MANAGED BY:
MINGGU
29 JANUARI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Jumat, 06 Januari 2023 12:27
“Karena Mereka Adalah Kita” dari Film Tegar dan Realitanya di Banjarmasin
BERTEMU: Akbar (kanan) ketika mendengarkan curhat si Tegar. Film yang judulnya diambil dari nama tokoh utama itu menceritakan tentang mimpi seorang anak berkebutuhan khusus. | FOTO: WAHYU RAMADHAN/RADAR BANJARMASIN

Dibuka dengan tangisan bayi, film berjudul Tegar menyadarkan kita semua. Disabilitas bukanlah mereka yang memiliki keterbatasan. Mereka hanya terlahir berbeda dari orang-orang kebanyakan.

– Penulis: WAHYU RAMADHAN

 

Film itu berdurasi lebih dari satu jam. Menceritakan tentang sosok Satria Tegar Kayana alias Tegar, diperankan oleh M Aldifi Tegarajasa. Seorang bocah berkebutuhan khusus yang menginginkan bisa berbaur seperti bocah kebanyakan. Ingin menjalin pertemanan, juga tentu saja sekolah. Demi meraih cita-cita.

Sayang dalam perjalanannya, hal itu tak serta merta bisa diraih oleh Tegar. Meskipun lahir dan hidup dari keluarga berada, Tegar hanya ‘dikurung’ di rumah oleh sang ibu yang diperankan oleh Sha Ine Febriyanti. Tak diperkenankan berinteraksi dengan siapapun.

Sang ibu tampak malu dengan kondisi anaknya itu. Tegar sejak lahir tidak punya lengan. Ia punya dua kaki, tapi salah satu kakinya juga tak tumbuh sempurna. 

Setiap hari, segala kebutuhan Tegar dipenuhi seorang pramuwisma (pembantu rumah tangga, red). Namanya Teh Isy. Diperankan oleh Juanita Chatarina.

Di rumah, Tegar hampir tak pernah berinteraksi dengan sang ibunda. Beruntung, ada sang kakek yang bertindak laiknya seorang teman, juga orang tua. Sosok kakek itu bernama Felix Jaban Kayana. Seorang pengusaha sukses. Diperankan aktor kondang, Deddy Mizwar.

Felix tak pernah sekalipun memandang cucunya itu sebagai penyandang disabilitas. Ia memperlakukan cucunya itu layaknya bocah pada umumnya. Tegar diajarinya membuat origami, berenang, bersepeda, melukis, dan lain sebagainya.

Ketika ada tamu bisnisnya yang datang ke rumahnya, Tegar juga digendongnya. Diperkenalkannya. Hingga sampai suatu ketika, saat usia Tegar menginjak 10 tahun, bocah itu meminta kado ulang tahun yang tak terduga. Ia bilang ingin sekolah. 

Diskusi perdebatan antara kakek dan ibunya Tegar pun mengemuka. Sang ibu mengatakan bahwa Tegar tak perlu pergi ke sekolah. Sang ibu khawatir, anaknya justru mendapat perlakuan buruk atau stigma di lingkungan sekolah. Jadi, cukup gurunya saja yang didatangkan ke rumah mereka.

Pemikiran itu lantas ditepis oleh Felix. Sang kakek bilang, apa yang dipikirkan anaknya itu sungguh keliru. Anak perempuannya itu dianggap hanya tak ingin menanggung malu melihat kondisi Tegar.

Sebaliknya, Felix menganggap bahwa ketika cucunya itu sekolah, membaur dengan anak-anak yang lain, justru sangat diperlukan Tegar untuk tumbuh kembangnya ke depan. “Kamu sama sekali tidak mengerti anakmu,” ujar Felix. “Kamu hanya justru mengedepankan kesempurnaan,” tegasnya, seraya meninggalkan ibunya Tegar. 

Malam hari, di kamar Tegar, sang kakek memberikan kue dan kado ulang tahun. Kado itu berisi seragam sekolah. Felix mengatakan besok pagi, Tegar akan berangkat sekolah. Itu tentu membuat Tegar bahagia. Malam semakin larut, keduanya terlelap. Sayang ketika pagi datang, sang kakek tidur selama-lamanya. Kini, Tegar merasa kian sendiri. Kakek yang mendukung penuh keinginannya tak ada lagi. Sang ibu justru sibuk dengan urusan bisnisnya. 

Urusan Tegar pun dititipkan ke pramuwisma. Sembari berpesan, agar Isy terus menjaga Tegar. Mengurus semua keperluannya. Tegar tentu tak diizinkan berinteraksi dengan orang lain. Bagaimanapun juga, Tegar punya kemauan keras. Saat Esy pulang kampung, Tegar memutuskan kabur dari rumah. Susah payah, ia berhasil sampai di perkotaan. Hingga akhirnya tak sengaja dipertemukan dengan Akbar. 

Akbar yang diperankan Prihartono Mirsaputra, juga disabilitas. Kondisinya fisiknya tak jauh berbeda dengan Tegar.  Bedanya, Akbar adalah lelaki dewasa. Pekerja keras. Selama itu halal, pekerjaan apapun dilakoninya. Mulai dari menjahit sampai menyanyi di kafe. Tentu agar bisa meneruskan hidup, menafkahi keluarga.

Akbar juga sosok ayah dari seorang anak bernama Imam, yang diperankan oleh M Adhiyat. Seorang bocah yang bersikap sangat lapang. Merangkul siapapun yang hendak menjalin pertemanan. Tanpa memperdulikan apapun.

Di pertemuan dengan Akbar itu, Tegar menuturkan kisahnya, sekaligus menyampaikan keinginannya untuk sekolah. Lelaki itu pun akhirnya bersedia membawa Akbar mendaftar sekolah. Di sisi lain, Akbar juga terenyuh ketika mendengar kalimat yang dituturkan Tegar. Kalimat penyemangat dari almarhum sang kakek. Lantaran kehidupan Akbar yang tergolong pas-pasan, Tegar dimasukkan ke sekolah melalui jalur beasiswa.

Film drama Indonesia garapan Anggi Frisca dan diproduksi oleh Aksa Bumi Langit dan Citra Sinema itu sebenarnya masih panjang. Tapi, setidaknya itulah cuplikan film yang ditayangkan di Bioskop XXI, Duta Mall Banjarmasin (22/12) siang. 

Di Banjarmasin, film itu ditayangkan secara khusus di satu studio. Penggagasnya, KUN Humanity System. Sebuah organisasi di Indonesia yang bergerak di bidang sosial. Di Kalsel digagas oleh volunteer-nya yang ada di Kabupaten Tapin. Penayangan film itu juga bekerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan. 

(22/12), satu studio itu seperti sesak dengan penonton. Kalaupun ada kursi penonton yang kosong hanya beberapa saja. Berdasarkan keterangan pihak pelaksana, tak kurang dari 120 pasang mata menyaksikan film tersebut. Penonton datang dari berbagai kalangan. 

Namun, mayoritas mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Banjarmasin. Rika adalah salah satunya. Dia mengaku terharu ketika menyaksikan film tersebut. Bagi mahasiswi semeter VII di Uniska Banjarmasin itu, film tadi memberikan banyak pelajaran.

Mengingatkan kita untuk tidak memandang sebelah mata para penyandang disabilitas. “Karena mereka, juga adalah kita,” ucapnya, sembari menyeka air mata yang sempat jatuh ke pipi.

Mahasiswi jurusan Administrasi Publik di Uniska Banjarmasin itu mengakui hingga saat ini, ada stigma yang masih melekat apabila melihat para penyandang disabilitas. “Padahal, itu sungguh tidak baik. Semestinya kita tidak membeda-bedakan orang lain,” ujarnya. Contohnya, menurut Rika, bukan hanya bisa dilihat dari sosok Tegar. Tapi, juga sosok Pak Akbar. “Lalu, juga bocah bernama Imam yang menyambut baik Tegar dengan tangan terbuka,” sebutnya.

Account Representative Khusus dari BPJS Ketenagakerjaan, Nanang Rahmatullah juga menyampaikan disabilitas bukanlah keterbatasan. Tapi, hanya sebuah kondisi di mana sebenarnya tetap bisa melakukan apapun.

“Kami tak pernah membeda-bedakan. Termasuk karyawan kami sendiri. Saat rekrutmen pun, kami membuka kesempatan untuk para penyandang disabilitas,” ungkapnya.

“Melalui penayangan film ini, kami pihak BPJS Ketenagakerjaan ingin menekankan hal itu,” ujarnya. “Di tempat kami, jargon kerja keras bebas cemas itu nyata adanya. Pekerja yang mendaftar pun ada disabilitas. Mereka produktif,” nilainya. “Mereka juga bisa kami lindungi. Baik itu jaminan kecelakaan kerja, jaminan kematian, dan jaminan lainnya,” terangnya.

Volunteer KUN Humanity System, Anggraini juga mengakui masih adanya stigma yang melekat pada para disabilitas. Ia bilang menghapus stigma itu cukup sulit, lantaran masyarakat punya pemikiran masing-masing. Kendati demikian, bukan berarti hal itu tak bisa dilakukan. Menurutnya, ada banyak upaya yang bisa ditempuh. “Gerakan menonton bareng film dengan isu disabilitas ini adalah salah satunya,” ujarnya, ketika ditemui seusai penayangan film tersebut. 

Volunteer yang berdomisili di Kabupaten Tapin itu menekankan bahwa film Tegar adalah pengingat. Para disabilitas juga mempunyai hak yang sama seperti masyarakat pada umumnya. Anggraini lantas mengutip salah satu dialog dalam film tersebut. Ia bilang persoalan yang kita anggap mudah, belum tentu bagi orang lain. “Demikian pula sebaliknya, yang kita anggap susah atau sulit, belum tentu bagi orang lain,” pungkasnya.

Database Potensi Disabilitas Harus Terbuka

Dewan Pertimbangan Himpunan Wanita Disabilitas Indonesia (HWDI) Kalsel, Masni mengapresiasi pemutaran film Tegar di Kalsel. Perempuan 53 tahun itu bilang, film yang ditayangkan sangat bagus. Kendati demikian, bukan berarti tak ada catatan. 

Dia mengharapkan film itu nantinya juga bisa ditonton oleh SKPD terkait. Baik itu di lingkup Pemprov Kalsel, maupun Pemko Banjarmasin. “Dari film ini, tentu kita bisa melihat ada banyak hal yang bisa jadi masukan untuk pemerintah daerah,” ujarnya, kemarin (22/12).

Seperti pada film itu, begitu penting adanya fasilitas jalan yang khusus bagi para disabilitas. Lalu juga fasilitas pendidikan. 

Lantas, bagaimana dengan kondisi pemenuhan hak disabilitas di Kalsel, dan Banjarmasin khususnya? Masni mengatakan hal itu lumayan jadi perhatian pemerintah daerah. “Saya melihat, pemerintah daerah sudah berusaha keras agar disabilitas mendapatkan hak yang sama,” nilai perempuan yang juga menjabat sebagai Dewan Pertimbangan HWDI Banjarmasin itu.

Perlunya pemenuhan hak disabilitas di Banjarmasin juga diungkapkan anggota Komisi IV di DPRD Banjarmasin, Sukhrowardi. Ia bilang, dari segi regulasi, Pemko Banjarmasin sudah memiliki pondasi payung hukum yang menaungi disabilitas di Banjarmasin. Baik itu dalam bentuk pelayanan, fasilitas, maupun hal-hal lain yang berkaitan dengan hak mereka sebagai penduduk atau warga Kota Banjarmasin. Itu termaktub dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 9 Tahun 2013.

“Dengan begitu, kami berharap tak ada lagi perasaan yang membuat kaum disabilitas merasa tersisihkan alias dianaktirikan,” ujarnya, (22/12) petang.  Kendati demikian, politisi Partai Golkar itu juga memberikan catatannya. Ia bilang masih ada hal yang mesti dibenahi. Terkait database potensi kaum disabilitas yang belum transparan.

Ia mencontohkan pentingnya memiliki data tentang jumlah masyarakat berkebutuhan khusus di setiap kelurahan sampai tingkat kecamatan. Itu belum termasuk data bakat apa saja yang dimiliki oleh para disabilitas.

“Kami sudah lama mendorong SKPD terkait, dalam hal ini adalah Dinas Sosial Banjarmasin, untuk segera melakukan transparansi apapun yang berhubungan dengan disabilitas,” ujar Sukhro. “Data itu tidak pernah dibuka ke publik. Wajar jika masyarakat bertanya-tanya, apakah Banjarmasin sudah memang benar ramah disabilitas atau tidak,” tekannya. 

Menurut Sukhro, pemenuhan hak kaum disabilitas ini sebenarnya juga masuk dalam visi-misi Ibnu Sina dan Arifin Noor. Salah satunya program smart city yang bersinergi dan terintegrasi dengan masyarakat berkebutuhan khusus di Banjarmasin. 

Menurutnya, hal itu belum terlaksana secara benar. Ia menduga itu merupakan akibat dari pendataan dari SKPD yang masih belum dijalankan secara akurat. “Akhirnya berdampak pada pemerataan kesejahteraan bagi mereka (disabilitas, red),” tekannya.

Ia lantas berharap kepemimpinan Ibnu Sina-Arifin Noor di periode kedua ini bisa menuntaskan permasalahan tersebut. “Supaya program smart city yang selalu digaungkan itu memang benar-benar dirasakan masyarakat. Bukan malah justru seakan membuat disabilitas termarginalkan,” tegasnya. (war/mr-158/gr/dye)

loading...

BACA JUGA

Sabtu, 21 Januari 2023 14:24

35 Dapur Umum dan 21 Ekor Sapi Disiapkan di Haul Abah Guru Sekumpul Tahun Ini

Panitia haul ke-18 Guru Sekumpul di rumah pribadi Gubernur Kalsel…

Jumat, 06 Januari 2023 12:49

Mobil Komisioner KPU Murung Raya Terbakar, Ada yang Menduga Sengaja Dibakar

PADA zaman Kesultanan Banjar, rumah adat tipe balai bini dihuni…

Jumat, 06 Januari 2023 12:30

Balangan Punya Tradisi Unik Perkawinan Duda dan Janda, "Takumpul Sama Pada Balu Jangan Bahiri Nang Bujang"

Kabupaten Balangan memiliki sebuah tradisi dalam perkawinan antara duda dan…

Jumat, 06 Januari 2023 12:27

“Karena Mereka Adalah Kita” dari Film Tegar dan Realitanya di Banjarmasin

Dibuka dengan tangisan bayi, film berjudul Tegar menyadarkan kita semua.…

Selasa, 27 Desember 2022 10:37

Ketika Kampung Artis di Marabahan Ditinggal Pesohor

PERNAH mendengar nama Kampung Artis? Kampung ini berada di RT…

Senin, 12 Desember 2022 10:54

Walaupun Alurnya Berlika-liku

Usianya masih sangat muda, baru 18 tahun. Tapi umur tak…

Jumat, 04 November 2022 09:48

Banjarbaru 23 Tahun jadi Kota Administratif, Terlama di Indonesia

Sebelum akhirnya menjadi Kotamadya di penghujung tahun sembilan puluhan. Ada…

Jumat, 04 November 2022 09:45

Banjarbaru, Nama Sementara yang Dicetuskan Van der Pijl yang Kemudian Langgeng

Nama itu keluar secara spontan dari Van der Pijl ketika…

Jumat, 15 Juli 2022 11:24

Kisah Pencari Burung di Hutan Kotabaru dan Tanbu, Dipancing Pakai Burung, Ketemu Mahluk Gaib Diam Saja

Belum banyak orang tahu, mencari burung di hutan sangat banyak…

Selasa, 07 Juni 2022 11:22

Siti Farida, Perempuan Kalsel yang Rutin Berenang di Sungai Aare, Permisi Pada Penjaga Sungai

“Datu-Datu, ulun permisi handak bekunyung di sini.” Mantra itu diucapkan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers