MANAGED BY:
MINGGU
29 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BANUA

Sabtu, 26 November 2022 14:33
Replika Rumah Lanting Nasibmu Kini, Dulu Dirawat, Kini Dibiarkan Rusak
BARANG PINJAMAN: Replika rumah lanting di dermaga wisata religi Kubah Makam Habib Basirih. FOTO:WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Kondisi replika rumah lanting di dermaga wisata religi Kubah Makam Habib Basirih masih rusak. Kelompok sadar wisata (Pokdarwis) setempat, berencana mengembalikan bangunan itu ke tempat asalnya. Namun sang pemilik justru menolak.

Hampir tak ada yang berubah selain eceng gondok yang sudah tampak berkurang. Gulma yang semula mengelilingi dan menyasar bagian teras bangunan itu sudah dibersihkan oleh warga pada Rabu (23/11) tadi. 

“Dinas Kebudayaan Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata (Disbudporapar) dan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Banjarmasin datang melakukan peninjauan,” ucap salah seorang warga, Ahmad Taufik, (25/11) siang. “Kami lalu disuruh membersihkan gulma yang ada. Tapi, kerusakan rumah lanting itu belum diperbaiki,” tambahnya.

Ya, memang belum ada perbaikan. Masih ada kerusakan di sana-sini. Beruntung, air sungai sedang surut. Bangunan itu tampak seperti mengapung dengan sempurna. 

Berbeda bila air sedang pasang. Maka tidak menutup kemungkinan bangunan itu akan kembali miring. Akibat salah satu pelampung yang terbuat dari drum plastik di bagian bawah bangunan itu terlepas.

Buktinya, salah satu drum yang terlepas itu masih berada di teras replika rumah lanting.

Air sungai juga bakal menyasar ke lantai bangunan tersebut, hingga membuat tenggelam sebagian terasnya.

Apabila dibiarkan lebih lama lagi tanpa ada perbaikan, tinggal menunggu waktu, maka bangunan itu bakal tenggelam ke dasar Sungai Martapura.

Dahulu, replika rumah lanting ini tidak berada di dermaga tersebut. Tapi, berada di kawasan Kelurahan Mantuil, Kecamatan Banjarmasin Selatan. Tak begitu jauh dari kawasan Jembatan Pulau Bromo. 

Namun, ketika Pemko Banjarmasin mengikuti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) beberapa bulan yang lalu, replika rumah lanting itu lantas diletakkan ke Kelurahan Basirih.

Sederhananya, bangunan itu dipinjam. Tujuannya, agar menambah keindahan kawasan wisata religi, Makam Kubah Habib Basirih ketika tiba waktunya penilaian.

Benar saja, selaku penilai langsung, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) RI , Sandiaga Salahuddin Uno, pun bertandang ke kawasan tersebut.

Hasilnya kemudian, Pemko Banjarmasin diganjar Juara Harapan Pertama. Sayang, seusai penilaian hingga gelar juara diraih, keberadaan replika rumah lanting itu justru seakan tak lagi terurus. Hingga mengalami kerusakan.

Bahkan, kerusakan itu sudah berjalan dua bulan lamanya. Di sisi lain, pemko melalui disbudporapar bukan tidak mengetahui kondisi itu. Mereka justru sangat mengetahuinya.

Kepala Disdbudporapar Banjarmasin, Iwan Fitriadi bahkan mengatakan, pihaknya sudah berulang kali melalukan peninjauan. Sayangnya, tak bisa berbuat apa-apa. Alias tak bisa menggelontorkan anggaran dana perbaikan. Alasannya karena terganjal aturan. Lantaran bangunan itu sudah bukan milik disbudporapar lagi. Melainkan, sudah dihibahkan kepada pihak pokdarwis.

“Kami tidak boleh menganggarkan dana perbaikan, terhadap aset yang bukan milik kami lagi. Atau yang sudah kami hibahkan,” ucap Kepala Disbudporapar Banjarmasin, Iwan Fitriyadi, Selasa (22/11) petang. “Kalau tetap kami anggarkan, itu pelanggaran,” tekannya. Kendati demikian, Iwan menekankan, pihaknya tidak akan tinggal diam. Ia juga telah meminta Bidang Pariwisata di dinasnya mencari alternatif lain, untuk memperbaiki bangunan tersebut.

Ia bilang, saat ini, sedang mencarikan bantuan dalam bentuk lain untuk perbaikan replika rumah lanting itu. Misalnya, CSR dari perusahan-perusahaan yang ada di Banjarmasin, dan bersedia membantu. Adanya upaya itu juga dibenarkan oleh Ketua Pokdarwis Kelurahan Basirih, Husin Luthfi, ketika diwawancarai Radar Banjarmasin, Kamis (24/11) siang.

Ia juga membenarkan, bahwa rumah lanting itu dipinjam dari Pokdarwis Kelurahan Mantuil, ketika Menparekraf RI, Sandiaga Salahuddin Uno, bertandang ke kawasan yang dikelolanya.

“Untuk menambah keindahan kawasan wisata,” ucapnya.

Sebenarnya, seusai acara, Husin mengaku hendak langsung mengembalikan ke Kelurahan Mantuil. Namun menurutnya, pemilik rumah lanting (Pokdarwis Kelurahan Mantuil) justru masih ingin menitipkan asetnya di kawasan desa wisata religi itu.

Alasannya, menurut Husin, lantaran Pokdarwis Kelurahan Mantuil, mendapatkan bantuan berupa dermaga.

“Jadi rencananya, ketika dermaga selesai dibangun, baru replika rumah lanting itu dibawa kembali ke Kelurahan Mantuil,” jelasnya.

Seiring berjalannya waktu, dituturkan Husin, pembangunan dermaga di kelurahan tersebit masih berlangsung. Dan saat itu pula, rupanya replika rumah lanting itu justru mengalami kerusakan. “Kami, tidak mempunyai hak untuk memperbaiki karena bukan milik kami,” ujarnya. Lalu, ia juga menekankan bahwa mengingat statusnya bukan lagi milik pemerintah, saat peninjauan pada Rabu (23/11) lalu pun, memang tidak ada perbaikan yang dilakukan.

“Segala sesuatu yang terjadi, tanggung jawabnya ada pada si pemilik,” tekannya. “Tapi, pemerintah punya perhatian. Agar kerusakan tidak semakin parah, dari dinas yang melakukan peninjaun, mencoba mencarikan solusi,” tambahnya.

Apakah solusi yang dimaksud, salah satunya mencarikan dana bantuan dari CSR perusahaan? Husin mengiyakan. Lantas, apakah ada rencana atau kapan replika rumah lanting itu bakal dikembalikan ke tempat asalnya? Husin mengatakan pihaknya masih berkoordinasi.

Ia menekankan, ketika pembangunan dermaga di Kelurahan Mantuil sudah selesai, atau ketika Pokdarwis Kelurahan mantuil sudah siap menerima, maka pihaknya pun bakal mengembalikan bangunan tersebut.

Terpisah, Radar Banjarmsin mengkonfirmasi kondisi yang dialami replika rumah lanting, itu ke Ketua Pokdarwis Kelurahan Mantuil, Hamdani. Di luar dugaan, ia justru mengatakan bahwa pihaknya tak ingin menerima kembali bangunan itu. “Yang pasti, kalau dalam kondisi rusak seperti itu, saya tidak menerima,” tegasnya ketika dihubungi Radar Banjarmasin melalui sambungan telepon, Kamis (24/11) petang. 

Lalu, apakah bila sudah diperbaiki, pihaknya bersedia menerima bangunan itu? Hamdani, rupanya juga mengatakan tidak mau. “Rencana, mau saya hibahkan saja ke kawasan wisata religi Kubah Makam Habib Basirih,” ungkapnya.

Alasan Hamdani, sewaktu penilaian ADWI, replika rumah lanting itu dijadikan home stay alias rumah hunian namun dengan konsep penginapan terapung. “Bila justru ditarik kembali ke Kelurahan Mantuil, bagaimana nanti bila dicari orang? Jadi, biarkan saja di sana (kawasan wisata),” ujarnya.

Alhasil menurutnya apabila Pokdarwis Kelurahan Basirih memperbaiki, maka biarlah bangunan tersebut berada di situ. “Biar jangan ada kebohongan. Kan waktu penilaian ADWI, saat menparekraf datang, kebetulan saya ada di situ, replika rumah lanting itu termasuk dalam penilaian juga,” jelasnya.

“Jadi beberapa waktu lalu, saya meminta agar bangunan itu diperbaiki tapi tetap berada di sana. Menambah keindahan kawasan wisata religi,” tambahnya. Hamdani, juga mengatakan bahwa pihaknya sudah berkomunikasi dengan disbudporapar, juga Ketua Pokdarwis Kelurahan Basirih.

Diketahui, ada dana yang masuk di kawasan wisata religi itu. Salah satunya, dari usaha parkir yang dijalankan pihak Pokdarwis Kelurahan Basirih.

“Rencananya, sebagian dana dari penghasilan parkir itu, bakal dipakai untuk memperbaiki kerusakan replika rumah lanting,” bebernya.

“Kami mengikhlaskan saja bangunan itu. Supaya jangan ada pembohongan,” pungkasnya.

Mengingatkan pembaca. Pembangunan replika rumah lanting itu digagas pada tahun 2020 lalu. Pembangunananya ada di dua kawasan. Di Kelurahan Sungai Jingah dan Kelurahan Mantuil.

Bila di Kelurahan Sungai Jingah berbentuk galeri terapung, di Kelurahan Mantuil replikanya rumah lanting yang dibangun berbentuk seperti intan.

Pendanaannya, bersumber dari pemerintah pusat. Bentuk apresiasi, lantaran pemko dipandang cukup responsif terhadap pergeseran anggaran untuk penanganan Pandemi COVID-19. Perunitnya menelan biaya Rp195 juta. Dibangun dengan tujuan menarik perhatian wisatawan. Kemudian, juga digunakan untuk sarana dan prasarana kepariwisataan di Daerah Tujuan Wisata (DTW) berbasis masyarakat.

Lalu, bagaimana dengan kondisi replika rumah lanting di kawasan Kelurahan Sungai Jingah? Replika yang satu ini masih tampak mengapung. Tapi, kondisi juga tak kalah tidak terurus. Sebagian ornamen huruf yang bertuliskan Galeri Terapung tampak sebagian hilang. Di dalam bangunan, sampah beserakan. Dan tak ada satu pun benda-benda kerajinan tangan yang dipajang di situ.

Di sisi lain, lokasinya galeri terapung itu juga bergeser dari lokasinya semula. Dari yang sebelumnya berada persis di kawasan dermaga air milik Dishub Banjarmasin, kini berpindah agak ke ujung jalan di kelurahan tersebut. (war)  

 

loading...

BACA JUGA

Rabu, 09 September 2015 10:31

Sukseskan Pilkada di Kotabaru

<p><br />KOTABARU - Penjabat Bupati Kotabaru Dr Ir H Isra meminta semua elemen masyarakat…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers