MANAGED BY:
SENIN
23 MEI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Minggu, 17 April 2022 20:30
Munggu Ringkit Perlu Surau dan Pengajar Agama
PERLU LEBIH DARI JALAN ASPAL: Suasana di Dusun Munggu Ringkit Kecamatan Piani, Kabupaten Tapin pada Minggu (10/4) pagi. Akses jalan yang mulus dan masuknya aliran listrik, tak berarti dusun yang berbatasan dengan Kabupaten Banjar ini mendapatkan perhatian. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Jauh di perbatasan, nasib warga Dusun Munggu Ringkit belum semulus aspal jalanan dan seterang cahaya lampu yang menyinari rumah warganya.  Jejak Ramadan di Pelosok Banua bergeser ke Kabupaten Tapin. Sebuah daerah yang kaya akan sumber daya mineral batubara, juga perkebunan kelapa sawit.

 Kecuali kawasan Kota Rantau yang menjadi pusat pemerintahan di kabupaten tersebut, hilir mudik truk melintas di jalanan, menerbangkan debu ke rumah-rumah dan pepohonan yang dilalui.

Dari Kota Banjarmasin, menuju Rantau yang menjadi jantung kabupaten itu jaraknya sejauh 92,5 kilometer. Tujuan penulis kali ini adalah sebuah dusun yang berada di pelosok Kabupaten Tapin. Yakni, Dusun Muara Ringkit. Dusun ini berada di kawasan Pengunungan Meratus. Dari Rantau yang menjadi jantung Kabupaten Tapin itu jaraknya sekitar 43 kilometer.

Menuju dusun ini tidaklah mudah. Setidaknya perlu melintasi sejumlah desa terlebih dahulu. Di antaranya yakni Desa Bitahan Baru di Kecamatan Lok Paikat. Jalan di desa ini mulus beraspal dan berliku. Setidaknya hingga tiba di Desa Baramban, Kecamatan Piani.

Selanjutnya, dari Desa Baramban, motor dipacu menuju ke arah Desa Miawa, Batu Ampar, dan Pipitak Jaya. Di sini, kondisi jalannya sudah campur aduk. Kadang beraspal, kadang tidak alias hanya jalan berbatu.

Penulis jadi sempat terpikir, bagaimana komentar Presiden RI Joko Widodo, ketika melihat kondisi pedesaan hingga akses jalan di situ beberapa waktu lalu. Tepatnya, ketika presiden menghadiri hajatan besar yang digelar di Desa Pipitak Jaya, pada 18 Februari 2021 lalu. Meresmikan Bendungan Tapin. “Presiden naik heli, bang. Mendarat di bendungan,” ucap Rasidi Fadli. Ia wartawan Radar Banjarmasin, yang ngepos di Kabupaten Tapin.

Ia yang saat itu mendampingi perjalanan penulis, ia pula yang menjawab rasa penasaran penulis pada Sabtu (9/4) siang itu. “Sebenarnya, sebelum presiden datang jalanan sempat diperbaiki alias diaspal ulang. Tapi tidak bertahan lama rusak lagi,” tambahnya lelaki 28 tahun itu.

Selepas zuhur, kami tiba di Desa Pipitak Jaya. Di sini, kami rehat sejenak. Di kediaman salah satu tokoh adat Dayak di Kecamatan Piani. Sekaligus menemui rekan yang ikhlas hati mengantarkan penulis ke Dusun Munggu Ringkit. Namanya Hendra Gunawan. Ogun sapaan akrabnya. Lelaki asli Rantau ini mempunyai kontribusi besar membina warga di Dusun Munggu Ringkit. Menyampaikan harapan serta menampung keluh kesah warga dusun itu. Ibarat kata, Ogun menjadi juru bicara warga di sana.

Sebelum meneruskan perjalanan. Penulis melihat betapa megahnya Bendungan Tapin itu. Sungguh sangat luas. Airnya tampak tenang. Dan tampak menyejukan. Tak terbayang lagi bahwa di dasar bendungan itu sebelumnya merupakan tanah yang dihuni dua warga desa berbeda. Yakni Warga Pipitak Jaya dan Warga Harakit.

Menilik biaya yang dikeluarkan, proyek pembangunan Bendungan Tapin dimulai sejak tahun 2015 lalu, dengan biaya sebesar Rp986 miliar. Berdasarkan catatan yang dihimpun Radar Banjarmasin, nominal tadi belum termasuk biaya pembebasan lahan. Pembangunan bendungan itu sendiri, masuk dalam program prioritas pembangunan 49 bendungan di seluruh Indonesia.

Saat peresmiannya, Presiden RI Joko Widodo menyampaikan, bahwa Bendungan Tapin berperan penting dalam pengendalian banjir. Bendungan ini mampu menampung 56,7 juta meter kubik air. 

Kemudian, presiden juga menyampaikan bahwa bendungan itu mampu menyediakan air baku, juga sebagai sumber air untuk pembangkit listrik. 

Di sisi lain, Pj Gubernur Kalsel, yang saat itu dijabat oleh Safrizal ZA, juga memberikan penjelasan yang ditambah dengan harapan. Agar masyarakat Kabupaten Tapin bisa merasakan seluruh manfaat dari Bendungan Tapin. 

Artinya, tidak hanya sebagai pengendali banjir dan sumber energi saja. Melainkan juga sebagai irigasi yang mengairi area persawahan. Sehingga ke depan, pertanian akan lebih meningkat. Bahkan mampu menjadi penyuplai pangan bagi ibu kota baru yang ada di Provinsi Kaltim.

Singkat cerita. Dari Pipitak Jaya, kami bertiga harus melintasi sejumlah desa lagi untuk sampai ke Dusun Munggu Ringkit. Di antara desa yang kami lalui yakni Desa Harakit, Batung, dan Belawaian. Syukurlah, jalan di tiga kawasan itu sudah lumayan mulus. Ketiga desa itu masih termasuk dalam Kecamatan Piani. Dan dusun Munggu Ringkit berada di ujung kecamatan tersebut.

Kami sendiri tiba di dusun itu selepas waktu isya. Dusun Munggu Ringkit dibelah oleh akses jalan beraspal yang cukup mulus dan nyaman. Yang status jalan itu sendiri adalah jalan Provinsi Kalsel. Listrik juga sudah masuk. Dari dusun ini, kita bisa menuju ke Kabuten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kabupaten Banjar hingga Kabupaten Tanah Bumbu.

Sayangnya, nasib warga di sana masih tak semulus jalan Provinsi Kalsel itu. Bila ditinjau dari segi ekonomi, kesehatan, pendidikan, hingga soal keagamaan, warganya bisa dibilang masih serba kekurangan.

Di dusun itu, tak ada wadah pelayanan kesehatan. Untuk mendapatkannya, warga mesti menuju Desa Miawa. Dari Dusun Munggu Ringkit ke tersebut, berjarak setidaknya 41,6 kilometer. Soal pendidikan, di situ hanya ada satu sekolah dasar filial atau kelas jauh dari SDN Harakit. Dengan kondisi lahan berikut bangunannya meminjam milik warga.

 
Mahasiswa UIN Antasari di Posko KKN Mahasiswa di Dusun Muara Ringkit, Sabtu (9/4) malam. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Difungsikan di tahun 2016 lalu, belasan murid belajar di satu bangunan yang sebelumnya difungsikan sebagai gudang. Berdasarkan cacatan yang dihimpun Radar Banjarmasin, saat itu bagian lantai, dinding hingga atapnya bolong-bolong. Di dalam bangunan itu, proses belajar murid kelas 1 hingga kelas 6 digabung. Sungguh jauh dari kata layak.

Dua tahun berjalan, dan setelah ramai diberitakan, perhatian mulai datang dari instansi terkait. Bangunan sekolah diperbaiki. Setidaknya, agar mendekati kata layak.

Sayangnya, kondisi itu hanya bertahan tiga tahun. Di tahun 2021, bangunan berikut tanahnya, hendak kembali dipakai sang pemilik tanah.

Beruntung, untuk soal itu sudah ada solusinya. Desa Harakit bersedia menghibahkan sebidang tanah. Dan sekarang, masih berproses.

Sedangkan untuk bangunan sekolahnya, nanti menjadi urusan Pemkab Tapin. Pemkab berjanji mendirikan sebuah bangunan sekolah permanen apabila proses hibah tanah selesai. Selanjutnya untuk persoalan ekonomi. Mayoritas warga bekerja sebagai petani dan berkebun. Namun, warga merasa harga jual hasil alam yang sebelumnya ditanam masih terlalu murah.

Ambil contoh, harga penjualan kemiri. Oleh tengkulak, per kilogramnya dihargai Rp6 ribu. Paling mahal Rp8 ribu. Padahal bila dijual di luar dari dusun, bisa lebih mahal dari itu.

Hal itu disampaikan salah seorang warga Munggu Ringkit, Umin.

“Kami tahu, harga barang di luar sana mahal. Bahkan naik terus. Tapi mengapa, kami di sini justru selalu dibeli dengan harga murah,” keluhnya, ketika ditemui penulis pada Minggu (10/4) lalu.

Sedangkan dalam hal keagamaan, warga di dusun ini sebenarnya hidup tentram dan damai. Antar pemeluk agama, warga saling menghargai dan menghormati.

Dari total 80 kepala keluarga di Dusun Munggu Ringkit, mayoritas warganya memeluk agama Kaharingan atau Kepercayaan. Sisanya, ada yang beragama Hindu, Kristen dan Islam. Tiga dari pemeluk agama itu, boleh dibilang sudah memiliki rumah ibadahnya masing-masing. Juga setidaknya, dipandu oleh masing-masing pemuka agamanya.

Kecuali untuk pemeluk agama Islam, yang di dusun itu jumlahnya ada delapan kepala keluarga. Sebagai juru bicara warga Dusun Munggu Ringkit, Ogun menjelaskan, warga yang menjadi pemeluk agama Islam di situ memerlukan sebuah surau.

Sejauh ini untuk menjalankan ibadah, warga di dusun tersebut mesti bersusah payah. Pemeluk agama Islam yang hendak merasakan nikmatnya salat berjamaah di musala, mesti numpang di Dusun Munggu Lahung. Padahal secara administratif, dusun itu masuk wilayah Kabupaten Banjar. Tepatnya, di Desa Paramasan Bawah, Kecamatan Paramasan.

Sedangkan ketika hendak menunaikan salat Jumat, warga Dusun Munggu Ringkit mesti turun ke Desa Batung. Jarak dari Dusun Munggu Ringkit ke Desa Batung, setidaknya sejauh 13,7 kilometer.

Di desa itu ada sebuah masjid. Namanya Masjid Nurul Islam. “Satu lagi. Kalau bisa, ada seorang ustaz atau pengajar agama. Ini penting karena mereka yang memeluk agama Islam di sini rata-rata adalah mualaf,” jelasnya.

Penulis yang melihat langsung kondisi dusun itu, merasakan bahwa kehidupan di situ cukup sunyi bila dibandingkan dusun tetangganya, Munggu Lahung yang cukup ramai dan berada di kabupaten Banjar itu.

Pagi hari hingga petang, warga Dusun Munggu Ringkit pergi ke ladang atau ke kebun. Kalau pun ada hanya beberapa warga saja. Yang tampak menjemur kemiri atau membuat tas anyaman khas Dayak.

Malam hari, cuaca di situ sungguh dingin menggigit. Lalu, hampir tak ada kegiatan yang dilakukan selain beristirahat di rumah masing-masing.

Bulan Ramadan yang semestinya bisa dirasakan dengan khidmat dan sungguh-sungguh, hampir belum menyentuh warga di sana. Tak ada tarawih hingga tadarus alquran yang biasa dilakukan di tempat lainnya. Kalau pun ada aktivitas itu, hanya dilakukan oleh sejumlah mahasiswa asal Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin yang sedang menjalankan program Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 45 hari.

Dua di antara sejumlah peserta KKN yang dibincangi penulis saat itu, adalah M Rizky Ilhami dan Dheiya Alfadilla Aufiya. Keduanya mengaku, bersama dengan rekan-rekan peserta lainnya sudah tiga pekan berada di dusun tersebut.

Keduanya menuturkan, Dusun Munggu Ringkit adalah dusun yang nyaman. Warganya mempunyai solidaritas yang tinggi. Warga juga perhatian dengan para pendatang.

Meskipun, dusun berikut warganya sendiri masih terbilang kurang mendapat perhatian. “Di sini, masih memerlukan sarana prasarana pendidikan yang layak. Termasuk pula, sumber daya manusia (SDM) berupa pengajar,” ucap Dheiya. “Ada banyak anak-anak yang antusias ingin mengecap pendidikan di bangku sekolah,” tambahnya.

Hal senada diungkapkan peserta KKN lainnya, M Rizky Ilhami. Ia membenarkan bahwa pemeluk agama Islam di situ, memerlukan sebuah surau berikut ustaz atau guru agama.

“Agar ada yang membimbing atau menuntun. Hingga warga bisa mengamalkan agama Islam dengan baik. Kalau hanya kami, rasanya belum memungkinkan. Kami hanya bisa berupaya semampu kami,” tutupnya.

Ya, penulis pun merasa demikian. Mereka yang menjalankan program KKN tentu kewalahan. Lantaran mereka hanya berdiam sebentar di situ. Tidak untuk waktu yang sangat lama. (war/by/ran)

 


BACA JUGA

Rabu, 23 September 2015 09:58

Gudang SRG Kebanjiran Gabah

<p style="text-align: justify;"><strong>MARABAHAN</strong> &ndash; Memasuki…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers