MANAGED BY:
MINGGU
29 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Jumat, 25 November 2022 10:30
Ekowisata CMC Tiga Warna Layak Ditiru di Kalimantan
OBJEK WISATA: Pantai Gatra salah satu dari enam pantai yang ada di CMC Tiga Warna.

Malang Raya punya pantai yang dikelola sangat unik. Bahkan menjadi pusat perhatian global. CMC Tiga Warna.

Laporan Eddy Hardiyanto
Malang Selatan, Jawa Timur.

ROMBONGAN peserta karya tulis Porwanas XIII Malang Raya harus singgah di pos 2. Menghadap ke petugas yang duduk di dalam pos. Semua perlengkapan yang dibawa ditanya. Satu persatu. Jumlah air mineral langsung dicatat petugas di kertas formulir. Kotak makanan yang kebetulan dibawa juga ditulis angkanya berapa. Bahkan jumlah kotak rokok juga dihitung. Apapun benda yang berpotensi menjadi sampah harus tercatat.

Bahkan dicek satu persatu saat pulang. Perhitunganya harus pas. Kalau hilang satu, disuruh balik mencarinya. Bisa pula mencari sampah pengganti. Kalau tidak, denda Rp100 ribu per item.

Aturan ini sudah diberitahu Arik Anggara di Pos 1. Arik bertugas sebagai tour guide. Dengan setitik infra red, Arik mengarahkan benda mirip pulpen itu ke peta yang tertempel di dinding pos. Tangannya bergerak sambil menyampaikan rute apa saja yang akan dilintasi.

 

Clungup Mangrove Conservation (CMC) Tiga Warna terletak di Desa Tambakrejo, Kecamatan Sumbermanjing Wetan, Kabupaten Malang. Ekowisata ini dikelola oleh masyarakat lokal Sendang Biru yang tergabung dalam Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru. Total luasan area mencapai 117 hektare. Terdiri dari 71 ha mangrove, 10 ha terumbu karang, dan 36 ha hutan lindung.

Kawasan CMC Tiga Warna dibagi menjadi dua area konservasi. Area konservasi Mangrove di Pantai Clungup dan Pantai Gatra. Area konservasi terumbu karang di Pantai Sapana, Pantai Mini, Pantai Batu Pecah, dan Pantai Tiga Warna. “Kami hanya membuka tiga pantai,” ujar Ketua Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru, Saptoyo saat ditemui peserta di sekretariatnya, Selasa (22/11).

Kini hanya Pantai Clungup, Pantai Gatra, dan Pantai Tiga Warna bisa dikunjungi. Sedangkan Pantai Sapana, Pantai Mini, dan Pantai Batu Pecah sengaja disimpan. Belum ditawarkan ke tamu. Prinsip wisata ini dipakai untuk menjaga keberlanjutan tourism. Tidak jor-joran, semua dibuka untuk pengunjung. Ini berpotensi tidak terkelola dengan baik. Akhirnya bisa mangkrak. “Titiknya baru dibuka satu per satu. Iramanya, kami membuka setiap enam sampai tujuh tahun,” tambah Saptoyo.

Setiap titik yang dibuka harus mempersiapkan semuanya. Mulai dari atraksi unggulannya, pasar tamunya siapa, yang menangani siapa, tata kelolanya seperti apa. Ini butuh satu tahun untuk diskusi saja. Kalau sudah jadi, baru dipromosikan. Setahun dipasarkan, baru ada pemesanan. Tahun ketiga dan keempat, biasanya booming. “Setelah booming, pasti ada masa stagnan. Mau turun, kita munculkan lagi yang baru,” tambahnya.

CMC Tiga Warna sebenarnya punya 10 spot yang bisa dikunjungi. Estimasi Saptoyo, kalau dimunculkan satu per satu bisa untuk 60 tahun ke depan.

Pantai Tiga Warna sebenarnya yang paling eksklusif dikunjungi saat ini. Itu jika dibandingkan Pantai Clungup dan Pantai Gatra. Disebut eksklusif karena pengunjung hanya diperkenankan dua jam berada di pantai kecil ini. Bahkan dibatasi hanya 100 pengunjung perhari. Padahal garis pantainya pendek. Cuma 135 meter. Di sini dipersilakan kalau mau snorkeling, diving, dan menaiki banana boat. Kedalaman untuk menyelam antara 4 sampai 7 meter.

Pantai ini disebut tiga warna karena gradasi kontur dasar pantainya. Hijau, biru, dan warna pasir antara putih dan cokelat. Airnya sangat jernih menimbulkan garis pemisah. Menunjukkan terumbu karang kedalaman, pantai berpasir, dan dangkal berpasir.

Setiap dua jam itu jumlah pengunjung dibatasi untuk proteksi. Mengingat di dalam air ada terumbu karang, dan padang lamun. Yayasan ini juga membangun Marine Protected Area (MPA) di situ. “Proteksinya harus lebih kuat,” tegas Saptoyo. Mereka khawatir pengunjung menginjak terumbu karang. Potensi terinjak hingga patah itu sangat tinggi bila pengunjung over capacity. Padahal kalau memulihkan terumbu karang yang bentuknya seperti jahe itu dalam setahun hanya tumbuh 10 cm. Kalau terumbu karang jenis batuan setahun hanya 1 cm. Bahkan para nelayan juga dilarang mengambil ikan di depan Pantai Tiga Warna. Diproteksi 5 hektare agak ke kanan.

Aturan dua jam ini hanya berlaku di Pantai Tiga Warna. Di Pantai Clungup dan Pantai Gatra lebih bebas. “Kalau hutan mangrove (di Clungup dan Gatra, red) tidak mungkin juga ditebangi oleh pengunjung,” sebut Saptoyo, menjelaskan kenapa di dua pantai ini lebih bebas.

Lia Putrinda menegaskan pembatasan jumlah pengunjung ini demi quality tourism. Diakuinya, ini justru berbanding terbalik dengan strategi Kemenparekraf. Biasanya ingin menarik turis sebanyak-banyaknya di tanah air. “Tapi, kami juga menginspirasi bidang minat khusus dari Kemenparekraf. Ayo ekowisata ini ditumbuhkan. Kalau ingin menjaga ekologi dan ekosistem berimbang,” tambah putri kandung Saptoyo tersebut.

Waktu kunjungan juga ditutup setiap hari Kamis. Pada libur Nataru dan Idulfitri juga tutup. Pas tutup kunjungan itu, mereka memindahkan minat tamu ke destinasi lain.

Sebelum pandemi Covid-19, CMC Tiga Warna dikunjungi 5 ribu hingga 6 ribu orang. Setelah pandemi, di angka 3 ribu hingga 4 ribu per bulan.

Kalau Sabtu-Minggu, setelah pandemi, pengunjung dadakan bisa masuk hanya kemungkinan 60 persen. Sebaiknya reservasi tujuh hari sebelumnya. Lewat WhatsApp dan telepon ke nomor 081333777659. Lewat website tidak lagi, karena sudah pernah dicoba. Terkendala jaringan.

Menuju ke Pantai Tiga Warna bisa dilakukan dengan dua cara. Bisa nyeberang dengan perahu, atau tracking. Pilih sistem paket, bisa pula regular. Khusus satu perahu untuk menyeberang dikenakan tarif Rp100 ribu. Bisa untuk 8-10 orang. Tapi, itu baru ongkos satu perahu saja. Belum termasuk tarif tiket dan bayar jasa pemandu. Tiket masuk Rp10 ribu per orang. Jasa pemandu setiap rombongan Rp150 ribu. Maksimal untuk sepuluh orang. Lebih dari 10 orang, tambah pemandu lagi. “Dengan cara ini kami bisa mengawasi hutan secara konsisten, ketika semakin banyak masyarakat yang terlibat menangani dan jadi pemandu,” terang Saptoyo. Ada 109 anggotanya yang kini menjalankan operasional di lapangan.

Rombongan peserta karya tulis Porwanas menuju ke Pantai Gatra dengan cara tracking. Jalan kaki. Namun, dari pos 1 hingga pos 2, Arik menawarkan naik Viar. Motor roda tiga. Di bak belakangnya disediakan dua kursi memanjang. Duduknya berseberangan. Persis naik angkot. Muat 8 orang. Berdesakan bila lebih.

Mendekati pos 2 ada tempat parkir. Hanya buat motor pengunjung. Kalau untuk parkir mobil hanya tersedia di pos 1. “Di pos 2 ini kalau Sabtu dan Minggu, kami melibatkan ibu-ibu. Buat menanyakan barang bawaan yang berpotensi menjadi sampah,” ungkap Arik. Sengaja melibatkan ibu-ibu, bukan pemuda. Apalagi yang emosian. “Malah bisa berantem dengan pengunjung,” tambahnya.

Di pos 2 menuju ke Pantai Clungup dan Pantai Gatra harus jalan kaki. Cukup jauh. Ada tanjakan dan turunan. Melewati jalan yang sudah dibatako. Bantuan dari lembaga dari Singapura.

Di tengah perjalanan ada jalanan berpasir. Ada ikon CMC di situ yang bisa buat foto-foto. Namun, jalan berpasir ini bisa basah bila air laut sedang pasang. Bahkan airnya sampai selutut. Di samping kanan dan kirinya tumbuh mangrove. Ada pula tempat pembibitan mangrove di sekitar itu.

Usai melewati jalan berpasir, jalan menanjak dari batako lagi. Arik berikutnya menawarkan berbelok ke kanan memasuki Pantai Clungup. Semacam teluk. Tapi, pasir semua. Clungup itu bahasa sederhananya lidah. Kalau ditengok dari citra satelit, teluk berpasir ini seperti lidah. Bila airnya pasang, semuanya terendam. Pas dilintasi Selasa siang itu, air sedang surut.

Mendekati muara, Arik mengarahkan belok kiri menaiki jalan setapak. Bertemu jalan batako lagi. Menuju Pantai Gatra. Bertemu teman-teman peserta fotografi yang lebih dulu menjelajahi pantai ini.

Pantai Gatra ini juga seperti teluk. Pasirnya berwarna kecokelatan. Terlihat bersih. Airnya juga lebih tenang. Tidak bergelombang seperti di muara. Terlihat dari jauh, ombaknya besar.

Di Pantai Gatra ada sewa kano. Ada yang Rp25 ribu, ada Rp50 ribu. Tergantung panjang dan jumlah tempat duduknya.

Di sini juga bisa camping. Area untuk tenda sudah dipatok, dan berjarak. Ada penandanya, berupa angka-angka. Kalau pasang tenda menginap per malam bayar Rp30 ribu.
Toiletnya tersedia. Tarifnya Rp3 ribu untuk sekali kencing. “Saya jaga dari pagi sampai pukul 16.00 sore saja,” kata Suwarti, penjaga toilet. Bergantian dengan yang lain.

Kondisi toiletnya masih sederhana. Jangan mengharap bilas diguyur air shower usai berbasah-basahan kena air laut. Air dalam toilet ditampung di ember. Kalau mau mandi juga ngambil airnya di situ.

Pantai ini indah untuk ajang foto-foto. Rindang juga. Tapi, situasinya berbeda 20 tahun yang lalu. Gundul. Hutannya dibabat habis. Mangrove yang hidup di pantai juga ditebangi. Yayasan Bhakti Alam Sendang Biru berusaha memperbaikinya perlahan. Meskipun di awal sebelum terbentuk yayasan, perjalanannya tidak mudah. Saptoyo ditangkap polisi di tahun 2015. Ditahan tiga hari dua malam. Rumahnya juga digeledah. Banyak pihak tidak senang. Kegiatan menanam mangrove yang digerakkannya dianggap ilegal. Padahal niatnya mulia. Sebagai Pokmaswas alias pengawas pelaksana di lapangan, menggerakkan para pemuda melakukan penghijauan. Kasus yang menimpa Saptoyo ini sampai jadi objek diskusi hukum di Universitas Brawijaya. Setelah polemik perizinannya dibereskan, yayasan ini dipersilakan Perhutani untuk mengelolanya.

Konsep menjaga lingkungan inilah yang membuat CMC Tiga Warna mencuri pusat perhatian global. Lia berharap bisa menginspirasi kawan-kawan pengelola pantai di pulau lain. Termasuk di Kalimantan yang masih punya hutan lebih bagus. “Jangan sampai ceritanya terbalik seperti kami di sini. Kehilangan dulu (gundul, red), baru menjaga,” pesannya. Apalagi menghijaukan yang gundul itu perlu 10 tahun. “PR kami sekarang menjaga yang hijau ini berlanjut,” tegasnya.

Lokasi ini dipilih panitia sebagai salah satu objek liputan karena terkait dengan kehadiran Jalan Lingkar Selatan (JLS) dari Banyuwangi di Jatim hingga ke Banten. Khusus di Malang Raya bagian selatan, jalan baru beraspal ini membentang dari wilayah Sendang Biru hingga perbatasan Blitar.

Proyek strategis nasional itu membuka akses puluhan objek wisata pantai. Selain Pantai Tiga Warna, di Kecamatan Sumbermanjing Wetan juga terdapat Pantai Tamban, Pantai Watu Leter, Pantai Sendiki, Pantai Sendang Biru, dan Pantai Goa Cina. Di Kecamatan Donomulyo terdapat Pantai Pulodoro, Pantai Ngliyep, Pantai Bantol, dan Pantai Kedung Celeng. Di Kecamatan Bantur bisa datang ke Pantai Kondang Merak, Pantai Banyu Meneng, Pantai Mbehi dan Teluk Bidadari, Pantai Selok, dan Pantai Balekambang. Di Kecamatan Ampelgading ada Pantai Licin. Di Kecamatan Tirtoyudo bisa berkunjung ke Pantai Sipelot, dan Pantai Lenggoksono. Sedangkan di Kecamatan Gedangan bisa menemukan Pantai Batu Bengkung, dan Pantai Bajul Mati.(dye)

loading...

BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers