MANAGED BY:
MINGGU
05 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 17 November 2021 15:23
Lobi-Lobi di Atas Panggung

Catatan Mengikuti Acara Literasi di Ibukota Kalsel

FOTO BERSAMA: Penulis dan Kepala Dispersip Nurliani Dardie berpose di sela-sela acara.

Akhir pekan tadi, Kadispersip Kalsel Nurliani mengirim undangan ke penulis, wartawan Radar Banjarmasin dari tanah Bumbu. Intinya dia meminta saya hadir di sosialisasi undang-undang serah simpan karya cetak. Berikut catatan mengikuti agenda itu.

- Oleh: Zalyan Shodiqin Abdi, Banjarmasin

Namanya sudah sering saya dengar. Tapi baru kemarin melihatnya di depan publik memberikan sambutan. Bunda Nunung memang beda. Teks hampir tidak dibaca. Ia fokus membius tamu pusat dengan jurus lobi-lobi.

Jujur, tidak berminat awalnya. Acara begitu setahu saya membosankan. Sambutan ini dan itu. Ngantuk. Tapi di undangan ada kalimat: registrasi akomodasi penginapan. Ya, bolehlah. Sudah lama gak ke ibukota.

Saya berangkat dengan seorang rekan. Yang juga diundang.

Tanah Bumbu ke Banjarmasin, sekarang semakin ruwet. Truk tambang lalu lalang. Perbaikan jalan belum selesai. Membuat kami memutar lewat Banjarbaru. Dampaknya, ongkos BBM makin dalam. Hampir Rp300 ribu."Tenang. Kan, nanti ada akomodasi," kata Agus Hasanudin.

Subuh kami berangkat. Senin (15/11) sore masuk Pal Enam. Di kanan jalan terlihat perpustakaan jauh berbeda wajahnya dengan zaman saya kuliah. Sepuluh tahun lalu. Kini semakin cantik. Konon di tangan Bunda Nunung --sapaan akrab Nurliani, perpustakaan itu naik daun sedemikian rupa.

Masuk Pal Empat kami belok kiri. Konfirmasi kehadiran di lobi hotel Rattan Inn. Luar biasa pikir saya. Sekelas perpustakaan bisa menidurkan tamu di hotel mewah. Mewah ruangannya, wah pelayanannya. Ada harga ada rupa.

Tanya harga sewa per malam. Kaget. Lebih mahal dari ongkos BBM kami. Aduh Bunda. Kami cuma wartawan lapangan. Hotel murah tak masalah. Jadi, lebihannya bisa kami simpan makan enak di mall.

Di parkiran, kami lihat mobil PGRI Tanah Bumbu. Juga beberapa pelat merah lain. Undangan perpustakaan katanya se Kalsel.

Petang, kami ke pusat kota. Cari makan.

Banjarmasin kini semakin kusam. Kendaraan padat merayap. Di beberapa titik sudah seperti Jakarta. Lampu merah, jika tidak hati-hati bisa menyenggol pengendara yang saling berebut menusuk masuk.

Subuh di hotel. Kami dapat kabar. Kadispersip Tanah Bumbu M Yusrin terjebak banjir di ruas Bati-Bati ke Banjarbaru. Dia salah jalan. Karena hanya bersama sopir, terpaksa Yusrin turun mendorong mobilnya dari belakang. Diam-diam kami tersenyum geli. Ada yang lebih menderita, ternyata.

Selasa paginya saya kesiangan. Lalai begadang. Awalnya mengira acara mulai pukul satu siang. Padahal jam 8 udah start. Terpaksa mandi seadanya. Restoran hotel nan mewah mau tak mau tidak sempat dijamah. Sayang, padahal ada kupon gratis.

Tiba di halaman parkir perpustakaan pukul 8.30. Oalah. Ternyata acara molor. Hujan gerimis sepertinya membuat yang lain juga telat. Jam sembilan lewat baru mulai. Mestinya saya sudah bisa menduga ini dari awal. Budaya molor susah sembuhnya di negeri ini.

Di bangku depan aula berjejer tamu penting. Ada Tatat Kurniawati. Dari Perpustakaan RI. Kemudian para kepala perpustakaan beberapa kabupaten.

Kopi di kantin tidak mampu mengusir kantuk. Suara moderator mulai berbau horor. Saya berasumsi ini sambutan-sambutan akan panjang dan formal. Saya sabar-sabarkan hati, amplop akomodasi belum diberi.

Bunda Nunung naik podium. Perhatian saya terusik. Dia pakai rok panjang, kontras dengan sepatu olahraga berwarna putih. Pengalaman saya, orang yang taktis begitu biasanya tidak suka birokrasi berbelit.

Dugaan itu tidak meleset. Belum apa-apa Bunda Nunung bilang. Hari itu ada dua acara. Jadi semua pembicara ia minta jangan lebay. Harus singkat, padat dan berkualitas.

Saya terkejut. Sekaligus senang. Ini baru sambutan pikir saya.

Dan kalimat-kalimat selanjutnya sukses bikin ngantuk hilang. Nunung hanya memegang teks. Tidak dia baca. Malah berkisah.

Apa yang dinyanyikannya? Keberhasilan-keberhasilan Dispersip Kalsel. Menjadi yang pertama sosialisasi aturan ini dan itu. Dia lalu memperlihatkan foto-foto. Sosialiasi awal di hotel sederhana. Lama-lama bergeser ke hotel bintang.

"Saya yakinkan Paman Birin (Gubernur Kalsel Sahbirin Noor). Ini acara penting. Mengundang penulis, sastrawan dan budayawan," ujarnya.

Nunung menilai, para penulis mesti mendapat jamuan yang patut. Menurutnya, penulis selama ini telah berjuang dalam sepi untuk mencerdaskan bangsa. Sesekali tidur di hotel mewah katanya, justru masih jauh dari penghargaan yang pantas.

"Tapi yang sesi ini, kami sengaja sosialisasi di aula perpustakaan. Supaya semua daerah bisa lihat. Aula kami layak seperti hotel bintang," ujarnya promosi.

Bunda Nunung kembali melihat teks. Ia baca beberapa kalimat. Suaranya berubah datar. Seperti membaca untuk diri sendiri."Oh iya, mumpung ingat," ujarnya tetiba beralih dari teks sambutan ke lobi-lobi yang sepertinya sudah dia rencanakan dengan matang.

Nunung berbicara langsung dari podium ke Tatat. Bahwa pejuang literasi Kalsel selama bertahun telah berjibaku ke desa-desa. "Mohon Bu Tatat disampaikan ke pusat ya. Kalau bisa kami dapat double cabin. Benar Bu ya? Tolong disampaikan. Medan kami di pelosok berat," rayunya.

Mobil perpustakaan di Kalsel mesti yang double gardan. Supaya bisa masuk ke pegunungan Meratus. Juga pelosok lainnya.

Lalu dia juga meminta tambahan menu-menu program di Dana Alokasi Khusus. Ia menjamin ke Tatat, anggaran itu tidak akan sia-sia. Waktu di belakang sebutnya telah membuktikan. Tahun 2020 Kalsel mendapat predikat indeks pembangunan literasi terbaik se Indonesia.

Banyak lagi yang ia minta ke Tatat. Perwakilan Perpustakaan RI itu hanya manggut-manggut khas ibu-ibu. Sesekali menangkupkan dua tangannya, seolah simbol hormat.

Di tengah aksi lobi-lobinya, Bunda Nunung seakan tersadar itu acara sosialisasi. Dia bilang: "sampai sekarang pun saya masih belajar undang-undang ini, makanya kita undang Bu Tatat memberi materi".

Kalimat itu hampir membuat saya terbahak. Betapa lihainya Bunda Nunung memoles kalimat. Mengingatkan saya dengan pesulap jalanan yang coba alihkan perhatian penonton dengan beberapa trik supaya dagangan laku. Oles kecap di sana, oles kecap di sini.

Aksinya itu nampaknya berhasil. Apa buktinya? Ketika Tatat berikan meteri, isinya balik banyak memuji Nunung. Paling berkesan di matanya adalah, gebrakan Nunung saat mulai menjabat Kadispersip Kalsel sejak 2017 silam. Dalam waktu tiga tahun, dapat penghargaan terbaik membangun literasi.

Bahkan Tatat terpaksa harus dihentikan. Ibu paruh baya itu masih betah. Materi intinya belum sampai. Tapi jadwal penerbangannya sudah memanggil-manggil.

"Aduh. Padahal saya mau bahas literasi. Itu poinnya. Waktu lain ya. Sayang ini, kenapa terbatas sekali." Tatat tidak bersandiwara. Ekspresi sedihnya mirip ibu-ibu pengajian yang sedang asyik menggosip, tapi tetiba ditelepon suami untuk masak.

Bunda Nunung anteng saja. Dia memberikan bahasa tubuh. Kalau itu bukan soalan besar. Pesawat lebih penting. Mungkin pikirnya: toh, misi lobi gue udah jalan.

Ya, harus saya akui. Gaung nama Bunda Nunung tinggi gemanya. Belum ada seingat saya kepala dinas di perpustakaan se-populer dia. Bahkan kepala dinas lain di provinsi Kalsel pun rasanya belum ada se terkenal Bunda Nunung.

Saya dan Agus diundang ke ruang pribadinya di kantor. Ada ruang virtual seperti lobi hotel. Kemudian kamar mandi dan WC yang, ah, wah pokoknya. "Menteri pernah rapat terbatas sama Presiden di sini (ruang virtual). Tiga jam," ujarnya.

Iseng saya berkeliling. Pengunjung semua mengaku betah. "Tapi kalau bisa ada cemilan sama air mineral gratis," kata mahasiswi berjilbab bertubuh mungil, Riska Amelia Islami. Alisnya tebal dan rapi.

Lain lagi dengan pengakuan mahasiswi berbaju dingin hijau, yang warna kulit dan potongan rambutnya begitu menarik. "Baru sekali ke sini. Gak nyangka ada tempat begini di Banjarmasin," aku Veronica Lioni, mahasiswi tingkat akhir fakultas dokter ULM.

Pulang perpustakaan saya merenung. Andai sebagus ini perpus di zaman saya kuliah. Dan secantik-cantik itu pengunjungnya.

Sayang peringatan batas check out hotel mengingatkan kami. Seperti Tatat: kami harus pulang. Di perjalanan kami sepakat: ilmu lobi Bunda Nunung harus dikuasai. Kami awalnya salah lobi. Pinjam roda empat, mestinya yang benar naik travel teman gratis. ()


BACA JUGA

Sabtu, 04 Desember 2021 07:44

Pohon Natal dari 5.000 Botol Plastik Bekas

Kreasi unik ini dipajang di lobi Galaxy Hotel sejak kemarin…

Rabu, 01 Desember 2021 07:09

Nekat Merantau ke Pemalang, Sukses Cetak Sejarah

  Keterbatasan fisik bukan alasan bagi Sabran (44) untuk berhenti…

Rabu, 01 Desember 2021 07:06

Modal Awal 30 Juta, Untung Ratusan Juta Sebulan

Menjadi anggota TNI bukan melulu soal senjata. Babinsa Koramil -05/Karang…

Sabtu, 20 November 2021 16:37

Dijuluki Monster dari Cemara, Tangkapan Terbesar Tim Animal Rescue BPBD

Ini tangkapan besar yang bakal membuat semua pawang ular level…

Kamis, 18 November 2021 09:31

Tak Ada Perhatian, Pemda Berdalih Refocusing Anggaran

Salasiah (66) warga Desa Masiraan RT 2, Kecamatan Pandawan, Hulu…

Rabu, 17 November 2021 15:23

Lobi-Lobi di Atas Panggung

Akhir pekan tadi, Kadispersip Kalsel Nurliani mengirim undangan ke penulis,…

Rabu, 17 November 2021 14:57

Berbincang dengan Pengusaha Mini Trail di Siring

Sejak SMP, Fahrul sudah menggandrungi segala yang berbau otomotif. Ketika…

Selasa, 16 November 2021 08:56

ULM Laksanakan Pengabdian pada Masyarakat di Kalteng

Akar bajakah saat ini mampu menjadi peluang usaha yang menjanjikan.…

Senin, 15 November 2021 21:22

Asa Pedagang Taman 10 K Pertamina Tanjung Melawan Pandemi

Pandemi memukul hampir setiap sendi kehidupan, tapi tetap ada asa…

Senin, 15 November 2021 14:06

Bangun Jejaring dan Belajar Bahasa Asing

Baru 25 tahun, Kesuma Anugerah Yanti sudah beberapa kali mengikuti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers