MANAGED BY:
RABU
17 AGUSTUS
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Selasa, 21 Desember 2021 12:15
Dari Buku Eksotisme Parang Tradisional Kalsel: Jika Tak Diteliti, Pengetahuan Terancam Punah
BERI MASUKAN: Peserta diskusi menyampaikan pendapatnya, saat launching buku Eksotisme Parang Tradisional Kalsel, Senin (20/12) lalu. | Foto: Wahyu Ramadhan/Radar Banjarmasin

Berkejaran dengan waktu, penelitian tentang parang tradisional Kalsel kini dibukukan. Tonggak awal upaya pelestarian senjata tradisional.

Oleh: WAHYU RAMADHAN, Banjarmasin

Buku itu berjudul 'Eksotisme Parang Tradisional Kalsel'. Terdiri dari lima bab, total 100 halaman.

Bagi saya yang awam, sampul buku itu tampak misterius. Lantaran deretan foto parang di sampul itu diubah warnanya menjadi hitam putih. Meski tampak sedikit buram, tapi secara keseluruhan masih enak dipandang.

Semua bahan yang ada dalam buku itu merupakan kumpulan hasil penelitian Asosiasi Antropolog Indonesia (AAI) Kalsel, bekerja sama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kalsel.

Seperti judulnya, buku itu tidak hanya berkutat tentang ulasan ragam bentuk dan jenis parang pada umumnya. Misalnya, parang Bungkul dan Lais yang terkenal di Banua. Tapi, juga ulasan tentang parang, yang bahkan kini dikategorikan langka.

Hal menarik lainnya, terkait kegunaan parang untuk alat kerja bertani dan berkebun. Ambil contoh seperti yang diulas dalam Bab III di buku itu.

Di masa perjuangan melawan penjajah, parang digunakan sebagai senjata. Kemudian di sisi lain, bahkan hingga kini, juga digunakan sebagai azimat. Mulai perlindungan diri dari ragam kejahatan atau musibah, untuk usaha atau dagang, kharismatik atau kewibawaan, hingga sebagai benda pusaka.

Kepada Radar Banjarmasin, Ketua AAI Kalsel Achmad Rafieq menjelaskan, penelitian dimulai sejak Agustus 2021 lalu. Menggandeng Komunitas Pencinta Senjata Tradisi Kalsel, yakni Komunitas Wasi Pusaka Banua (Wasaka), wilayah penelitian parang menjamah sejumlah daerah. Seperti Kabupaten Barito Kuala (Batola). Banjarmasin, Banjarbaru, Kabupaten Banjar, Tapin, hingga sejumlah daerah di Hulu Sungai.

Penelitian dianggap perlu, lantaran kurangnya perhatian terhadap parang di Kalsel. Itu ditandai dengan minimnya pengetahuan tentang ragam parang yang ada.

"Ada kekhawatiran bila parang di Kalsel tidak diteliti dan diinventarisir, maka jenis parang akan punah, dan pengetahuan kita tentang hal itu akan hilang," jelas Rafieq.

Sebelum dibukukan, hasil penelitian sementara sempat didiskusikan melalui seminar pada 12 November lalu di Museum Wasaka. "Tujuannya menampung berbagai masukan dari pegiat dan pemerhati senjata tradisional, juga budayawan," tambahnya.

Berkejaran dengan waktu, akhirnya penelitian tuntas akhir November tadi. Hasilnya lantas dibukukan dan diperkenalkan, Senin (20/12) siang di Aula Hasan Basri, Dinas Pariwisata Kalsel.Dari hasil penelitian yang dibukukan itu, setidaknya tercatat 31 parang.

Saat perkenalan, buku Eksotisme Parang Kalsel itu juga diulas oleh akademisi di Universitas Lambung Mangkurat (ULM), M Zaenal Arifin Anis. Diskusi pun berlangsung. Ada banyak masukan dari peserta yang hadir. Rata-rata, menginginkan adanya penelitian lanjutan.

Selain untuk mendapatkan hasil yang lebih mendalam, tentu untuk menambah khazanah keilmuan, hingga sebagai bentuk pelestarian.

Seperti diungkapkan salah seorang pegiat senjata tradisional di Banjarmasin, Syarifuddin Nur. Menurutnya, masih banyak hal yang bisa dieksplor dan diulas lebih mendetail.

"Dari sisi bentuk hulu (gagang) dan kumpang (sarung) parang. Atau motif ukiran, misalnya. Itu tak kalah menarik," sarannya.

Kendati demikian, lelaki yang akrab disapa Abah Sultan itu mengapresiasi langkah yang dilakukan peneliti. Lantaran sudah berupaya mendokumentasikan salah satu senjata tradisional Kalsel.

"Khazanah keilmuan dan dokumentasi kita tentang parang masih kurang. Mestinya, tiap tahun ada program seperti ini dari pemerintah. Ini penting, sebagai bentuk pelestarian dan edukasi budaya," tekannya.

Sementara itu, dari pandangan pengulas buku, M Zaenal Arifin Anis, menginginkan buku yang dibuat hendaknya menggunakan bahasa populer. Tujuannya, agar bisa dibaca oleh berbagai kalangan.

"Ulas juga kronologinya. Sentuh pada tradisinya. Kita sekarang kekurangan pengetahuan lokal, karena banyak yang mengabaikan," ucapnya.

"Ambil contoh, pengetahuan tentang besi yang digunakan, bisa lebih dilacak lagi. Zaman sekarang, bahan besi bisa dibeli alias mudah dicari. Tapi, bagaimana dengan zaman dulu? Saya kira nanti bisa ditambahkan lagi," lanjutnya.

Di akhir pertemuan, Ketua AAI Kalsel Achmad Rafieq menyadari, apa yang dilakukan masih jauh dari kata sempurna. Banyak hal yang mesti digali dari penelitian parang. "Tapi setidaknya, buku ini menjadi pemantik untuk karya ke depan," pungkasnya. (war)


BACA JUGA

Jumat, 15 Juli 2022 11:24

Kisah Pencari Burung di Hutan Kotabaru dan Tanbu, Dipancing Pakai Burung, Ketemu Mahluk Gaib Diam Saja

Belum banyak orang tahu, mencari burung di hutan sangat banyak…

Selasa, 07 Juni 2022 11:22

Siti Farida, Perempuan Kalsel yang Rutin Berenang di Sungai Aare, Permisi Pada Penjaga Sungai

“Datu-Datu, ulun permisi handak bekunyung di sini.” Mantra itu diucapkan…

Minggu, 17 April 2022 20:30

Munggu Ringkit Perlu Surau dan Pengajar Agama

Jauh di perbatasan, nasib warga Dusun Munggu Ringkit belum semulus…

Jumat, 18 Maret 2022 12:04

Ini Dia Astakona, Tumpeng Khas Banjar

Di Jawa, nasi tumpeng menjadi sajian pelengkap momen-momen penting. Tapi…

Jumat, 18 Maret 2022 12:00

Menilik Pembuatan Gelang Khas Kalimantan: Ternyata Sepupu Kupiah Jangang dan Dipercaya Penolak Parang Maya

Bermodal akar jangang, sebuah gelang unik pun dihasilkan. Inilah gelang…

Sabtu, 12 Februari 2022 13:11

Banyak Yang Tak Tahu, Ada Pemakaman Belanda di Kotabaru, Sayangnya Tak Dirawat

 Banyak yang belum mengatahui ada kompleks makam Belanda di Kabupaten…

Sabtu, 12 Februari 2022 13:10

Sejarah Menarik Nama Teluk Miliar, Kenapa Disebut Demikian?

 Pernah dengar nama teluk miliar? Bagi warga Marabahan nama ini…

Selasa, 08 Februari 2022 11:15

Nekat Terobos Pemukiman, Deti Si Lutung Takkan Selincah Dulu

 Dua ekor lutung yang malang. Asyik mencari makan di atas…

Senin, 31 Januari 2022 10:17

Sarigading, Jamu Paling Terkenal di Masanya, Ini Awal Mula Kisahnya...

Tahu lah pian? Di Kabupaten Hulu Sungai Tengah ada jamu…

Senin, 31 Januari 2022 10:14

Makam Massal Tragedi 23 Mei 1997 yang Mulai Dilupakan

Tragedi Jumat Kelabu di Banjarmasin pada 23 Mei 1997 silam…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers