MANAGED BY:
KAMIS
02 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Jumat, 29 Oktober 2021 21:58
Harga Karet Semakin Membaik
HARGA MEMBAIK: Petani karet seusai menyadap karet.Harga karet terus membaik.

BANJARBARU - Setelah terpuruk dalam beberapa tahun, kini harga karet terus membaik. Berdasarkan data yang diterbitkan Sicom (Singapore Commodity Exchange) per 25 Oktober 2021, harga karet dengan kadar karet kering (K3) 100 persen harganya mencapai Rp21 ribu per kilogram.

Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan (Disbunnak) Kalsel, Suparmi mengatakan, membaiknya harga karet dikarenakan permintaannya terus meningkat. "Banyaknya permintaan membuat pabrik berlomba-lomba untuk melakukan transaksi dengan UPPB (Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar)," katanya.

Dia mengungkapkan, UPPB di Kalsel kini sudah mempunyai posisi harga tawar terhadap pabrik. Sehingga, yang menentukan harga bukan lagi pabrik. "Harga bisa diketahui oleh UPPB melalui harga yang diterbitkan Sicom," ungkapnya.

Karet di Kalsel ucap Suparmi, rata-rata kadar keringnya ada di kisaran 60 sampai 67 persen. "Untuk K3 60 hingga 67 persen harganya kini mencapai Rp12 ribu ke atas per kilonya," ucapnya.

Lanjutnya, sedangkan karet yang baru dipanen di tingkat petani dengan K3 40 hingga 45 persen di tingkat petani harganya sudah di atas Rp8 ribu per kilogram.

Melihat tingginya permintaan karet, Suparmi menuturkan, Pemprov Kalsel terus mendorong UPPB untuk meningkatkan volumenya melalui penggabungan beberapa UPPB.

Penggabungan beberapa UPPB menurutnya mempunyai manfaat yang lebih besar. Seperti harga karet yang didapat lebih tinggi, juga penghematan biaya.

Selain itu, Suparmi menyebut Pemprov Kalsel juga berharap agar petani karet di Kalsel dapat meningkatkan produksinya melalui peremajaan karet secara mandiri. "Dengan harga karet bagus, maka diharapkan semangat melakukan peremajaan dan pemeliharaan sendiri untuk meningkatkan produksinya," harapnya.

Di sisi lain, membaiknya harga karet dibenarkan salah seorang petani karet di Desa Pingaran Ulu, Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, Sutardi. "Sekarang di tingkat petani Rp7 ribu sampai Rp8 ribu sekilo. Tahun lalu cuma Rp5 ribu hingga Rp6 ribu," bebernya.

Membaiknya harga karet kata dia, membuat petani kembali bersemangat untuk menyadap. Padahal, sebelumnya banyak petani yang memilih mengistirahatkan kebun karena harga karet tak sesuai dengan lelah yang dirasakan. "Tahun 2019 saya sempat tidak menyadap, tapi sekarang semangat lagi," katanya.

Petani karet lainnya Marimin juga memilih kembali menyadap. Padahal sebelumnya dirinya memilih untuk istirahat. "Saat harga karet merosot, saya malas menyadap. Kini tidak malas lagi, karena harganya sudah bagus," bebernya.

Dia berharap, harga karet tidak lagi anjlok. Agar perekonomian petani bisa membaik di tengah pandemi Covid-19. "Sekarang hidup serba sulit, kalau karet harganya turun lagi tambah sulit kami," pungkasnya. (ris/by/ran)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers