengah pulau.

Cunding kerja di perusahaan kayu, PT Kodeco. Keluarga kecil ini hidup sederhana. Layaknya warga yang tinggal di pulau kecil. Semua hal berjalan harmonis. Kecuali satu: pendidikan.

Kala itu, orang pulau yang mengenyam sekolah bisa dihitung jari. Salah satunya Harmawati, tamatan Sekolah Rakyat."Jadi dulu anak muda di sini kalau kawin pakai cap jempol. Rata-rata buta huruf, tidak bisa menulis," ceritanya kepada penulis, Selasa (21/9) petang.

Awalnya tidak terbersit keinginan membangun sekolah. Baru ketika anak keduanya masuk usia tujuh tahun, Harmawati mulai mengutarakan niatnya."Anak saya pertama sekolahnya terbengkalai. Sekolah jauh lokasinya. Dan dia sering ikut pamannya bekerja."

Anak-anak lain juga begitu. Sedikit bisa sekolah ke kota. Kalau pun sekolah biasanya putus. Ekonomi warga pulau terbatas. Pria usia sekolah dasar sudah kerja melaut bersama orang tua.

Punya cukup pengetahuan bekas di SR, Harmawati pun mengusulkan ke orang-orang. Di pulau harus ada sekolah. Biar dia yang mengajar, jadi anak-anak bisa tetap ke laut. Dirinya tidak perlu dibayar.

Ayah Harmawati termasuk yang paling awal setuju. Jika ada sekolah, cucunya tidak perlu ke seberang pulau. "Beliau yang bikin sekolah sama orang pulau," beber perempuan yang lahir 19 September 1956 ini.

Harmawati masih ingat. Tahun 1996 sekolah itu berdiri. Ukurannya tiga kali enam. Berlantai tanah, berdinding papan setengah bangunan. Atapnya hanya daun nipah. Dibangun dekat rumahnya. Namanya Sekolah Rakyat Tunas Nelayan. Diambil dari filosofi bahwa yang belajar di sana adalah anak para nelayan.

"Hampir semua anak-anak sekolah. Ada empat puluh murid pertama. Jangan bayangkan usianya tujuh tahun semua. Ada yang sudah 12 tahun," kenangnya.

Tiap hari ibu muda itu mengajar. Jika hujan mereka terpaksa berlindung. Kapur habis, suami yang belikan di kota pakai uang sendiri.

Tahun berganti. Murid-murid tambah banyak. Dibangun lagi satu sekolah. Sampai tahun ke tiga, lengkap tiga ruangan."Di sini saya kepayahan. Masuk kelas satunya, yang kelas lainnya ribut. Jadi pindah-pindah kelas. Sendiri masih soalnya."

Tapi Harmawati menikmati. Selain karena salah satu muridnya adalah anak kandung sendiri. Juga gembira, remaja sekarang sudah tidak perlu lagi cap jempol kalau mau kawin. Anak-anak sudah bisa baca tulis.

Nikah di zaman itu memang cepat. Belasan tahun sudah biasa remaja bersanding di pelaminan. Kondisi ekonomi membuat anak pria cepat jadi dewasa. Mereka kebanyakan menikah dengan keluarga sendiri. Jarang orang pulau berjodoh dengan orang luar.

Tahun ke empat, kelulusan pertama digelar. Kerja keras Harmawati mendapat pujian. Tahun 2000 an, SR itu berubah jadi SD. Guru tambahan datang ke pulau. Harmawati pun mengambil Paket B.

Sepuluh tahun mengabdi, baru kemudian Harmawati merasakan makan gaji. "Gaji pertama itu tujuh ribu lima ratus," kekehnya.

Sudah dapat gaji, ia mengembangkan kualitas mengajar. Ke kota cari-cari buku di instansi pemerintah. "Kadang dapat bantuan banyak buku. Tapi cuma sedikit yang bagus kertasnya," katanya.

Di era Bupati Zairullah Azhar, saat Tanah Bumbu mekar dari Kotabaru, pendidikan digenjot maksimal. Nama Harmawati pun mulai dikenal di pemerintah. Kiprahnya dituturkan dari mulut ke mulut. Hingga salah satu koran nasional memasukkannya dalam artikel setengah halaman.

Puncaknya di tahun 2005, Harmawati dipanggil Presiden SBY. Dia mendapat penghargaan Woman of The Year. "Itu pertama kalinya saya naik pesawat," gelaknya. Dia lantas memperlihatkan foto bersama SBY. Masih muda, parasnya ayu.

Tak lama dia kembali dapat penghargaan di tahun 2005. Satu dari seribu wanita berpengaruh di dunia versi 1000peacewomen.org, situs yang berfokus pada pemberdayaan perempuan yang menominasikan 1000 orang perempuan untuk hadiah nobel perdamaian. "Ada bukunya. Cuma dipinjam Danlanal. Belum dikembalikan."

Dari semua penghargaan itu, Harmawati dapat mengumpulkan uang Rp40 juta. Dia pun naik haji. "Kalau ditanya apa cita-cita belum sampai, ada satu. Cuma kayaknya gak mungkin ya. Mau menaikkan semua keluarga saya umrah," lirihnya.

Kini Harmawati tinggal di rumah sendiri. Suaminya meninggal 2016 silam. Dia pun sudah memilih pensiun dua tahun lalu. Kadang anaknya gantian menemaninya di rumah.

Mengisi waktu luang, Harmawati menjahit kain sasirangan. Jika siang jendela dan pintu rumahnya selalu terbuka lebar. Orang pulau biasa mendengar suara mesin jahit dan alunan musik dari radio tua dari rumahnya. Sebelum pandemi, suara radio itu lapat-lapat tenggelam oleh gelak tawa pelajar SD di halaman sekolah.(ran/ema)


BACA JUGA

Jumat, 22 Oktober 2021 17:21

Cerita Jarkuni si Penarik Becak, Wong Cilik dengan Pesan Besar

Sebagai penarik becak, kehidupan Jarkuni memang serba sulit. Tapi bukan…

Sabtu, 16 Oktober 2021 15:26

Dari Banjar Mural Festival 2021; Menggantung Harapan di Dinding Beton

Di depan penonton, sosok seniman perempuan itu tampil mengumbar senyum.…

Rabu, 13 Oktober 2021 16:13

Noer Arief, Imam Masjid yang Sukses Bisnis Budidaya Lebah Kelulut

Selalu ada jalan untuk usaha apapun. Intinya kegigihan dan ketelatenan.…

Rabu, 13 Oktober 2021 15:56

Baru Kulit, Belum Menyentuh Isi

Parang Bungkul dan Lais adalah nama senjata tajam yang populer…

Selasa, 12 Oktober 2021 14:52

Si Pencabut 40 Nyawa

Parang tua itu tampak berkarat dimakan usia. Dipajang tanpa gagang…

Jumat, 08 Oktober 2021 15:16

Dulu Kandang Itik, Sekarang Tempat Lahirnya Hafiz Quran

Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiyaul Ulum berdiri tahun 2019. Di lokasi…

Jumat, 08 Oktober 2021 13:56

Beda Anak Dulu dan Sekarang

Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji.…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:37

Nasib Guru Pendidikan Agama Islam yang Terancam Tak Diperpanjang Kontraknya

Memakai seragam hitam putih dan peci hitam, Fahriadi berjalan pelan…

Kamis, 30 September 2021 09:59

Kala Ilung Tutup Semua Rawa di Paminggir, Penumpang Sampai Terpaksa Bermalam di Kapal

Kecamatan Paminggir hanya bisa diakses dengan angkutan sungai. Nah bagaimana…

Rabu, 29 September 2021 12:48

Berpenghasilan Rp600ribu Perbulan Untuk Biaya Sekolah

Mungkin Nurman bisa menjadi inspirasi pelajar lain. Memanfaatkan lingkungan sekitar,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers