MANAGED BY:
JUMAT
05 JUNI
BANUA | HUKUM & PERISTIWA | BISNIS | RADAR MUDA | FEATURE | SPORT | RAGAM INFO | PROKALTORIAL | FEMALE

BISNIS

Kamis, 15 September 2016 10:06
Pasca Idul Adha, Harga Cabai Merah Turun Tapi Rawit Malah Naik
FLUKTUASI HARGA – Cabai ada yang mengalami kenaikan harga dan ada pula sudah turun setelah Idul Adha.

PROKAL.CO, BANJARMASIN – Harga cabai sempat sama-sama menanjak menjelang Idul Adha. Namun, cabai merah mulai beranjak turun setelah hari raya kurban. Sedangkan cabai rawit malah terus naik.

Disperindag Provinsi Kalsel mencatat harga cabai merah besar pada awal September dijual sebesar Rp 34 ribu per kilogram di Pasar Sentra Antasari, Pasar Kalindo, dan Pasar Sederhana. Namun, tanggal 13 September sudah naik menjadi Rp 43 ribu per kilogram.

Cabai rawit pada awal bulan September rata-rata Rp 47 ribu per kilogram. Menjelang Idul Adha jenis cabai ini sempat naik menjadi Rp 49 ribu per kilogramnya.

Suryani (16) sebagai pedagang Pasar Antasari mengungkapkan bahwa harga cabai merah ukuran besar masih dijual Rp 50 ribu per kilogram kemarin. Itu sudah turun karena menjelang Idul Adha lalu sempat menanjak Rp 65 ribu per kilogram.

Sedangkan cabai rawit berbeda. Menjelang Idul Adha dijual seharga Rp 37 ribu per kilogram. Namun sesudah hari raya Kurban, sebut Suryani, malah tetap naik menjadi Rp 40 ribu per kilogram.

Itu juga disampaikan pedagang cabai Siti Rasmah (43). Cabai merah turun sesudah hari raya, sebaliknya cabai rawit malah naik. Siti yakin belum masuknya pasokan membuat jumlah stok cabai rawit berkurang. Itu berimbas pada naiknya harga.

Kabid Dagri Disperindag Kalsel, Ir Hj Riaharti Zulfahani MS, mengatakan bahwa kebutuhan bumbu dapur meningkat setelah Idul Adha ini. Selain itu, pasokan dari Jawa belum masuk. “Di Kalsel pun belum panen, belum produksi. Itu informasi yang kami ketahui, pasokan menurun mengakibatkan harga cabai melambung tinggi di pasaran,” bebernya.

Kabid Pertanian dan Perkebunan Kalsel, Ir Rudian, menjelaskan bahwa cabai merupakan tanaman sampingan di Banjarmasin. Soalnya, lahannya kurang memadai. Produksi cabai otomatis sangat sedikit. “Makanya banyak pedagang yang menyuplai dari Jawa. Untuk cabai memang sangat rawan mengalami inflasi,” ucapnya. (mr-148/gr/dye)


BACA JUGA

Selasa, 15 September 2015 13:40

Gedung Sekolah Negeri di Banjarbaru Ini Hancur, Siswa Sampai Harus Kencing di Hutan

<p>RADAR BANJARMASIN - Ironis, itulah kata yang tepat menggambarkan kondisi SMPN 6 Banjarbaru.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers