MANAGED BY:
MINGGU
19 SEPTEMBER
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

FEATURE

Rabu, 14 September 2016 14:37
Kisah Para Honor yang Sukses Banting Setir ke Dunia Politik
BEKAS GURU - Syamsuri Arsyad membaca buku di ruangan Kantor DPRD Hulu Sungai Selatan.

Tidak semua guru atau pengajar yang banting setir dari dunia pendidikan bisa sukses di kancah perpolitikan di banua kita. Beberapa orang ini adalah pengecualian.

Karir Syamsuri Arsyad memang tergolong moncer. Di usianya yang baru beranjak 37 tahun kini sudah menjadi Ketua DPRD Hulu Sungai Selatan. Politisi PKS kelahiran HSS 8 Agustus 1979 silam ini cukup dikenal masyarakat setempat. Rumah dinasnya di Jalan Singakarsa, Kandangan, tak pernah sepi dikunjungi masyarakat setiap harinya, baik sekadar bertamu atau meminta bantuan dan penyampaian aspirasi masyarakat. Banyaknya masyarakat berkunjung kerumahnya tidak lepas dari pekerjaanya beberapa tahun lalu sebagai tenaga pengajar di SMKN 2 Kandangan. Sebelum aktif di dunia perpolitikan banua atau khususnya di Kabupaten HSS, Choe - demikian kerap disapa - memang adalah seorang guru.

Semenjak jadi anggota dewan memang banyak perubahan yang dialaminya. Mulai dari gaji yang didapatkan sampai tempat tinggalnya sekarang. Dulu dirinya hanya tinggal di kantor organisasi yang digelutinya selain menjadi menjadi pengajar. “Kalau dulu tidur ditempat organisasi-organisasi, alhamdulilah sekarang sudah ada rumah dinasnya,” ujarnya saat ditemui beberapa waktu lalu.

Diceritakan Choe, menjadi tenaga pengajar honorer di SMKN 2 Kandangan sebenarnya sesuatu yang diidamkan. Dia mengaku cinta mengajar. “Malah saya kalau tak mengajar tidak merasa hidup dan kurang bergairah. Ya mengajar itu bikin hidup lebih hidup,” imbuh pria yang hanya tamatan SMA ini.

Saking bersemangatnya mengajar kala itu dan dekat dengan siswa, tidak jarang gaji honorer yang didapatkannya sebesar Rp 125 ribu dipinjamkan untuk membayar SPP siswanya beberapa bulan karena alasan perekonomian. “Ada juga sampai sekarang siswa dibantu bayar SPP-nya belum bayar. Tapi karena dengan niat ikhlas membantu saya relakan saja sudah,” tutur Choe yang juga merupakan Ketua Kwarcab Pramuka Kabupaten HSS.

Bagaimana dengan menjadi politisi?
Choe menjelaskan, kelebihannya menjadi politisi, ia bisa memperjuangkan semua aspirasi dan keluhan guru bahkan sampai masyarakat. “Dukanya ya karena belum bisa bisa menyalurkan aspirasi yang disampaikan karena terbentur dengan mekanisme dari tugas dewan itu sendiri,” ucapnya.

Lalu bagaimana ceritanya bisa banting setir ke jalur politik? Padahal mengaku cita-cita menjadi guru. Pria yang juga sebagai Ketua DPD tingkat II PKS HSS ini mengatakan politisi sebenarnya bukanlah cita-citanya. Karena itu belum terpikirkan menjadi pemimpin di Kabupaten HSS. “Cita-citanya waktu kecil hanya menjadi guru. Kalau jabatan lebih tinggi dari Ketua DPRD, saya kira masih banyak yang lebih pantas dari saya untuk menjabat,” katanya sambil tersenyum.

Dirinya mengaku menjadi politisi karena ingin menyalurkan semua aspirasi yang disampaikan masyarakat kepada dirinya. Melihat banyaknya masyarakat menyampaikan aspirasi kepada dirinya, teman-temannya di suatu organisasi saat itu melihat dirinya tidak cocok sebagai seorang tenaga pendidik saja, sudah saatnya menjadi politisi.“Berkat dorongan teman-teman saya pun akhirnya mau menjadi politisi,” ujarnya.

Dituturkannya, guru dan politisi memang tidak dapat disamakan, sebab guru itu hanya bisa mengabdi untuk pendidikan saja.“Sedangkan berpolitik, semua aspek harus dilakukan,” imbuhnya.

Dikatakan Choe, meski sekarang sudah jadi politisi sukses, suatu saat nanti. Apabila sudah tidak menjadi anggota dewan tidak menutup kemungkinan dirinya akan kembali ke dunia pendidikan sesuai dengan cita-citanya dulu.

“Kalau sudah purna tugas bisa saja kembali ke cita-cita awal. Banyak yang bisa dilakukan untuk terus mengabdi untuk daerah,” ucapnya.

Selain Syamsuri, Ahmad Yani adalah salah satu contoh guru honorer yang banting setir menjadi politikus. Mantan guru honorer ini, sukses menjadi Ketua DPRD Kabupaten Tanah Laut periode 2014-2019.

Ahmad Yani menjadi guru honorer dari tahun 1990 hingga 1990 dengan honor sebesar Rp 70 ribu per bulan. Mantan guru honorer MTS 1 Pelaihari ini membeberkan, honor sebesar Rp 70 ribu untuk menghidupi anak dan istri.

“Ya dengan gaji segitu, karena ada tanggungan saya harus mencari pekerjaan yang lain. Honorer dahulu beda dengan sekarang. Meski sekarang kecil tapi ada tunjangan daerah. Dulu gaji yang didapat ya honor itu lah,” akunya.

Menurutnya, banyak suka duka saat menjadi seorang guru. Sukanya, ia mampu mengajarkan apa yang diketahui kepada siswa. Dukanya, adalah salary yang tidak mencukupi kehidupan berkeluarga.

“Banyak sukanya. Cukup dan tidak cukup itu relatif sih. Tapi apapun itu ya syukuri. Kalau saya terpilih jadi ketua DPRD sih itu karena takdir. Mana pernah saya berpikir untuk menjadi ketua DPRD,” pungkasnya.

Dijelaskan pria kelahiran Pabahanan, 10 Mei 1966 tersebut, menjadi seorang politikus juga tidak mudah. Banyak urusan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat yang harus disegarakan. “Saya tidak ada target. Mau jadi apapun terserah Tuhan saja,” katanya.

Untuk guru honorer, ia pernah membawa guru honorer ke KemPAN agar bisa diangkat menjadi ASN. “Untuk penambahan honor, tergantung kemampuan daerah. Saya mau saja memperjuangkan, tapi anggaran ada perhitungannya,” tuntasnya. (udn/eka/by/ran)


BACA JUGA

Sabtu, 18 September 2021 19:02

Misran, Pembakal Yang Jadi Pembicara Nasional

Berawal dari postingan video tentang Badan Usaha Milik Desa (BUMDes)…

Jumat, 17 September 2021 18:45

Sebentar Lagi Wisata Kampung Kuin Kacil Dibuka

Dulu Kuin Kacil cuma daerah terpencil di pinggiran kota. Sekarang…

Jumat, 17 September 2021 13:38

Shafa Nur Anisa, Putri Cilik Kalsel 2021 dari Tapin

Shafa Nur Anisa menorehkan prestasi membanggakan untuk Kabupaten Tapin. Ia…

Selasa, 14 September 2021 15:50

Syahridin, Kepala Desa Inspiratif dari Balangan

Keberadaan Pasar Budaya Racah Mampulang dan titian bambu atas sawah…

Selasa, 14 September 2021 15:44

Cerita Balai Bini Pengambangan: Diusulkan Cagar Budaya, Pernah Ditawar Turis Korea

Rumah almarhum pembakal Haji Sanusi di Kelurahan Pengambangan RT 11…

Kamis, 09 September 2021 13:56

Rumbih, Pengayuh Becak Populer yang Menjadi Youtuber

Sudah menjadi ciri khasnya, kemana-mana selalu bersama becak. Itu lah…

Kamis, 09 September 2021 12:27

Cerita Agen Koran di Era Digital: Malah Lebih Untung Menjual yang Bekas

Di era senja media cetak, ada agen koran di Banjarmasin…

Rabu, 08 September 2021 13:31

Sedotan Purun, Kerajinan Desa Banyu Hirang Yang Mendunia

Isu lingkungan mengurangi sampah plastik membuka peluang usaha sedotan organik…

Rabu, 08 September 2021 12:22

Menengok Fasilitas Isoter di Mulawarman: Cukup Bawa Perkakas Mandi

Seorang perawat berjalan melintasi lorong gedung. Berhenti di depan sebuah…

Senin, 06 September 2021 15:59

Dari Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin: Main Mamanda, Ibnu Jadi Raja

Pelantikan Dewan Kesenian Banjarmasin periode 2021-2026 diramaikan dengan pementasan kesenian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers