MANAGED BY:
SELASA
26 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 24 September 2021 11:44
37 Tahun Mengabdi Sebagai Guru Honorer, Sabran: Jangan Selalu Memikirkan Uang
PENGABDIAN: Syabran Has mengajar di kelas 2c, kemarin (23/9). Ia sudah mengajar di sana sejak sekolah itu masih memakai nama lama SD Pekapuran Baru. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Menjadi guru honorer sejak tahun 1984 hingga kini bukanlah waktu yang sebentar. Alih-alih mengeluh, Syabran Has justru menitipkan pesan: amalkan ilmu, nikmati, lalu bersyukurlah.

-- Penulis: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Bel tanda berakhirnya jam pelajaran baru saja berbunyi. Di ruang kelas 2c SDN Karang Mekar 1, Syabran menadahkan kedua tangan diikuti muridnya.

Tak berapa lama, lantunan doa penutup belajar dibacakan.

Seusai berdoa, dengan lantang para murid berucap, “Terima kasih bapak dan ibu guru!” Kemudian dengan tertib siswa meninggalkan kelas.

“Karena penilaian tengah semester (PTS), hari ini anak-anak pulang lebih cepat,” ucap Syabran.

Pria 62 tahun itu satu dari ribuan guru honorer yang mengabdi untuk dunia pendidikan Banjarmasin. Ia mengajar di SDN Karang Mekar 1 sejak masih bernama SDN Pekapuran Baru.

Ditemui di ruang guru, Syabran tampak bersemangat menceritakan pengalamannya menjadi guru. Sekalipun pada awal wawancara agak malu-malu.

Kisahnya menjadi guru dimulai awal tahun 1984. Mulanya sekolah yang berlokasi di Jalan Pangeran Antasari Kecamatan Banjarmasin Timur itu membutuhkan seorang guru pendamping.

Bermodalkan ijazah Madrasah Aliyah (MA) Siti Maryam, Syabran mengajukan lamaran.

“Alhamdulillah diterima. Sebelumnya, sambil belajar di Aliyah saya bekerja sebagai buruh plywood (kayu lapis),” ceritanya.

Mulanya Syabran harus mengampu semua mata pelajaran. Bahkan hingga kelas keterampilan tangan.

“Apabila kekurangan guru, saya juga yang menggantikan. Misalkan guru yang bersangkutan sedang sakit atau berhalangan," ungkapnya.

Seiring waktu, ketika jumlah guru pegawai negeri bertambah, dirinya kini hanya mengampu mata pelajaran agama dan baca tulis Alquran.

“Tapi dua tahun terakhir, saya hanya mengisi pelajaran baca tulis Alquran di sembilan kelas. Kelas 1 ada tiga kelas, kelas 2 ada tiga kelas dan kelas 3 ada tiga kelas,” rincinya.

Selama hampir empat dekade, ia telah melewati era 10 kepala sekolah. Kenangan suka dan duka tentu melimpah.

Tapi bagi Syabran lebih banyak sukanya. Karena baginya mengajar itu mengasyikkan. “Saya senang mengajar. Melihat anak-anak antusias belajar. Canda tawanya. Karena sedari dulu memang bercita-cita menjadi pendidik,” jelasnya.

Soal jenjang karir, Syabran bukannya tak mengidamkan status pegawai negeri. Ia mengaku pernah mengikuti tes CPNS. Berulang-ulang kali. Tapi tak sekali pun lulus. Padahal, nilainya tergolong bagus.

“Saya tanya mengapa tak lulus, ternyata karena usia yang sudah tidak memenuhi persyaratan. Kalau saya tidak keliru, saat itu batas maksimal umur 45 tahun. Umur saya kelebihan delapan bulan,” ungkapnya lalu tertawa.
Bahkan, ia juga pernah mencoba tes menjadi anggota TNI dan Polri. Sama saja, tak lulus-lulus.

“Makin ke sini, saya jadi berpikir bahwa usaha saya sudah cukup. Sepertinya saya memang ditakdirkan untuk mengajar. Alhamdulillah, itulah yang saya jalani hingga sekarang,” ucapnya.

Namun, bukan berarti Syabran cuek dengan nasib guru honorer lainnya. Dibuktikannya dengan menjadi pembimbing ketika ada guru honorer baru yang masuk ke sekolah.

Menurut Syabran, adalah lumrah bila tuntutan yang dihadapi guru honorer di zaman sekarang lebih banyak dari guru honorer zaman dahulu. Maka ia merasa kasihan dengan nasib para juniornya.

“Tugas saya sebagai guru honorer mungkin tak seberat mereka. Istilahnya, guru honorer sekarang dituntut mampu merangkap banyak pekerjaan. Tidak hanya mengajar,” lanjutnya.

Contoh, disuruh membantu di bagian administrasi atau kurikulum sekolah. Akibatnya, Syabran kerap menyaksikan guru honorer yang tak merasa nyaman dengan pekerjaannya.

“Saya berharap pekerjaan ini bisa dikembalikan seperti dulu. Mengajar, ya mengajar saja. Jangan dibebankan banyak tuntutan. Buatlah para guru honorer merasa nyaman,” harapnya.

Mengingat sedang ramai seleksi CPNS dan guru PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kontrak), ia mendoakan agar rekan-rekannya tak patah semangat.

Tentu sembari meluruskan niat untuk mengamalkan ilmunya. “Jangan selalu memikirkan persoalan uang. Gaji kecil atau sedikit. Kalau yang dipikirkan melulu itu, sampai kapan pun saya pikir takkan merasa cukup. Nikmati pekerjaanmu, lalu syukurilah," tutupnya.

Awal Julukan Karang Mekar Harum

DI LINGKUNGAN sekolah yang berlokasi di Kelurahan Karang Mekar itu, Syabran Has dikenal sebagai sosok yang ramah dan lucu.

“Itulah yang membuat beliau disukai semua orang,” kata Siti Aisyah dan Taruna berbarengan.

Keduanya satu angkatan dengan Syabran. Bedanya, kedua ibu guru itu sudah berstatus PNS. Sedangkan Syabran masih menghonor.

“Beliau keasyikan mengajar. Jadi sampai enggan meneruskan pendidikan guru dengan mengikuti kelas penyetaraan,” tambah Aisyah.

Namun, seingatnya, tak pernah terdengar keluh kesah dari mulut Syabran. Baginya, pria itu selalu tampil optimis.

“Apapun dipelajari. Beliau tak segan untuk sharing dengan guru-guru yang lebih muda. Sebaliknya, beliau juga tak pelit ilmu serta pengalaman,” imbuhnya.

Selain itu, Syabran juga jarang marah. Bahkan mungkin tak pernah.

“Kalau kami, umumnya ditakuti anak-anak. Tapi kalau beliau, justru dipeluk-peluk dan dirindui anak-anak. Kadang saya khawatir kalau anak-anak bercandanya kelewatan sampai membuat Pak Syabran terjatuh dan cedera,” tutur Taruna.

Ditambahkannya, di sekolah pula Syabran menemukan jodoh. Sesama guru honorer. Namanya Isnainah.
Sang istri wafat dua tahun yang lalu. “Sama, almarhum juga seorang guru yang disukai anak-anak,” tambah Taruna.

Soal pekerjaan, yang paling membekas adalah sifat amanahnya. Contoh saat Syabran mengurusi tabungan siswa.

“Catatan keuangannya selalu rapi, sesuai peruntukannya. Beliau orangnya tegas bila menyangkut masalah dana.

Tak ada istilah guru lain boleh meminjam atau memakai dana sekolah. Cerita ini terkenal sampai ke sekolah luar. Itu pula yang membuat sekolah ini lekat dengan julukan Karang Mekar Harum," timpal Siti Aisyah.

Lantas bagaimana Syabran memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya hanya dengan menjadi guru honorer? Terlebih dengan tiga anak di rumah.

Kepada penulis, Aisyah dan Taruna menuturkan, Syabran mencari tambahan penghasilan dengan mengajar

Alquran dari rumah ke rumah. Kemudian, membantu teman-temannya yang berdagang kecil-kecilan.

Sebagai gambaran, gaji guru honorer di Banjarmasin pada tahun 2020 lalu sebesar Rp1 juta. Tahun ini dinaikkan Dinas Pendidikan Banjarmasin menjadi Rp1,2 juta.

Ditanyakan secara terpisah, bagi Syabran, asalkan mau berusaha rezekinya pasti ada. “Alhamdulillah, saya bisa menyekolahkan anak-anak saya,” ungkapnya.

“Anak saya yang pertama sudah bekerja di bidang penjualan suku cadang mesin. Yang kedua kuliah di UIN Antasari, semester akhir. Dan anak ketiga masih di madrasah aliyah,” tutupnya.

Syabran kini tinggal di Jalan Pekapuran Raya Gang Ahmad Jamiri 2 Nomor 7 bersama ketiga anaknya. (war/fud/ema)


BACA JUGA

Jumat, 22 Oktober 2021 17:21

Cerita Jarkuni si Penarik Becak, Wong Cilik dengan Pesan Besar

Sebagai penarik becak, kehidupan Jarkuni memang serba sulit. Tapi bukan…

Sabtu, 16 Oktober 2021 15:26

Dari Banjar Mural Festival 2021; Menggantung Harapan di Dinding Beton

Di depan penonton, sosok seniman perempuan itu tampil mengumbar senyum.…

Rabu, 13 Oktober 2021 16:13

Noer Arief, Imam Masjid yang Sukses Bisnis Budidaya Lebah Kelulut

Selalu ada jalan untuk usaha apapun. Intinya kegigihan dan ketelatenan.…

Rabu, 13 Oktober 2021 15:56

Baru Kulit, Belum Menyentuh Isi

Parang Bungkul dan Lais adalah nama senjata tajam yang populer…

Selasa, 12 Oktober 2021 14:52

Si Pencabut 40 Nyawa

Parang tua itu tampak berkarat dimakan usia. Dipajang tanpa gagang…

Jumat, 08 Oktober 2021 15:16

Dulu Kandang Itik, Sekarang Tempat Lahirnya Hafiz Quran

Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiyaul Ulum berdiri tahun 2019. Di lokasi…

Jumat, 08 Oktober 2021 13:56

Beda Anak Dulu dan Sekarang

Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji.…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:37

Nasib Guru Pendidikan Agama Islam yang Terancam Tak Diperpanjang Kontraknya

Memakai seragam hitam putih dan peci hitam, Fahriadi berjalan pelan…

Kamis, 30 September 2021 09:59

Kala Ilung Tutup Semua Rawa di Paminggir, Penumpang Sampai Terpaksa Bermalam di Kapal

Kecamatan Paminggir hanya bisa diakses dengan angkutan sungai. Nah bagaimana…

Rabu, 29 September 2021 12:48

Berpenghasilan Rp600ribu Perbulan Untuk Biaya Sekolah

Mungkin Nurman bisa menjadi inspirasi pelajar lain. Memanfaatkan lingkungan sekitar,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers