MANAGED BY:
MINGGU
05 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 22 Oktober 2021 17:21
Cerita Jarkuni si Penarik Becak, Wong Cilik dengan Pesan Besar
-BERSANTAI: Jarkuni bersantai di depan rumahnya di Gang Raudhah Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasn

Sebagai penarik becak, kehidupan Jarkuni memang serba sulit. Tapi bukan berarti ia tak bisa membantu yang lain.

Penulis, WAHYU RAMADHAN

 DI LAHAN kosong yang rimbun semak belukar di Gang Raudhah Jalan Kelayan B, Banjarmasin Selatan berdiri sebuah rumah kecil dari kayu.

Kondisinya memprihatinkan. Seluruh bangunan tampak lapuk dimakan usia. Dindingnya penuh tambalan.

Tidak ada halaman di depan gubuk itu. Hanya ada titian kayu yang sebagian sudah terendam air. Di atas jembatan kecil itu pula terparkir sebuah becak tua.

Seulas senyum mengambang dari penghuni ketika Radar Banjarmasin bertandang, Rabu (20/10) petang. Namanya Jarkuni.

Pria 67 tahun itu tinggal sendirian di atas rumah yang tak lebih luas dari tiga meter persegi itu.

Hampir tak tampak sekat yang memisahkan antar ruangan. Di situ Jarkuni tidur, di situ pula ia memasak.

Dituturkannya, bangunan itu sudah ditempatinya sejak 2019 lalu. Hibah dari seorang dermawan. Sedangkan tanahnya meminjam dari sebuah yayasan yang membangun sekolah di kawasan itu.

Setiap hari, tanpa mengenal libur, Jarkuni mengayuh becaknya. Mencari penumpang. Berangkat subuh dan pulang petang.

Ada atau tidak hasil yang diperoleh, bila hari sudah beranjak gelap, Jarkuni selalu pulang ke rumahnya.

"Saya mesti ingat umur, sudah tua. Tak apa-apa bila hari ini tidak ada uang. Besok cari lagi," ucapnya.

Jarkuni lahir di Margasari, Kabupaten Tapin. Saat berusia 10 tahun, ia diboyong kedua orang tuanya untuk menetap di Banjarmasin.

"Saya sempat belajar hingga SMP. Tapi karena ayah tak mampu lagi membiayai, saya berhenti sekolah," kenangnya.

Saat putus sekolah, ia sempat bekerja di kawasan Kayu Tangi. Mengayuh jukung untuk mencari kayu bakar dan dijual. "Ketika tabungan mulai cukup untuk membeli becak, saya pun membecak hingga kini," kisahnya.

Saat itu, Jarkuni sudah mandiri. Meski masih tinggal bersama orang tua di kawasan Mutiara 11, Banjarmasin Timur. 

"Hingga kedua orang tua saya jatuh sakit. Kami pun menjual satu-satunya rumah yang kami miliki," kisahnya.

Sepeninggal orang tuanya, Jarkuni masih menarik becak hingga ia mempersunting seorang istri. Pasangan ini tinggal berpindah-pindah, dari satu kontrakan ke kontrakan lainnya.

Dari pernikahannya, Jarkuni tak dikaruniai anak. Lalu saat sang istri wafat pada 2014 silam, ia memutuskan untuk tinggal di gubuk yang sekarang.

Selama tinggal di situ, Jarkuni mengaku hanya sekali mendapat bantuan dari pemko. Tepatnya pada 2020 kemarin.

Sebuah kardus besar berisi sembako. Yang tersisa hanya kotaknya saja dengan tempelan stiker ‘Banjarmasin Barasih wan Nyaman'.

“Saya tidak pernah melapor ke pak RT agar bisa didaftarkan untuk memperoleh bantuan," ungkapnya. "Karena kata orang-orang, saya tidak kebagian dijatah. Tidak apa-apa kalau memang tidak dibantu, masih ada becak," tambahnya.

Di depan kami tampak televisi tabung. Tapi sudah rusak, sekadar pajangan saja.

"Listrik ini dipasang seseorang. Saya lupa siapa. Mengisinya pakai pulsa (token). Bila ada rezeki lebih, saya isi. Hanya gunakan untuk penerangan saja," ujarnya.

Sebagai penarik becak, Jarkuni sangat menyadari penghasilannya akan terus menurun. Karena kebanyakan orang sudah memiliki sepeda motor atau mobil pribadi.

Maka, Jarkuni tak pernah sekalipun menolak calon penumpang. Berapa pun uang yang ditawarkan si calon penumpang, tarikan selalu diambilnya. Tak tawar-menawar tarif seperti dulu.

Yang penting, ada pemasukan. "Mau Rp2 ribu atau berapa pun, saya ambil. Yang penting ada penghasilan yang bisa dibawa pulang," tegasnya.

Dituturkan Jarkuni, bia ada penghasilan, biasanya langsung ia belikan beras untuk dimasak.

"Makan nasi pakai kecap atau putihan saja tidak apa-apa. Yang penting perut masih bisa diisi. Kalau tidak ada yang makan, artinya disuruh berpuasa," lanjutnya seraya tertawa.

Jarkuni biasanya mangkal di kawasan eks Losmen Sinar Dodo. Kisah Jarkuni yang tak pernah menolak penumpang itu terkenal di kalangan sesama penarik becak.

"Beliau orangnya ramah. Ditawar berapa saja upahnya, beliau ambil. Ia tidak pernah pilah-pilih penumpang," ucap Amang, penarik becak di situ.

Bahkan menurut Amang, suatu ketika Jarkuni rela meminjamkan becaknya ke seseorang yang membutuhkan.

“Hari itu, saya pernah menanyakan mengapa ia tidak menarik. Ternyata becaknya dipinjamkan ke tetangga yang hendak mengantar istrinya berobat," ceritanya.

Dikonfirmasi terkait kisah itu, Jarkuni hanya tersenyum. Ia mengatakan, bahwa hidup di dunia ini mesti saling membantu dan jangan mengharap pamrih.

Pelajaran itu datang dengan cara yang menyakitkan. Suatu malam, ketika listrik sedang padam, Jarkuni tiba di rumahnya. Saat hendak memarkir becak, ia malah terjatuh ke sungai. Demikian pula dengan becaknya.

"Ada banyak orang yang melintas dan melihat saya terjatuh. Tapi tak seorang pun yang menghampiri untuk membantu. Malah ada yang tertawa. Saya benar-benar heran bila mengingatnya. Ada-ada saja," tuturnya.

Berkat peristiwa itu pula, Jarkuni semakin menyadari, jangan terlalu mengharap bantuan orang lain. Sebaliknya, ia mencari cara untuk membantu orang lain.

"Lagi pula, siapa yang peduli dengan nasib orang miskin seperti saya ini? Tidak apa-apa bila tidak dibantu. Saya masih bisa berusaha sendiri. Dan harus terus membantu orang-orang yang memerlukan," tegasnya.

Saat pamit meninggalkan kediamannya, masker yang semula dikantongi penulis jatuh ke genangan di samping titian rumah Jarkuni.

Melihat itu, Jarkuni buru-buru menghampiri. Menyerahkan selembar masker baru. "Pakai saja, ini masih baru. Yang itu sudah kotor," tutupnya. (at/fud)


BACA JUGA

Sabtu, 04 Desember 2021 07:44

Pohon Natal dari 5.000 Botol Plastik Bekas

Kreasi unik ini dipajang di lobi Galaxy Hotel sejak kemarin…

Rabu, 01 Desember 2021 07:09

Nekat Merantau ke Pemalang, Sukses Cetak Sejarah

  Keterbatasan fisik bukan alasan bagi Sabran (44) untuk berhenti…

Rabu, 01 Desember 2021 07:06

Modal Awal 30 Juta, Untung Ratusan Juta Sebulan

Menjadi anggota TNI bukan melulu soal senjata. Babinsa Koramil -05/Karang…

Sabtu, 20 November 2021 16:37

Dijuluki Monster dari Cemara, Tangkapan Terbesar Tim Animal Rescue BPBD

Ini tangkapan besar yang bakal membuat semua pawang ular level…

Kamis, 18 November 2021 09:31

Tak Ada Perhatian, Pemda Berdalih Refocusing Anggaran

Salasiah (66) warga Desa Masiraan RT 2, Kecamatan Pandawan, Hulu…

Rabu, 17 November 2021 15:23

Lobi-Lobi di Atas Panggung

Akhir pekan tadi, Kadispersip Kalsel Nurliani mengirim undangan ke penulis,…

Rabu, 17 November 2021 14:57

Berbincang dengan Pengusaha Mini Trail di Siring

Sejak SMP, Fahrul sudah menggandrungi segala yang berbau otomotif. Ketika…

Selasa, 16 November 2021 08:56

ULM Laksanakan Pengabdian pada Masyarakat di Kalteng

Akar bajakah saat ini mampu menjadi peluang usaha yang menjanjikan.…

Senin, 15 November 2021 21:22

Asa Pedagang Taman 10 K Pertamina Tanjung Melawan Pandemi

Pandemi memukul hampir setiap sendi kehidupan, tapi tetap ada asa…

Senin, 15 November 2021 14:06

Bangun Jejaring dan Belajar Bahasa Asing

Baru 25 tahun, Kesuma Anugerah Yanti sudah beberapa kali mengikuti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers