MANAGED BY:
MINGGU
28 NOVEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Selasa, 28 September 2021 10:25
Objek Wisata HST Merugi, Pemerintah Hanya Bisa Memahami tapi Kesulitan Membantu
INGIN BANGKIT: Objek wisata Pulau Mas di Kecamatan Batu Benawa pelan-pelan mulai diperbaiki setelah diterjang banjir.

BARABAI - Objek wisata di Hulu Sungai Tengah (HST) masih rugi dan terpuruk akibat banjir awal tahun lalu. Pemerintah daerah tak berbuat apa-apa untuk membantu para pengelola wisata.

Di sisi lain pemerintah justru ingin memberlakukan pajak parkir bagi pengunjung yang datang. Kebijakan ini tertuang dalam raperda pajak dan retribusi daerah. Ternyata langsung menuai protes dari para pengelola wisata.

Plt Kasi Pariwisata, Yandi Irawan sangat memahami keluhan para pengelola wisata. Namun menurutnya, kebijakan ini upaya pemerintah untuk meningkatkan pendapatan daerah. “Kami masih menjalin koordinasi dengan Bidang Pajak dan Retribusi Daerah. Kami memberikan masukan terkait masalah ini,” katanya, Kamis (23/9).

Poin yang disampaikan terkait jumlah pajak yang akan dipungut. Ini mengantisipasi jika nantinya raperda tetap disahkan. “Jadi kami sampaikan jumlah kontribusi pajaknya kalau bisa disesuaikan,” jelasnya.

Yandi mengakui jika kebijakan ini sangat berat bagi pengelola wisata. Ditambah sampai saat ini pemerintah belum ada memberikan bantuan kepada para pengelola objek wisata. “Ini karena ke terbatasan anggaran. Objek wisata yang dikelola pemerintah pun belum kami perbaiki,” ujarnya.

Dari data Bidang Pariwisata HST, ada delapan objek wisata yang rusak. Dana perbaikan pun ditaksir Rp2.247.500.000. Angka ini didapat dari perhitungan para pengelola terhadap fasilitas wisata yang rusak. “Jadi bantuan ini kami ajukan ke Dinas Pariwisata Provinsi kalsel. Cuma memang sampai sekarang bantuan itu belum ada. Kami terus mengupayakannya,” jelasnya.

Delapan objek wisata yang rusak yakni Goa Limbungan, Manggasang, Tubing Meratus, Pulau Mas, Riam Bajandik, Pagat Batu Benawa, Lok Laga Haruyan, dan Baruh Bunga. “Dua objek wisata yang dikelola pemerintah adalah Pagat dan Lok Laga. Yang lainnya swadaya masyarakat,” bebernya.

Seperti diberitakan harian ini sebelumnya, para pengelola wisata di HST keberatan dengan adanya raperda pajak dan retribusi daerah. Mereka tidak terima pemberlakuan wajib pajak bagi tempat usaha. Termasuk pajak yang dipungut sebanyak 10 persen untuk parkir objek wisata. “Kami masih terpuruk. Membangun wisata kembali saja menggunakan dana pribadi, dan terbatas,” kata pengelola wisata Baruh Bunga, Hasby.

Pengelola wisata Goa Limbuhang, Rosyadi juga keberatan. “Tunggu perekonomian pulih dulu. Sebaiknya raperda ini ditunda. Kami ingin pemerintah juga membantu memulihkan perekonomian ini,” pungkasnya. (mal/dye/ema)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers