MANAGED BY:
MINGGU
05 DESEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Kamis, 18 November 2021 09:31
Tak Ada Perhatian, Pemda Berdalih Refocusing Anggaran

Desa Masiraan, Wilayah yang Jadi Langganan Banjir di Hulu Sungai Tengah

TERJANG BANJIR: Warga Desa Masiraan, Kecamatan Pandawan menerjang banjir melintasi jalan desa. | FOTO: JAMALUDDIN/RADAR BANJARMASIN

Salasiah (66) warga Desa Masiraan RT 2, Kecamatan Pandawan, Hulu Sungai Tengah (HST) tinggal bersama anak lelakinya Abdul Mazid (45) dan suaminya yang sakit-sakitan Said Arifin (65) tahun. Rumah kayu yang mereka tempati terendam banjir selama tiga hari. Ironisnya tak ada bantuan apapun dari pemerintah setempat.

- Oleh: JAMALUDDIN, Barabai

Ditemui Rabu (17/11) sekira pukul 14.00 Wita, Salasiah (66) menceritakan caranya bertahan dari banjir yang mengepung rumahnya. Sambil berjalan tertatih-tatih dia menunjukkan seluruh sudut rumahnya yang kotor bekas endapan lumpur. Ternyata, sudah tiga hari dua malam dia tidur di atas ranjang di atas air banjir.

Melihat ke dalam rumah, tak terlihat benda berharga apapun. Meja, kursi, apalagi kulkas. Di dalam rumahnya hanya ada dua tempat tidur dan dua lemari pakaian. Lantai rumah yang terbuat dari papan juga mulai reot. Tiap kali berjalan di atasnya mengeluarkan bunyi “ngik-ngik”.

Bahkan anak lelakinya, Abdul Mazid (45) harus tidur di atas loteng dari papan. Karena dua ranjang tidur digunakan kedua orangtuanya. Untuk makan selama banjir, dia hanya memanfaatkan bahan pokok yang ada, sedangkan minum memasak air hujan yang ditampung di tong.

“Masak telur dan nasi dan masih ada simpanan ikan kering. Itu yang kami makan sekeluarga,” kisahnya.

Rumah Salasiah memang tepat berada di pinggir Sungai Barabai. Hanya dipisahkan dengan jalan utama desa. Tak ayal jika Sungai Barabai meluap rumahnya selalu terendam. Tahun ini sudah dua kali rumahnya terendam. Awal Januari tadi paling parah, ketinggian air hampir sampai ke atap rumah.

“Sekarang hanya 1 meter, tapi karena tiga hari tidak hujan air terus surut. Semoga jangan hujan lagi,” harapnya.

Sampai kemarin, air masih menggenangi rumah Salasiah. Kabar baiknya di dalam rumah sudah tidak tergenang. Namun di depan teras rumah ketinggian air masih setinggi lutut orang dewasa. “Dari hari Senin tidak ada bantuan sama sekali. Baru hari ini tadi ada bantuan air mineral satu kardus dari relawan,” bebernya.

Rumah Salasiah letaknya juga sangat jauh dari rumah warga lainnya. Jaraknya kurang lebih 200 meter baru ada rumah lagi. Kisah Salasiah ini semakin membuat hati penulis terenyuh. “Di sini memang langganan banjir, tapi kami juga bingung kalau mengungsi harus kemana?” ucapnya seraya berharap hujan tidak turun lagi.

Selain Salasiah, seluruh warga Desa Masiraan mengalami nasib yang sama. Sejak banjir hari Senin 15 November lalu, belum ada bantuan pemerintah yang sampai. Di Desa Masiraan ada 208 Kepala Keluarga (KK) dan 739 jiwa yang terdampak.

Desa ini merupakan desa yang letak geografisnya berada di dataran rendah. Otomatis air luapan sungai paling lambat surut. Jaraknya dengan pusat kota Barabai hanya 7 kilometer.

Mantan Pembakal Desa Masiraan, Samsudin mengatakan diperlukan waktu 4-5 hari air di desanya surut. Itupun jika tidak terjadi hujan. “Kalau hujan lagi bisa satu minggu,” katanya.

Samsudin mengatakan banjir bulan November ini memang tidak separah awal tahun lalu. Khususnya di RT 1 dan 2 ketinggian air bervariasi. Paling parah hanya di RT 3 dan 4, kemarin ketinggian air masih 1 meter lebih.

Karena menjadi tempat langganan banjir, rumah-rumah warga pun sudah didesain menjadi rumah panggung. Walaupun tidak parah, warga tetap tidak bisa beraktivitas seperti biasa. Sebab jalan utama desa terendam. Kendaraan roda dua dan empat tidak bisa melintas.

Desa Masiraan memang terkenal sebagai desa langganan banjir, dan desa yang paling lama terendam ketika banjir.Masalah yang paling utama yakni terjadi pendangkalan Sungai Barabai.

Ditambah banyak sampah sungai seperti kayu, potongan bambu dan lainnya yang menghambat arus air. “Sampah rumah tangga tidak ada, cuma memang desa ini berada di wilayah paling rendah,” ujarnya.

Karena langganan banjir, desa ini dikenal sebagai desa tanggap bencana alam. Untuk itu aparat desanya punya link khusus langsung ke Dinas Sosial Provinsi Kalsel. “Kami juga sudah mengirim data ke sana, tapi juga belum ada bantuan,” jelasnya.

Samsudin membeberkan, selama banjir warga desa belum mendapat bantuan seperti nasi bungkus, obat-obatan dan lainnya. “Ada dari pemerintah aparat kecamatan datang cuma memantau saja. Tidak bawa bantuan,” ungkapnya.

Para warga dipaksa berjuang sendiri melawan keadaan. Untuk bertahan hidup, warga desa hanya mengandalkan bahan pokok yang tersedia di rumah. Beruntungnya masih ada warung kelontong warga yang buka.“Tapi kok tiap tahun seperti ini, selalu banjir. Kami ingin ada program yang bisa mengatasi masalah tahunan ini,” ujarnya.

Samsudin ingin desanya mendapat perhatian lebih dari kepala daerahnya. Dia berharap Bupati HST, Aulia Oktafiandi menengok langsung ke lapangan bagaimana kondisi warga yang terdampak banjir. Kemudian mendengar keluh kesah warga. “Dielangi aja kami sudah himung (Ditengok saja kami sudah senang),” harapnya.

Menanggapi warga yang tidak mendapat bantuan sejak tiga hari, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) HST, Budi Haryanto menegaskan jika pemerintah HST sangat peduli kepada warga di Desa Masiraan.

Namun karena ada refocusing anggaran, BPBD HST tidak memiliki logistik pangan dan non pangan lagi. Untuk itu logistik di kelola oleh Dinas Sosial HST. “Tim kami juga sudah memantau ke sana. Kami sudah koordinasi dengan Kepala Dinas Sosial untuk distribusi logistik,” katanya saat dikonfirmasi.

Budi juga mengatakan posko induk dan dapur umum saat ini sudah ditutup. Pihaknya akan segera menindak lanjuti keluhan warga di Desa Masiraan. “Kita data mereka meminta bantuan apa saja. Kami juga terus koordinasi dengan bapak Pj Sekda HST,” pungkasnya.(by/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 04 Desember 2021 07:44

Pohon Natal dari 5.000 Botol Plastik Bekas

Kreasi unik ini dipajang di lobi Galaxy Hotel sejak kemarin…

Rabu, 01 Desember 2021 07:09

Nekat Merantau ke Pemalang, Sukses Cetak Sejarah

  Keterbatasan fisik bukan alasan bagi Sabran (44) untuk berhenti…

Rabu, 01 Desember 2021 07:06

Modal Awal 30 Juta, Untung Ratusan Juta Sebulan

Menjadi anggota TNI bukan melulu soal senjata. Babinsa Koramil -05/Karang…

Sabtu, 20 November 2021 16:37

Dijuluki Monster dari Cemara, Tangkapan Terbesar Tim Animal Rescue BPBD

Ini tangkapan besar yang bakal membuat semua pawang ular level…

Kamis, 18 November 2021 09:31

Tak Ada Perhatian, Pemda Berdalih Refocusing Anggaran

Salasiah (66) warga Desa Masiraan RT 2, Kecamatan Pandawan, Hulu…

Rabu, 17 November 2021 15:23

Lobi-Lobi di Atas Panggung

Akhir pekan tadi, Kadispersip Kalsel Nurliani mengirim undangan ke penulis,…

Rabu, 17 November 2021 14:57

Berbincang dengan Pengusaha Mini Trail di Siring

Sejak SMP, Fahrul sudah menggandrungi segala yang berbau otomotif. Ketika…

Selasa, 16 November 2021 08:56

ULM Laksanakan Pengabdian pada Masyarakat di Kalteng

Akar bajakah saat ini mampu menjadi peluang usaha yang menjanjikan.…

Senin, 15 November 2021 21:22

Asa Pedagang Taman 10 K Pertamina Tanjung Melawan Pandemi

Pandemi memukul hampir setiap sendi kehidupan, tapi tetap ada asa…

Senin, 15 November 2021 14:06

Bangun Jejaring dan Belajar Bahasa Asing

Baru 25 tahun, Kesuma Anugerah Yanti sudah beberapa kali mengikuti…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers