MANAGED BY:
SELASA
19 OKTOBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 08 Oktober 2021 13:56
Beda Anak Dulu dan Sekarang

Norhana, Puluhan Tahun Mengajar Mengaji di Pesisir

BELAJAR MENGAJI: Norhana (kiri), telah 30 tahun mengajar mengaji anak-anak pesisir.

Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji. Merasakan dalam beberapa zaman, dia mengatakan anak ‘bahuela’ memang spesial.

 =========================

Zalyan Shodiqin Abdi, Pagatan

 =========================

Angin selatan berembus pelan di pesisir Desa Muara Tengah, Rabu (6/10) sore tadi. Musim tenggara nampaknya mau berganti ke barat. Ditandai kemunculan ubur-ubur di pesisir Pagatan.

Lepas zuhur, seperti hari-hari lainnya, Norhana duduk di teras rumah kayu persis di tepi jalan aspal. Puluhan anak desa belajar mengaji. Ada yang duduk tenang, ada berlarian di halaman rumput gajah.

Sesekali ujung cadar Norhana diusik angin pantai. Aroma garam berbaur dengan ejaan Iqra. "Ini dibaca panjang, bukan pendek. Ada tandanya itu," tegurnya ke seorang anak.

Norhana masih ingat. 30 tahun lalu mulai mengajar anak-anak. Awalnya untuk anak sendiri di rumah. Lama-lama ibu-ibu tetangga menitip buah hati mereka.

"Tidak digaji. Cuma anak-anak rajin ambil air isi bak mandi. Dulu itu, ada kepercayaan, siapa rajin isi bak mandi, ngajinya cepat lancar seperti air mengalir," kenangnya.

Metode mengajarnya rupanya digemari warga. Anak desa tetangga pun ada datang belajar. Muridnya saat itu mencapai 50 an anak. Penuh dari dapur sampai pelataran. Suaminya yang kebetulan kepala desa memberikan banyak dukungan.

Norhana merasakan tiga suasana berbeda mengajar mengaji. Di zaman dirinya kecil, guru-guru biasa membawa rotan kecil. Anak yang salah bacaannya akan disentil rotan.

Di zaman itu, anak-anak sangat cepat pandai membaca Alquran. Bahkan mampu melafalkan rangkaian huruf Arab sedemikian cepat. Anak-anak sangat patuh, apa titah guru itu yang dilaksanakan.

Di era awal dia mengajar, suasana sudah berubah. Rotan-rotan mulai ditinggalkan. Namun di masa ini kehidupan beragama warga begitu kental.

"Anak-anak menurut tanpa dimarahi. Saya tinggal mereka diam menunggu. Tidak lari ke sana ke sini," kenangnya.

Itu katanya salah satu masa terbaik kehidupan anak-anak di desa. Muara Tengah masih jalan setapak. Listrik masih minim. Tapi, kebahagiaan anak-anak lekat terasa, begitu juga akhlaknya.

Perubahan drastis baru dia rasakan beberapa tahun terakhir. Ketika internet bisa diakses sedemikian mudah melalui hape (handphone).

"Menurun akhlak anak sekarang. Nakal-nakal. Saya tinggal sebentar, sudah ribut," keluhnya.

Norhana tidak tahu persis. Apakah itu pengaruh hape. Atau ada faktor-faktor lainnya. "Memang berbeda anak dulu dengan sekarang. Saya akui itu."

Tapi dia tetap betah mengajar. Ada ketenangan dirasakannya. Apalagi melihat di kemudian hari anak muridnya jadi orang besar.

"Kadang ada datang ke rumah. Saya tidak kenal lagi. Sudah sukses. Bawa banyak makanan," kekehnya.

Kini rumah mengajinya sudah bertulisan TPA Darul Munajah. Dihonor Rp400 ribu per bulan dari pemerintah. Ada lima guru, muridnya empat puluh orang.

Norhana berharap, pemerintah lebih memperhatikan lagi perkembangan TPA. Membekali para gurunya dengan ilmu yang bisa diaplikasikan untuk mendidik anak di era yang jauh berbeda dengan puluhan tahun lalu.

Janda yang lima anak kandungnya jadi guru semua itu percaya, pendidikan agama yang baik adalah pilar. Agar generasi muda tidak kebablasan jatuh dalam kemerosotan moral.


BACA JUGA

Sabtu, 16 Oktober 2021 15:26

Dari Banjar Mural Festival 2021; Menggantung Harapan di Dinding Beton

Di depan penonton, sosok seniman perempuan itu tampil mengumbar senyum.…

Rabu, 13 Oktober 2021 16:13

Noer Arief, Imam Masjid yang Sukses Bisnis Budidaya Lebah Kelulut

Selalu ada jalan untuk usaha apapun. Intinya kegigihan dan ketelatenan.…

Rabu, 13 Oktober 2021 15:56

Baru Kulit, Belum Menyentuh Isi

Parang Bungkul dan Lais adalah nama senjata tajam yang populer…

Selasa, 12 Oktober 2021 14:52

Si Pencabut 40 Nyawa

Parang tua itu tampak berkarat dimakan usia. Dipajang tanpa gagang…

Jumat, 08 Oktober 2021 15:16

Dulu Kandang Itik, Sekarang Tempat Lahirnya Hafiz Quran

Pondok Pesantren (Ponpes) Dhiyaul Ulum berdiri tahun 2019. Di lokasi…

Jumat, 08 Oktober 2021 13:56

Beda Anak Dulu dan Sekarang

Usianya sudah 66 tahun. Tetap setia mengajar anak kampung mengaji.…

Rabu, 06 Oktober 2021 10:37

Nasib Guru Pendidikan Agama Islam yang Terancam Tak Diperpanjang Kontraknya

Memakai seragam hitam putih dan peci hitam, Fahriadi berjalan pelan…

Kamis, 30 September 2021 09:59

Kala Ilung Tutup Semua Rawa di Paminggir, Penumpang Sampai Terpaksa Bermalam di Kapal

Kecamatan Paminggir hanya bisa diakses dengan angkutan sungai. Nah bagaimana…

Rabu, 29 September 2021 12:48

Berpenghasilan Rp600ribu Perbulan Untuk Biaya Sekolah

Mungkin Nurman bisa menjadi inspirasi pelajar lain. Memanfaatkan lingkungan sekitar,…

Senin, 27 September 2021 13:11

Geliat Bisnis Benda Pusaka di Banjarmasin, Disukai Tak Sekadar karena Hikmah

Sejak dahulu, lumrah mengaitkan benda pusaka dengan hikmah. Seiring waktu,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers