MANAGED BY:
JUMAT
12 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Jumat, 22 Oktober 2021 17:44
Pabrik Biodiesel Pertama dan Terbesar di Timur Indonesia, Haji Isam Gelontorkan 2 T
DIRESMIKAN PRESIDEN: Presiden Joko Widodo meresmikan pabrik PT Jhonlin Agro Raya milik pengusaha Haji Isam di Desa Sungai Dua Tanah Bumbu. Pabrik biodisel itu pertama dan terbesar di kawasan timur Indonesia. | Foto; Zalyan S Abdi / Radar Banjarmasin

Di tengah pandemi beberapa pengusaha memilih menunggu untuk berbisnis. Tapi tidak bagi Haji Isam. Superkaya Kalsel ini menggelontorkan dana Rp 2 triliun untuk membangun pabrik biodiesel pertama dan terbesar di kawasan Timur Indonesia.

ZALYAN SHODIQIN ABDU, Batulicin

Warna emas menjadi corak pabrik biodiesel itu. Dibangun persis di tepi Selat Pulau Laut. Di Desa Sungai Dua. Sekitar setengah jam perjalanan dengan kendaraan dari pusat kota.

Pabrik itu pertama dan terbesar di kawasan timur Indonesia. Posisinya jauh dari pusat kota. Belok ke dalam dari jalan nasional Kalsel - Kaltim.

Sirine menggema saat Presiden Joko Widodo memencet tombol tanda diresmikannya pabrik PT Jhonlin Agro Raya itu. Hasil gawe pengusaha lokal Andi Syamsuddin Arsyad, biasa disapa Haji Isam.

Keseriusan Haji Isam menggeluti industri kelapa sawit memang telah terlihat beberapa tahun terakhir. Jhonlin Group yang merupakan kerajaan usahanya, berinvestasi di belasan ribu hektare lahan. Tersebar di Tanah Bumbu dan Kotabaru.

Dulunya, Jhonlin Group terkenal di industri batu bara. Lama-lama emas hitam turun pamornya, dampak sumber daya alam yang terbatas. Rupanya menyadari itu, Haji Isam banting haluan ke sektor yang selama ini digarap mayoritas pengusaha luar.

Kualitas pengelolaan kebunnya bersaing dengan raksasa sawit Sinarmas dan Minamas. Truk-truknya rutin mengangkut CPO ke anak perusahaan Sinarmas di Pulau Laut.

Kini Haji Isam mencoba membangun lingkaran bisnis sendiri melalui pabrik biodiesel dan minyak goreng. Dua tahun pabrik itu dikerjakan.

  Komisaris Utama Jhonlin Group Andi Amran Sulaiman mengatakan pabrik itu nantinya mampu memproduksi 1.500 B30 per harinya. B30 adalah bahan campuran biodiesel berbasis kelapa sawit sebanyak 30% dalam minyak solar. B30 digunakan sebagai energi alternatif pengganti BBM. Ini bisa ditingkatkan jadi B50, atau dengan kata lain 50 persen CPO ditambah 50 persen solar.

Presiden Joko Widodo yang datang meresmikan pabrik itu kemarin, jauh-jauh hari telah memberi lampu hijau usaha biosolar. Ketika Amerika dan Eropa semakin gencar menolak impor minyak sawit, Jokowi melawan dengan mengeluarkan kebijakan mandatori biodiesel.

Sejak 2018 lalu biosolar resmi dijual untuk konsumen dalam negeri. Kemudian ditingkatkan jadi B30. PLN di  2019 menyerap sedikitnya 2,1 juta kiloliter biosolar.

"Tahun 2020 tadi kita berhasil menghemat pengeluaran negara dari impor solar sebanyak Rp38 triliun. Tahun 2021 ini kita kemungkinan bisa hemat Rp56 triliun," ujar Jokowi.

Namun dia juga meminta, investasi sawit tidak berhenti di sana. Tapi terus ditingkatkan, seperti pembuatan kosmetik yang nilai jualnya jauh lebih tinggi.

"Akan menyerap lapangan kerja sangat besar. Itulah salah satu alasan kenapa saya mau datang (meresmikan pabrik), karena lapangan kerja sangat ditunggu masyarakat," jelasnya.

Amran mengungkapkan, Jhonlin Group sekarang mempekerjakan sekitar 60 ribu orang. Targetnya tahun 2024 berdiri dua belas industri, satu lokasi dengan pabrik biodiesel. Total investasi mencapai Rp29 triliun."Nanti akan dibangun pelabuhan dan smelter nikel. Mohon dukungannya Pak Presiden," ucap mantan Menteri Pertanian itu.

Sekadar diketahui, Haji Isam merupakan pengusaha lokal asal Tanah Bumbu. Namanya populer di Banua. Jika di hulu sungai warga mengenal Haji Ciut karena kekayaannya, maka di pesisir tenggara pamor itu dimiliki oleh Haji Isam.

Memiliki banyak jenis usaha. Mulai dari penerbangan sampai perkebunan tebu di Sulawesi yang sekarang sudah memproduksi gula.

Walau warga sulit bertemu dengannya, tapi monumen kekuatan pundi-pundi rupiahnya terlihat mencolok di Tanah Bumbu. Bangunan yang disebut-sebut paling besar di Kalsel, berada di perbukitan Tanah Bumbu, adalah kantor Jhonlin Group.

"Dia memang gitu. Gak mau bikin kantor di Jakarta. Katanya supaya daerahnya ramai, pegawai bisa belanja dan berumah di Tanah Bumbu," ujar karibnya kepada Radar Banjarmasin. (zal/by/ran)


BACA JUGA

Jumat, 08 Juli 2022 12:20

Investasi Kalsel Masih Didominasi Tambang

Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PMPTSP) Kalsel…

Selasa, 05 Juli 2022 11:55

Inflasi di Kotabaru Masuk Daftar Tertinggi

Sidak menjelang Iduladha dilakukan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kotabaru…

Jumat, 01 Juli 2022 12:21

MoU Pengembangan Kawasan Peti Kemas di Trisakti Belum Juga Terealisasi

Kerja sama Pemko dan Pelindo III Banjarmasin mulai menuai tanya.…

Jumat, 24 Juni 2022 12:10

Stok Terbatas dan Permintaan Banyak, Harga Kambing Melonjak

 Mendekati Hari Raya Iduladha 1443 Hijriyah, harga hewan ternak untuk…

Jumat, 24 Juni 2022 12:08

Stok Melimpah, Harga Gula Pasir Stabil

Setelah sempat mengalami kenaikan karena pasokan yang kosong, kini harga…

Jumat, 24 Juni 2022 11:51

Ekspor dan Impor Kalsel Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) Kalsel merilis nilai ekspor dan impor…

Kamis, 23 Juni 2022 12:58

Pasokan Turun Ratusan Ton, Harga Bawang Merah Melambung

Stok bawang merah di Kalimantan Selatan kian menipis. Akibat berkurangnya…

Kamis, 16 Juni 2022 09:43

Agustinus Maun Pimpin KSOP Kelas I Banjarmasin

BANJARMASIN – Agustinus Maun,resmi menjabat sebagai Kepala Kantor Kesyahbandaran dan…

Sabtu, 11 Juni 2022 13:06

Di Kalsel, Pasca Pandemi Permintaan Truk Naik Tajam

Seiring naiknya harga ekspor batu bara dan sawit usai pandemi,…

Selasa, 07 Juni 2022 11:20

Harga Cabai Naik, Penjual Makanan Panas Dingin

Kenaikan harga cabai membuat penjual makanan pedas berkeringat. Bagaimana agar…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers