MANAGED BY:
KAMIS
07 JULI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Kamis, 07 April 2022 13:25
PPN Naik, Harga Mobil Makin Mahal
SEMAKIN MAHAL: Deretan mobil di Honda Trio Banjarbaru, beberapa waktu lalu. Pemerintah resmi menaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen. | FOTO: DOK/RADAR BANJARMASIN

 Sejak 1 April 2022, pemerintah resmi menaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) dari 10 persen menjadi 11 persen. Dengan kenaikan ini, harga sejumlah barang dan kebutuhan masyarakat ikut terkerek. Salah satunya mobil.

Kepala Cabang Wira Toyota Banjarmasin, Hansye Eduard Pantow mengatakan, sejak PPN naik, harga mobil yang mereka jual semakin mahal. “Kenaikan harga mobil ada yang Rp2 juta sampai Rp24 jutaan,” katanya.

Untuk Toyota Land Cruiser misalnya, dia menyebut, harganya naik Rp24 juta menjadi Rp2,3 miliar setelah PPN dinaikkan pemerintah. “Lalu Alphard dan Vellfire harganya naik Rp14 jutaan,” sebutnya.

Terkait dampak kenaikan PPN dengan penjualan mobil, Hansye menyampaikan, sejauh ini belum terlihat pengaruhnya. “Bisa iya (membuat penjualan turun), bisa tidak,” ucapnya. Selain di Wira Toyota, harga mobil di Honda Trio Motor juga naik. Chandra Lauwansyah selaku Senior Manager Honda Trio Motor Banjarmasin membenarkan ada terjadi perubahan harga seiring naiknya PPN 11 persen.

“PPN naik harga mobil naik juga Mas. Soalnya pajak ‘kan itu. Sesuai PPN naik 1 persen. Jika dirupiahkan antara Rp2 juta hingga Rp7 jutaan,” ujarnya.

Begitu pula mobil baru Suzuki. Sales Mitra Suzuki Banjarbaru, Mahdeni mengatakan, dengan naiknya tarif PPN membuat harga mobil yang mereka jual juga naik. “Bervariasi naiknya. Ada yang naiknya Rp14 juta. Ada yang Rp 4juta, dan ada yang Rp 2 juta,” paparnya.

Hal ini, sambung dia, membuat sales harus memutar otak mencari konsumen. Terlebih kebijakan keringanan PPNBM sudah tidak ada lagi.

Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah angkat bicara terkait naiknya PPN. Dia menyebut, kenaikan tarif PPN yang diterapkan di Indonesia masih jauh lebih rendah dibandingkan negara lain.

“11 persen itu tinggi nggak? Kalau dibandingkan banyak negara di G20, OECD, maka kita liat PPN rata-rata di negara tersebut adalah 15-15,5 persen,” ungkap Sri Mulyani.

Oleh karenanya, meski banyak pihak yang merasa ini bukan waktu yang tepat namun menurutnya harus dilakukan saat ini.

Sebab, perekonomian sudah mulai pulih dan APBN yang sebelumnya sudah bekerja begitu keras harus kembali disehatkan. “Nah PPN kita melihat space-nya masih ada. Jadi kita naikkan hanya 1 persen. Namun kita paham, sekarang fokus kita pemulihan ekonomi. Namun pondasi untuk pajak yang kuat harus mulai dibangun,” tutur Bendahara negara ini.

Dia menjelaskan, kenaikan PPN tidak bisa hanya dilihat dalam jangka pendek. Karena ini dilakukan guna membangun Indonesia yang makin kuat ke depannya.

Dengan demikian, maka dia menekankan bahwa kenaikan PPN bukan untuk makin menyusahkan masyarakat. Akan tetapi, untuk membangun masa depan yang akan dinikmati oleh masyarakat juga.

“Jadi jangan bilang saya nggak perlu jalan tol, saya nggak makan jalan tol dan lain-lain, tapi banyak sekali instrumen pajak masuk ke masyarakat,” paparnya.

“Anda pakai listrik, LPG, naik motor dan ojek itu ada elemen subsidi. Oleh karena itu, elemen pajak yang kuat untuk menjaga rakyat sendiri, bukan untuk menyusahkan rakyat,” tambah Sri Mulyani. (ris/by/ran)

 

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers