MANAGED BY:
JUMAT
12 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Sabtu, 06 November 2021 09:57
Berperahu dengan Rasyid, Nelayan yang Sakti Mencari Ikan

Ikan Datang Sendiri, Percaya Keajaiban Rezeki

PELAUT ULUNG: Abdul Rasyd di atas perahu kecilnya. Hasil nelayan mampu menyekolahkan tiga anaknya. | FOTO: ZALYAN SHODIQIN ABDI/RADAR BANJARMASIN

Kata siapa nelayan suka habiskan uang hiburan. Abdul Rasyid, nelayan kecil perahu kecil. Bertaruh nyawa besarkan tiga anak. Satu jadi ustadz, satunya lulus di akademi maritim.

- Oleh: Zalyan Shodiqin Abdi, Batulicin

Suatu waktu. Di saat laut sedang sepi. Ikan-ikan entah ke mana. Abdul Rasyid nekat melaut. Anaknya perlu tambahan rupiah biaya kuliah.

Tetangganya heran, melihat pria itu mempersiapkan pancing. Menghidupkan perahu mesinnya. "Ke mana? Lagi gak musim ikan ini," ujar tetangga.

Abdul Rasyid senyum saja. Dia enggan bercerita, kalau dirinya sedang kepepet. Berangkatlah Rasyid ke laut depan Pulau Sewangi. Doa-doa yang diajarkan dia rapal. Rasyid mengidolakan ulama besar asal Sulawesi: Imam Lapeo.

"Ada baca-bacanya. Masa melaut kita tidak ada pegangan," ujarnya kepada Radar Banjarmasin, Kamis (4/11) sore kemarin.

Dan baru saja menumpahkan jala, belum sempat memancing, alat jebak ikan itu bergetar hebat. Ikan-ikan banyak ketangkap. Tidak sampai sejam, perahu kecilnya penuh.

"Apa kamu pakai? Bagi ilmunya," ujar tetangga Rasyd ketika dia sampai ke dermaga.

Sering kata Rasyd, Tuhan seperti menggerakkan ikan-ikan datang. Di saat dia sedang kepepet begitu.

Lain kali, datang kabar. Keluarga jauhnya mau berkunjung. Di rumah tidak ada lauk. Uang pun tak punya. Kembali turun mengadu nasib, padahal musim sedang buruk. Eh, kejadian serupa terulang. Perahunya penuh ikan lagi.

"Nah sebaliknya. Kadang musim ikan, tapi malah dapat sedikit. Itulah keajaiban rezeki. Tuhan lebih tahu, apa yang pas buat kita," ujarnya sembari menghidangkan kopi dan sanggar panas.

Rasyid lahir di Batulicin 1 April 1970. Raganya masih prima. Tidak pernah merokok. Karaoke atau hiburan malam juga belum pernah.

"Paling kalau banyak dapat rezeki ya buka box. Box ikan, bukan box karaoke," kekehnya.

Bukan rahasia, kehidupan nelayan biasanya senang cari hiburan. Di tempat karaoke kampung, para ladies biasa melayani nelayan yang baru saja dapat tangkapan besar. Rasyd memilih bernyanyi di acara kawinan saja.

Pria yang dikarunia tiga orang anak ini berdarah Bone. Puluhan tahun silam, keluarga besarnya merantau ke Borneo. Akibat pemberontakan Kahar Muzakkar.

Sejak kecil Rasyid sudah melaut. Pun begitu, dia tetap sekolah. Hingga lulus SMA.

Di zaman kayu, sekitar 90 an dia banting stir. Dari laut pindah ke gunung. Menebang kayu-kayu besar di hutan Tanah Bumbu. Pundi-pundi rupiah berhasil dia kumpulkan.

Sebelumnya masa jayanya itu, dia menyunting gadis berdarah Rantau, Syafridah. Keluarga istrinya merantau ke Tanah Bumbu dampak di era pemberontakan Ibnu Hajdar.

Berdua mereka mengelola hasil kayu. Rasyid bisa naik haji. Sebagian uang dibelikan banyak kerbau. Tahun 2000 an marak perampokan di hutan. Kerbau-kerbau dijual. Hasilnya dipakai Syafridah naik haji.

Habis era itu, Rasyid kembali melaut.

Anak-anak tetap disekolahkan. "Harus lebih pintar dari saya. Harus lebih tinggi sekolahnya," ujarnya.

Di laut kembali dia berjibaku. Tidak pernah menyangka jika usaha kayu akan habis. Ketika jaya sepertinya tidak terpikir untuk maksimal investasi ke perahu. Perahu kecilnya kembali arungi ombak. Supaya anak-anak bisa lulus kuliah.

Ombak setinggi rumah di lepas laut Muara Pagatan dia arungi. "Masuk ke dalam ombak. Muncul lagi di permukaan. Bergetar dada. Takut, tapi apa boleh buat," kenangnya.

Di masa susah itu dia mendapat banyak uluran tangan. Salah satunya dari pengusaha muda Tajerian Noor. "Sampaikan salam jika ketemu dengannya. Saya ingat, di satu momen hidup, jasanya begitu besar ke keluarga saya," ucapnya.

Berkat kesabarannya, kini Rasyd bisa sedikit tenang. Anaknya yang sulung M Rizal beberapa tahun silam lulus dari pesantren Darussalam di Martapura. Di kampung kini gelarnya ustadz.

Anaknya yang ke dua Mega Wulandari lulus di akademi kemaritiman. Sekarang bekerja di perusahaan Mardani Haji Maming di Bunati. "Desember nanti dia menikah, kalau gak ada halangan. Sama orang Kaltim," undangnya kepada penulis.

Tinggal si kecil M Restu ARasyd sedang menempuh pendidikan di sekolah dasar. Beban hidupnya kini jauh lebih ringan. Anak pertama dan ke dua acap bersedekah padanya. "Alhamdulillah," ucapnya.

Berhubung penulis gemar memancing, Rasyd pun didaulat berbagi ilmu andalannya. Ikan ganas makan katanya, kalau pasang mulai naik atau mulai turun. Juga kalau arus baru mulai bergerak.

Nah, kalau bulan sedang terang itu alamat susah dapat ikan. "Tapi ada terang bulan enak didapat. Lokasinya di depan Ebony (hotel) dan Pasar Minggu," ucapnya serius. Penulis penasaran. "Ya terang bulan. Kue terang bulan, mancingnya pakai duit," lanjutnya terkekeh.

 


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers